Barter Model Atasi Defisit RAPBN 2021 Ekonomi Nasional

Berita Nusantara Politik

KORANBOGOR.com, JAKARTA, — Defisit anggaran RAPBN 2021 kisaran 3,21% – 4,17%, seperti paparan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, coba diatasi serta dipilih Presiden Joko Widodo melalui skema imbal dagang atau barter. Model ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional agar bisa semakin bergerak dan tumbuh.
Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto, dan Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, pun mulai menjajaki mekanisme pelaksanaan imbal dagang dengan beberapa negara mitra dagang tujuan ekspor.

“Tujuan imbal dagang untuk menyeimbangkan neraca perdagangan antara Indonesia dengan negara mitra dagang, sehingga bisa sama-sama mendatangkan devisa,” ujar Mendag Agus dalam keterangan Media, Minggu (19.7/20).

Dijelaskannya, komoditas yang dijadikan imbal dagang Indonesia berupa kelapa sawit, karet, permesinan, kopi dan turunannya, kakao dan turunannya, produk tekstil, teh, alas kaki, ikan olahan, furnitur, buah-buahan, kopra, plastik dan turunannya, resin, kertas, serta rempah-rempah.

Model barter
Skema imbal beli atau barter pernah dilakukan Indonesia & sejumlah negara lain. Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN, Indonesia) menukarkan dua pesawat hasil produksi BJ Habibie dengan 110.000 ton beras ketan dari Thailand, 1996.

Pada 1970, minuman bersoda Pepsi Cola (Amerika Serikat) ditukar dengan kapal perang, saus tomat dan vodka (Uni Soviet). Menyusul 2019, minyak sawit Malaysia ditukar dengan alat utama sistem persejataan asal Cina, Rusia, India, Pakistan, Turki dan Iran.

Indonesia pun pernah membarter pesawat tempur Sukhoi (SU-35) Rusia pada 2019 dengan komoditas berupa minyak kelapa sawit mentah dan produk turunannya seperti kopi, karet biskuit dan kopi. “Dalam perjanjian dagang tersebut Rusia diwajibkan membeli komoditas asal Indonesia sebesar 50% dari nilai pembelian Sukhoi,” ujar Dirjen Perdagangan Luarnegeri Kemendag, Oke Nurwan, waktu itu.

Penyaji : Iksan.

Editor : Dedy Kusnaedi