Catatan Tercecer RR ke-20 : Revolusi Mental versus Revolusi Akhlak

Politik

KORANBOGOR.com, JAKARTA,–Kepulangan Habib Rizieq Shihab, sejak umroh April 2017 ke Saudi Arabia, membawa pesan kepada kampung halamannya Indonesia untuk melakukan Revolusi Akhlak.

Alasannya, muslim yang berakhlakul karimah menjadi Rahmatan Lil Al-Amin alias kebaikan bagi seluruh alam.

Bagi muslim yang mukmin, tentu, sudah memahami soal akhlak. Nabi Muhammad SAW diutus Sang Khalik diyakini untuk membentuk akhlak yang baik dan benar.

Shalat beserta Rukun Islam yang lima, juga Rukun Iman yang enam, menjadi sarana pendidikan & pelatihan. Surau pun menjadi tempat ibadah, beradu argumen dalam Kajian Islami, hingga menata komunikasi Hablumminallah wa Hablumminanash yaitu hubungan manusia-Allah & manusia-manusia.

Karakteristik Islam, dalam tingkatan tertentu, sabar bukan berarti pasrah. Dan, di sinilah akhlak menentukan jalannya keber-agama-an. Mengutip budayawan yang antropolog, Kuntowijoyo, (1943-2005) menyebut: “Agama tidak bisa diatur oleh kekuatan politik, agama tumbuh tidak dengan logika kekuasaan. Agama itu seperti air, tidak bisa dibendung. Jika dibendung akan selalu mencari jalan untuk mengalir”.

Pastinya, daya tarik agama berbeda dengan daya tarik politik. Agama mempunyai vitalitas (daya hidup) yang berbeda dari politik.

“Kalau tidak di permukaan, agama akan bergerilya di bawah,” tulis Kuntowijoyo, dalam bukunya Identitas Politik Umat Islam, 1997 hal.198, sumber: Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamaddun.

Alhasil, penindasan terhadap agama justru sering menyuburkan agama.

Pertanyaannya, Revolusi Akhlak sama kah dengan Revolusi Mental? Manakah yang lebih mumpuni mempertahankan kehidupan berbangsa bernegara dalam koridor Ideologi Pancasila dan UUD 1945 asli, sebagaimana cita-cita para pendiri Republik Indonesia di bawah komando dwi-tunggal, Soekarno-Hatta?

Indonesia Raya

Indonesia sempat menikmati Revolusi Mental-nya versi tokoh ideologi komunis, Dipa Nusantara (DN) Aidit. Istilah ini juga digunakan pendiri Partai Komunis Tiongkok, Chen Duxiu bersama rekannya Li Dazhao, yang menurut Peneliti Pusat Kajian Politik Islam & Pancasila, Habib Alatas (Republika, Jumat, 27.6/14, ditujukan mencuci otak kaum buruh dan petani untuk menentang kekaisaran.

“Di Indonesia sendiri, istilah ini mulai dipakai oleh Ahmad Aidit, anak dari Abdullah Aidit, yang mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit)”.

Sementara Revolusi Mental-nya Presiden Joko Widodo (2014-2024) merupakan pengembalian karakter asli bangsa Indonesia yang santun, berbudi pekerti, ramah & bergotong royong, dari bermental korupsi, kolusi, nepotisme, etos kerja tidak baik, birokrasi bobrok, & ketidaksiplinan.

“Tapi saya juga ndak tahu kenapa, sedikit demi sedikit (karakter) itu berubah dan kita ndak sadar. Yang lebih parah lagi ndak ada yang nge-rem. Yang seperti itulah yang merusak mental,” ujar Jokowi diwawancara presenter Najwa Shihab di Balai Kartini, Jakarta, Jumat 17.10/14).

Kepastiannya, Revolusi Mental-nya Jokowi dengan Revolusi Akhlak-nya Habib Rizieq Shihab itu berbeda. Revolusi Akhlak tepat diterapkan di Indonesia, mengutip analisa Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin yang ditayangi JPNN (Rabu, 11.11/20).

“Terlebih akhlak para elite telah rusak. Terutama, usai mengeluarkan beberapa kebijakan yang tidak mendengarkan suara rakyat. Jadi memang perlu diperbaiki dan kami ini hidup di zaman yang sudah tercemar. Di mana kemunafikan dipertontonkan dan diperagakan oleh para penyelenggara negara”. Silakan pilih.*** RR

Penulis : Rinaldi Rais (RR), Wartawan al-Faqir, 10 November 2020

NOTE : Catatan Tercecer RR

ke-19 : Antara Covid19, Pilkada Serentak & Vaksin Bill Gates
ke-18 : Kami Bukan Kita & Kita Pasti Kami
ke-17 : Sang Pecundang, sebuah Trilogi Narsis (III)
ke-16 : Sang Pecundang, sebuah Trilogi Narsis (II)
ke-15 : Sang Pecundang, sebuah Trilogi Narsis (I)
ke-14 : Pilkada Depok. 2020, Akhir atawa Langgengkan Kuasa PKS
ke-13 : Kota Depok, Kau Mulai Kau Akhiri Covid-19
ke-12 : Covid-19, di tengah Herd Immunity & Skenario Hidup Normal
ke-11 : Covid-19, di tengah Peluang & Kehancuran
ke-10 : Covid-19, Pasukan Allah versus Manusia Sombong
ke-9 : Antara Ponzy, Hak Ulayat & Nurani Negarawan
ke-8 : Pilkada Depok 2020, Pertarungan PKS-PDIP
ke-7 : Fenomena Emak Emak
ke-6 : Kebablasan Indonesiaku
ke-5 : Stop!!! Tak Cukupkah Pahlawan Berkorban
ke-4. : Antara Kebenaran & Pembenaran
ke-3. : Pilih Presiden atawa Pesinden 2019
ke-2 : Freeport & Diplomasi Asing
ke-1 : ODGJ & Kegilaan Pemilu 2019