Di Solo,Isteri Pejabat Marah-Marah Saat Akan Didata Oleh Aparat Gabungan

Hukum Politik

KORANBOGOR.com,SOLO-Sebuah video viral di media sosial. Rekaman gambar berdurasi sekitar dua menit itu berisi penolakan seorang istri pejabat atas pendataan pemudik oleh petugas gabungan di Kota Solo. Wanita paruh baya itu marah-marah kepada petugas dengan nada tinggi.

Berdasarkan informasi, video itu direkam di Kelurahan Sondakan, Kecamatan Laweyan pada 30 Maret. Tim petugas TNI, Polri dan Satlinmas mendatangi rumah istri pejabat itu setelah mendapat laporan yang bersangkutan baru tiba dari Jakarta.

“Ada laporan dari warga, kalau ada yang datang dari luar kota. Lalu kami mendatangi dan melakukan pendataan ke rumah itu. Prinsipnya pendatang kan harus melakukan karantina mandiri,” kata Lurah Sondakan Prasetyo Utomo, Minggu (5/4).

Terpisah Wali Kota FX Hadi Rudyatmo menyayangkan penolakan tersebut. Rudy bahkan menilai jika sikap itu tidak layak dipertontonkan seorang istri pejabat.

“Suaminya saya telepon dan sudah saya suruh minta maaf kepada petugas. Wong sugih ya aja merendahkan petugas yang datang. Mereka itu berperan dalam memutus mata rantai penyebaran virus kok. Lha kok mentang-mentang,” tandasnya

Lurah Prasetyo mengakui warga yang tiba dari Jakarta pada 28 Maret itu keberatan dengan pendataan petugas TNI, Polri dan Satlinmas tersebut. “Mungkin merasa terganggu dengan prosedur tetap (protap) pendataan.”

Dalam video itu seorang perempuan melontarkan kalimat penolakan dengan nada tinggi. Bahkan wanita yang disebut istri pejabat itu menantang petugas untuk mendatangkan Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo ke lokasi itu.

Wanita itu keberatan dengan pendataan pemudik yang dilakukan petugas, namun petugas terus berupaya menenangkan perempuan itu dan menjelaskan maksud kedatangan mereka.

Prasetyo mengatakan, pemudik tersebut merupakan warga dengan KTP Solo, namun lama tinggal di Jakarta. Pendataan dan karantina selama 14 hari bagi pemudik dari zona merah persebaran Covid-19, termasuk Jakarta, merupakan prosedur yang ditetapkan Pemkot Surakarta.

“Mungkin karena salah paham. Kami sudah melakukan mediasi dengan yang bersangkutan dan warga sekitar. Mereka sudah minta maaf dan bersedia menjalani karantina mandiri dengan menandatangani surat pernyataan.’’

Prasetyo mengatakan untuk pemantauan selanjutnya akan dilakukan perangkat RT/RW, sementara petugas Puskesmas akan mengecek kondisi kesehatannya melalui video call.

Istri pejabat itu membandingkan beda pendataan dirinya dan warga lain yang masih lalu-lalang di depan rumahnya.

“Sangat keterlaluan, kecuali saya pengedar narkoba.

Resek, malah lebih resek dari Jakarta, nggak ada sopan santunnya. Saya nggak suka!,” kata wanita itu seperti dikutip detikcom.

“Kayak nggak tahu aja orang saya tinggal di sini lebih lama. Saya menikah tahun 93, terlalu dibesar-besarkan,” katanya. (Red)