Dukung Menteri BUMN ,HIPMI : Selanjutnya Pemerintah Berantas Monopoli Maskapai!

Hukum Politik

KORANBOGOR.com,JAKARTA—Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Mardani H.Maming mendukung langkah tegas Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir bersama dengan Dewan Komisaris Garuda Indonesia memberhentikan sementara jajaran direksi yang terlibat dalam penyelundupan Harley Davidson dan dua unit sepeda Brompton.

“Hipmi sangat mengapresiasi gerak cepat Menteri BUMN. Saya kira ini momentum yang tepat untuk membersihkan BUMN dari praktik-praktik tidak professional dan membahayakan industri penerbangan nasional,” ujar Maming di Jakarta dalam keterangannya.

Namun Maming mengingatkan, agar ‘bersih-bersih’ di Garuda ini dilanjutkan oleh pemerintah dengan memperbaiki struktur pasar penerbangan nasional. Menurut HIPMI, perilaku ugal-ugalan direksi Garuda dalam mengelola korporasi berawal dari hilangnya iklim persaingan diindustri penerbangan. “Akibatnya, direksi merasa di atas angin semua. Semua pesaing sudah tersingkirkan. Maka, muncul tabiat buruk, saatnya kita ugal-ugalan. Ini sangat berbahaya,” papar Maming.

Sebab itu, Maming berharap agar pemerintah membuka keran bagi pesaing-pesaing Garuda dan kawan-kawan. Dia mengatakan, saat ini maskapai-maskapai nasional telah terkonsolidasi ke dalam dua grup besar yakni Lion Group, yang beranggotakan Lion Air,Batik Air, dan Wings Air.  Kemudian, grup lainnya Garuda Group.

”Hanya dua grup ini yang menguasai (memonopoli) dan bagi-bagi pasar. Persaingan hilang.Dampaknya, pengelolaan manajemen korporasi semakin tidak hati-hati dan konsumen mengalami kenaikkan harga tiket yang luar biasa mahal,” papar Maming.

Belajar dari kasus Pertamina, maskapai semestinya tak dibiarkan tanpa pesaing kuat.

“Dulu Pertamina kinerjanya jelek sekali. Setelah dibuka keran pasar, Total, Petronas, Shell dan kawan-kawan masuk, malah dia (Pertamina) membenah diri dan layanan bagus,” ujar Maming.

Sebab itu, Maming meminta agar pemerintah merelaksasi regulasi pasar di industri penerbangan nasional. 

Dia khawatir bila dua grup maskapai penerbangan itu terus menguasai pasar Indonesia, maka akan timbul persaingan bisnis tidak sehat yang ujung-ujungnya merugikan konsumen. 

“Tambah lagi pemain-pemain dengan merelaksasi regulasi kalau memungkinkan. Pemainnya, jangan itu-itu saja,” ucap dia. (Red/rilis Hipmi)