Kejagung Cegah Tujuh Tersangka Korupsi Bank BTN Cabang Semarang dan Gresik Keluar Negeri

Politik

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Kejaksaan Agung (Kejagung) mencegah tujuh orang tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi Bank Tabungan Negara (BTN) cabang Semarang dan Gresik yang merugikan negara hingga Rp50 miliar. Tujuh tersangka itu dicegah ke luar negeri selama enam bulan ke depan sejak Januari 2020.

Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus Kejagung, Febrie Adriansyah mengatakan pencegahan terhadap tujuh tersangka tersebut dilakukan agar mereka tidak melarikan diri ke luar negeri selama proses penyidikan. Kejagung mengatakan sudah berkoordinasi dengan Imigrasi tentang pencekalan tersebut.

“Kami sudah berkoordinasi untuk mencekal tujuh tersangka itu selama enam bulan ke depan agar tidak melarikan diri ke luar negeri,” katanya di Kompleks Kejagung, Jakarta Selatan, Jumat (7/2/2020).

Tim penyidik Kejagung akan memeriksa para tersangka dan saksi terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi BTN cabang Semarang dan Gresik pekan depan untuk mengembangkan perkara tersebut. Jika ditemukan bukti dan keterangan kuat, Kejagung akan langsung menahan tersangka.

“Jadi memang para tersangka ini belum ditahan. Kita lihat minggu depan setelah para tersangka dan saksi diperiksa,” katanya.

Dalam kasus itu Kejagung telah menetapkan tujuh orang sebagai tersangka. Tiga dari tujuh tersangka itu merupakan pejabat di Bank BTN, sementara sisanya adalah pihak swasta.

Tiga pejabat BTN tersebut adalah pejabat Asset Management Division (AMD) sekaligus Ketua Serikat Pekerja BTN berinisial SW, AMD Head Area II Bank BTN berinisial S, dan AM selaku Kepala Unit Komersial Landing Bank BTN cabang Sidoarjo.

Dari empat orang tersangka pihak swasta, Febrie hanya menyebut tiga yaitu EGT dan ARR dari PT NAP serta LR dari PT LJP. Satu pihak swasta lagi belum disebutkan.

\Para tersangka diduga melakukan tindak pidana korupsi sejak Desember 2011. Saat itu BTN cabang Gresik telah memberikan fasilitas Kredit Yasa Griya (KYG) kepada PT. Graha Permata Wahana senilai Rp5 miliar dan menyebabkan kredit macet hingga Rp4,1 miliar.(Red)