Nilai Tukar Rupiah Rp15.912 per Dolar AS,Terlemah Sejak 1998

Hukum Nusantara Politik

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Nilai tukar rupiah berada di Rp15.912 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (19/3) sore. Mata uang Garuda melemah 4,53 persen dibandingkan perdagangan Rabu (18/3).

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp15.712 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi Rabu (18/3) kemarin, yakni Rp15.223 per dolar AS.

Rupiah tak sendirian, mayoritas mata uang di kawasan Asia juga terpantau melemah terhadap dolar AS. Tercatat won Korea melemah 3,22 persen, rupee India 1,04 persen, dan ringgit Malaysia 0,78 persen.

Selanjutnya, yuan China melemah 0,71 persen, yen Jepang 0,69 persen, dolar Taiwan 0,59 persen serta lira Turki 0,48 persen diikuti dolar Singapura yang melemah 0,28 persen.

Di sisi lain, penguatan terjadi pada baht Thailand 0,11 persen, peso Filipina 0,06 persen, dan dolar Hong Kong yang melemah tipis 0,02 persen terhadap dolar AS.

Dari negara maju, mayoritas nilai tukar bergerak melemah terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris dan euro masing-masing melemah sebesar 0,72 persen dan 0,55 persen, diikuti dolar Australia yang melemah sebesar 0,84 persen. Sementara, penguatan hanya dialami dolar Kanada sebesar 0,11 persen terhadap dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai anjloknya rupiah hingga mendekati level Rp16 ribu sore ini disebabkan oleh kepanikan pasar global menghadapi virus corona (covid-19).

“Pasar global telah jatuh dalam beberapa pekan terakhir, karena kepanikan pasar akibat virus corona yang menyebar keluar dari China,” kata Ibrahim.

Diketahui, covid-19 kini telah menyebar ke lebih dari 150 negara dan telah merenggut lebih dari 8.993 jiwa. Dengan kondisi tersebut, pemerintah berbagai negara merespons dengan kebijakan pembatasan perjalanan hingga langkah karantina demi menghambat laju penularan virus.

“Berbagai negara menerapkan kebijakan yang ekstrem. Pergerakan masyarakat dibatasi, akses keluar-masuk ditutup, dan sebagainya. Teranyar, pemimpin 27 negara Uni Eropa sepakat untuk menutup perbatasan selama 30 hari ke depan,” ungkapnya.

Menurut Ibrahim, hal tersebut telah mengganggu jalannya bisnis dan mengurangi nilai konsumsi masyarakat akibat dorongan konsumen untuk tinggal di rumah dan mengendalikan pengeluaran.

“Tidak bisa dipungkiri hal ini akan menghambat roda perekonomian. Bahkan bayangan resesi sepertinya semakin nyata dari hari ke hari,” terang dia.

Ibrahim memprediksi rupiah kemungkinan besar akan menuju level Rp16.000 per dolar AS. Menurutnya, capaian level tersebut merupakan level kunci di mana rupiah kemungkinan akan terus melemah.

Menurutnya, rupiah berpotensi bergerak melemah di kisaran Rp15.800 hingga Rp16.150 per dolar AS pada perdagangan Jumat (20/3) esok. (Rede)