PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK SD MELALUI KEBUDAYAAN DAERAH

Kampus Kita Politik

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Karakter merupakan seperangkat sifat, akhlak atau budi pekerti, serta kematangan moral seseorang. Secara etimologi istilah karakter berasal daei bahasa Latin Character yang berarti watak, tabiat, sifat-sifat kejiwaan budi pekerti, kepribadian dan akhlak.

Pengertian karakter menurut beberapa ahli diantaranya menurut Poerwadarminta, karakter berarti tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain (Syarbini, 2013:13).

Menurut Coon karakter adalah salah satu penilaian subjektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat (Zubaedi, 2011:8).

Pembentukan karakter terbentuk dari kebiasaan kita. Kebiasaan kita saat anak-anak biasanya bertahan  sampai masa remaja.

Orang tua bisa mempengaruhi baik atau buruk pembentukan kebiasaan anak-anak mereka {Lickona, 2015:50).

Pembentukan karakter banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor bawaan dan lingkungan sekitar. Karakter harus dibentuk dan dibina melalui sosialisasi dan ditanamkan sejak usia dini. 

Tujuan pembentukan karakter pada dasarnya untuk menghasilkan anak anak dengan memiliki karakter yang baik sehingga dengan karakter yang dimiliki anak dapat bertumbuh dan berkembang,mampu meningkatkan dan menggunakan pengetahuan yang didapatkannya,melakukan berbagai hal sesuai dengan karakter,norma dan akhlak yang mulia serta kebudayaan yang telah ada dan berkembang di daerahnya.

Kebudayaan daerah merupakan suatu pandangan maupun aturan agar masyarakat di dalamnya melakukan sesuatu sesuai dengan etika dan nilai moral yang terkandung di dalamnya.

Kebudayaan daerah telah ada dan diajarkan turun temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Indonesia merupakan negara besar terbentang dari Sabang sampai Merauke yag memiliki begitu banyak keanekaragaman suku, agama, ras, bahasa yang berbeda-beda.

Seluruh kebudayaan daerah dapat dilihat melalui lagu daerah, kerajinan tangan, tarian, rumah adat dan potensi wisata dari daerah tersebut.

Kekayaan budaya yang dimiliki harus dilestarikan agar dapat menciptakan bangsa yang berkarakter. Bangsa yang berkarakter tidak terlepas dari pembentukan karakter. 

Salah satu tempat dimana karakter anak dapat dibentuk melalui sekolah. Sekolah merupakan lembaga formal penyelenggara pendidikan yang bertugas untuk menanamkan dan membentuk karakter.

Dalam sekolah guru memiliki peran penting dalam membentuk dan mengembangkan karakter anak karena guru merupakan pengajar yang memiliki peran dan memberikan teladan dalam pembelajaran. 

Pembelajaran pada kurikulum 2013 lebih menekankan aspek afektif pada siswa Sekolah dasar, hal ini dikarenakan pendidikan di sekolah dasar merupakan landasan bagi siswa untuk belajar dan menyiapkan diri dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di era globalisasi.

Materi pembelajaran di sekolah khususnya Seni Budaya dapat dikembangkan dengan memanfaatkan kebudayaan daerah.

Guru dapat memberikan pengetahuan kepada para siswa dengan memberikan tugas mengamati atau dijelaskan melalui media gambar atau video.

Sebagai contoh kebudayaan daerah yang dapat dimasukkan ke dalam materi pembelajaran di sekolah tentang Tarian Gawi yang berasal dari daerah Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tarian ini merupakan salah satu tarian adat masyarakat suku Ende-Lio yang memiliki banyak makna diantaranya : 

  1. Makna Religius, yang terungkap pada syairnya yang mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa dan rasa syukur atas segala berkat dan rahmat-Nya.
  2. Makna Persatuan, terlihat pada koreografi dalam berbentuk lingkaran dan berpegang tangan sebagai symbol kebersamaan.
  3. Makna Kesetaraan Gender, hal ini terlihat pada susunan penarinya. 
  4. Makna Tanggung Jawab.
  5. Makna Tata karma, sopan santun dan saling menghargai.

Nilai-nilai yang terkandung dalam tarian tersebut tidak hanya ditanamkan hanya di kelas, tetapi secara rutin guru dapat mengajarkan para sisiwa untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini merupakan salah satu upaya untuk membentuk karakter pada siswa. Karakter siswa dapat terbentuk bukan hanya di sekolah saja tapi bisa di lingkungan keluarga dan lingkungan di sekitarnya. 

(Red/ Patrisia Novita S, Nim : 2018015331, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa )