Perempuan Jadi Garda Terdepan Penanggulangan Covid-19

Nusantara Politik

KORANBOGOR.com,SEMARANG-Hidup di tengah pandemi Covid-19 dan beradaptasi dengan kehidupan di era New Normal menjadi tantangan berat terutama bagi kaum perempuan.

”Perempuan dituntut untuk bisa menjalankan peran multitasking, menjadi ibu, pekerja, dan guru bagi anak-anak, termasuk menjamin tersedianya suplai makanan bagi semua anggota keluarga,” kata anggota Komisi IX DPR RI Dr Dewi Aryani SSos MSi.

Dia mengungkapkan hal itu dalam webinar ”Gerakan 1.000+++ Perempuan Mendukung Polkesmar Memutus Mata Rantai Penyebaran Covid-19”, di Gedung Pascasarjana Politeknik Kesehatan Semarang (Polkesmar), Selasa (25/8) petang.

Tampil pula sebagai pembicara Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang Krisseptiana Hendrar Prihadi, Ses Badan PPSDMKes Kemenkes RI dr Trisa Wahyuni PMKes, Kabid Yankes DKK Semarang drg Rahma Defi MKes, dan moderator Koordinator Pengabmas Pusat P2M Polkesmar Prof Dr Diyah Fatmasari MDSc.

Acara yang dibuka oleh Wadir III Polkesmar Luthfi Rusyadi SKM MSc itu disiarkan lewat streaming Youtube dan diikuti oleh lebih dari 1.000 kader PKK binaan Polkesmar se-Jateng, baik di Semarang, Magelang, Purwokerto, Blora, Pekalongan, dan masyarakat umum.

Lebih lanjut Dewi mengatakan, selain peran para ibu, data juga menyebutkan jumlah tenaga medis khususnya perawat yang menangani Covid-19 di rumah sakit di Indonesia 71 persennya adalah kaum perempuan.

Hal ini membuktikan, kaum perempuan menjadi garda terdepan dalam penanggulangan Covid- 19.

Peran penting perempuan, khususnya kaum ibu dalam memutus mata rantai penularan Covid-19 juga ditegaskan dr Trisa.

Dia mengatakan, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan agar fokus kampanye penanganan Covid-19 dilakukan dengan melibatkan kaum ibu, khususnya lewat kelompok PKK.

”Kelompok PKK sangat efektif, karena bisa dilakukan door to door untuk mengampanyekan perapan perilaku hidup sehat,” katanya.

Peran ibu, dijelaskannya, juga sangat penting dalam menjaga agar anggota keluarganya tidak tertular dan terhindar dari Covid-19. ”Ibu adalah profesor di rumah, guru terbaik yang bisa memberikan contoh pada keluarganya, terutama anak-anaknya.

Termasuk menegur anggota keluarganya yang tidak patuh. Meski dicereweti dan dimarahi ibu akan tetap sayang sama anaknya.”

Semua keluarga juga harus memiliki pemahaman tentang gejala-gejala awal penyakit Covid- 19, cara deteksi dini, menyediakan masker, hands sanitizer, dan sabun untuk cuci tangan. ”Ibulah yang menyediakan semua itu, termasuk menegur kalau anaknya keluar rumah tanpa masker.”

Payung Hukum PKK

Sementara itu, Dewi yang juga anggota Dewan dari Fraksi PDI-Pini mengakui, kekuatan organisasi PKK yang telah teruji sejak Orde Baru dan hingga saat ini tetap eksis baik di kota maupun perdesaan.

”Sayangnya peran PKK dan dasawisma belum bisa optimal dalam memberdayakan ekonomi warga, karena belum adanya payung hukum. Untuk itu, perlu ada revitalisasi yang dilandasi peraturan menteri atau bahkan peraturan presiden agar ada dukungan anggaran lewat APBN, APBD atau dana desa.”

Diakuinya, jika seluruh organisasi PKK dan dasa wisma di lebih dari 500 kota dan kabupaten di seluruh Indonesia memiliki payung hukum dan bisa diberdayakan akan menjadi kekuatan yang luar biasa sebagai motor penggerak perekonomian Indonesia,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Penggerak PKK Kota Semarang Krisseptiana Hendrar Prihadi memaparkan, selama pandemi Covid-19, kegiatan lebih banyak dilakukan di rumah dengan memanfaatkan media sosial Facebook dan Instagram.

Kota Semarang memiliki empat kelompok kerja (pokja) yang masing-masing memiliki tugas.

”Di antaranya ada lumbung pangan, dapur umum, memberikan edukasi, pelatihan-pelatihanlewat Zoom, menanam tanaman produktif, menjaga kebersihan, membentuk kelompok tani, hingga bank sampah.”

Khusus Pokja IV yang membidangi kesehatan pihaknya gencar melakukan sosialiasi yang berkaitan dengan pencegahan dan memutus mata rantai Covid-19. (Red)