Polisi Bongkar Prostitusi Dibawah Umur Di Apartemen Kalibata City

Hukum Nusantara Politik

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Pihak kepolisian membongkar praktik prostitusi anak di bawah umum di Apartemen Kalibata City, Kalibata, Jakarta Selatan. Korban berjumlah empat orang. Dua di antaranya anak di bawah umur.

Tersangka yang berjumlah enam orang itu mematok tarif Rp350.000-Rp900.000 untuk sekali berhubungan badan. Mereka juga memaksa korban untuk melayani empat pria hidung belang dalam sehari.

Praktik biadab itu dibongkar jajaran Polres Metro Jakarta Selatan. Dalam kasus itu, polisi meringkus AS, NA, MTG, ZMR, JF, dan NF.

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Bastoni Purnama mengatakan, kasus prostitusi lewat aplikasi Michat itu bermula dari aduan tentang orang hilang di Polres Metro Depok.

“Berdasarkan informasi dan bukti-bukti, korban berada di Apartemen Kalibata City. Kemudian ada penggerebekan, ternyata orang hilang itu ada di apartemen tersebut, serta korban lain sebanyak tiga orang,” kata Bastoni di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Rabu (29/1/2020).

Ia menjelaskan, enam tersangka memiliki peran masing-masing. Tersangka AS berperan mencekoki korban dengan minuman keras serta merekam dalam keadaan tanpa busana. Kemudian, tersangka JF berperan mengiklankan korban ke aplikasi Michat, di medsos, serta menerima pembayaran. Tersangka NA diketahui melakukan penyiksaan terhadap korban dengan cara menggigit, memukul, hingga menendang.

Lalu tersangka MTG, kata Bastoni, memiliki banyak peran. MTG juga diketahui ikut serta menyetubuhi para korban. Kemudian tersangka ZMR dan NF berperan menjual para korban.

Selama menjalankan bisnis prostitusi itu, para tersangka menyewa sebuah kamar di Apartemen Kalibata City dengan sistem sewa harian.”Keenam pelaku dan korban tinggal di apartemen dengan sistem sewa bayar per hari, sehari Rp350 ribu,” ujarnya.

Para tersangka merayu para korbannya dengan iming-iming pekerjaan berpenghasilan tinggi. Walhasil, para tersangka berhasil mengumpulkan empat korban dalam bisnis prostitusi tersebut.

Pendapatan yang diperoleh para tersangka dari bisnis tersebut lantas dibagi rata dan sebagian digunakan untuk membayar sewa apartemen.

“Rata-rata korban ini dipaksa minimal empat pria tiap hari ya,” ia mengungkapkan seperti dikutip Antara.

Kini, tersangka AS, NA, MTG, dan ZMR dititipkan di Rumah Tahanan Kementerian Sosial karena masih di bawah umur. Sedangkan, JF dan NF ditahan di Polres Metro Jakarta Selatan.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 76 C juncto pasal 80 dan Pasal 76 ayat 1 juncto pasal 8 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2004 tentang Perlindungan Anak.

Selain itu, enam tersangka juga dijerat Pasal 2 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Orang dan 170 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.(Red)