Program FPP Undip Menjaga Pasokan Pangan Di Tanah Air

Bogor Now Kampus Kita Politik

KORANBOGOR.com,SEMARANG-Para alumni Fakultas Peternakan dan Pertanian (FFP) Undip terlibat dalam program menjaga pasokan pangan di Tanah Air. Program ini dijalankan juga seiring merebaknya pandemi corona.

“Para alumni sebelumnya juga merupakan peserta Program Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) yang digagas Kementerian Pertanian (Kementan) sejak 2016. Kementan yang berkolaborasi dengan perguruan tinggi mitra juga membuat target mencetak satu juta petani milenial,” kata Dosen FPP Undip Dr Siwi Gayatri, kemarin.

Dia merupakan dosen pakar yang tergabung dalam program selama beberapa waktu. Kini para alumni Undip terlibat aktif dalam upaya peningkatkan produksi dan penyediaan pangan di Indonesia. Khususnya juga pada masa penanganan wabah Covid-19. Pertanian terbukti sebagai salah satu bidang yang bertahan di tengah wabah Covid-19.

Hal ini juga peluang yang sangat besar untuk meningkatkan pendapatan keluarga petani. Disaat penanganan wabah Covid-19, konsumen semakin sadar tentang asupan gizi yang seimbang.

“Selebihnya permintaan produk peternakan dan pertanian semakin tinggi terutama untuk konsumen keluarga. Kondisi ini juga dirasakan binaan PWMP FPP Undip yang menggunakan teknologi informasi secara online untuk pemasaran produk usahanya. Hastag #dirumahaja terbukti sangat ampuh dalam meningkatkan permintaan konsumsi pangan rumah tangga,” kata dia.

Distribusi produk pertanian dilakukan model daring. Di mana produk akan sampai tujuan tanpa merepotkan konsumen. Pada akhirnya secara langsung berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan kaum petani milenial saat ini. Terutama yang sepenuhnya memanfaatkan perkembangan teknologi informasi. Undip merupakan salah satu perguruan tinggi mitra yang ditunjuk untuk mensukseskan Gerakan Satu Juta Petani Milenial. FPP Undip bahkan telah mencetak 45 orang alumni yang tergabung dalam 15 unit usaha bidang pertanian.

Pendampingan alumni dalam kegiatan ini didukung tiga staf pengajar sebagai pembimbing lapangan selama tiga tahun dimulai dari fase penyadaran, pengembangan dan kemandirian.

Alumni didorong mampu mentransformasikan budidaya tradisional ke pertanian modern sesuai dengan perkembangan era revolusi industri.(Red/sm)