Bantu Mahasiswa Luar Daerah,Karyawan UNS Solo Berhasil Kumpulkan Rp 900 Juta

Bogor Now

KORANBOGOR.com,SOLO-Universitas Sebelas Maret Solo atau UNS Solo berhasil mengumpulkan dana bantuan senilai sekitar Rp900 juta untuk mahasiswa luar daerah yang masih berada di Solo.

Rektor UNS Solo Jamal Widoho mengatakan, sumbangan tersebut berasal dari uang makan dari remunerasi karyawan UNS. “Sumbangan dari uang makan yang akan dipotong dari remunerasi UNS.

Dari tendik [tenaga kependidikan] senilai Rp282.663.220 dan dosen Rp683.296.000, sehingga jumlahnya Rp965.959.220,” ujarnya kepada Solopos.com, Sabtu (11/4/2020).

Jamal menambahkan, bantuan tersebut dikumpulkan hanya dalam waktu dua hari dalam pekan ini melalui sistem.

“Saya mengucapkan terima kasih atas sumbangan dari Bapak dan Ibu semuanya. Semoga Tuhan YME memberikan pahala yang melimpah,” ungkapnya.

Bantuan itu rencananya akan diberikan kepada mahasiswa UNS yang utamanya berasal dari luar Pulau Jawa dan luar negeri yang masih berada di lingkungan UNS.

“Kami punya data di mana dan dari mana asal mahasiswa UNS sekarang ini. Mahasiswa yang masih di lingkungan UNS yang berasal dari luar Solo mendaftarkan ke sistem, lalu Wakil Dekan (WD) Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (WD III) [di masing-masing fakultas] melakukan verifikasi.

Jika disetujui, Wakil Rektor III mengeksekusi dengan mentransfer dana ke masing-masing bank untuk disalurkan kepada penerima,” papar Jamal.

Selain mahasiswa yang akan menjadi sasaran, warga masyarakat di sekitar Kampus dan pegawai UNS yang memerlukan juga akan diberi bantuan.

“UNS harus hadir untuk mahasiswa yang masih berada di Solo, UNS hadir di lingkungan sekitar masyarakat area UNS dan jika ada karyawan UNS yang perlu pun kita bantu sebagai dampak dari pandemi corona [Covid-19].”

Mahasiswa Luar Negeri
Sebelumnya, Solopos.com mewawancara beberapa mahasiswa asing UNS yang masih beertahan di Solo, yakni dari Burundi dan Turkmenistan.

Selain masih kuliah dan menyelesaikan urusan studi, mereka tidak bisa pulang karena penerbangan udara ke negara mereka terkendala karena masalah corona.

Sejak Solo ditetapkan sebagai daerah dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) 13 Maret 2020 dan Kampus menerapkan pembelajaran daring, mereka tinggal di kontrakan atau di asrama.

Mereka sesekali keluar untuk membeli bahan makakan dan memasaknya sendiri.