Bantuan : Membantu atau Memanjakan?

Bogor Now

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Pemerintah Indonesia mempunyai banyak program bantuan yang ditujukan kepada rakyat yang kurang mampu. Program-progam bantuan ini dibuat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sektor yang disasar adalah pendidikan dan kesehatan.

Dalam bidang pendidikan ada Program Indonesia Pintar, merupakan program bantuan uang tunai kepada peserta didik tingkat SD, SMP, SMA/SMK sederajat, yang berasal dari keluarga miskin.

Dalam bidang kesehatan yaitu Program Jaminan Kesehatan Nasional, pemerintah membayarkan iuran kesehatan masyarakat yang tidak mampu.

Selain itu ada program bantuan sosial lain yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Bansos Rastra/Bantuan Pangan Non Tunai.

Program-program tersebut pastinya membantu meringankan beban masyarakat yang kurang mampu. Dengan begitu kesejahteraan masyarakat akan meningkat. Lebih dari itu bantuan yang diberikan dapat memperkecil angka putus sekolah.

Karena beban biaya pendidikan yang lebih ringan, memberikan kesempatan bagi siswa dari keluarga yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikannya.

Bantuan dapat membantu pengobatan masyarakat yang kurang mampu, karena biaya pengobatan ditanggung oleh pemerintah.

Namun realitanya bantuan juga mempunyai dampak yang negatif. Disini akan dibahas beberapa dampak negatif dari adanya program bantuan pemerintah.

Bantuan yang salah sasaran. Mengutip dari mediaindonesia.com, Pemprov Jateng mengungkapkan bahwa pada tahun 2018 sekitar 40% bantuan yang salah sasaran. Bantuan seharusnya hanya diberikan kepada yang benar-benar tidak mampu. Tetapi pada kenyataanya ada beberapa masyarakat yang sebenarnya mampu secara ekonomi, tetapi mendapat bantuan.

Beberapa video yang pernah viral menunjukkan orang yang mengambil jatah bantuan dengan penampilan yang tidak bisa dikatakan berkekurangan, seperti memakai perhiasan dan mengendarai motor yang bagus.

Pendataan masyarakat yang layak mendapat bantuan dilakukan oleh perangkat desa sebagai pemerintahan daerah yang paling dekat dengan masyarakat dan mengenal masyarakat dalam wilayah tersebut secara baik.

Kadang faktor “kedekatan” dapat memicu penyelewengan sasaran bantuan. Sehingga bantuan diberikan pada orang yang salah, orang yang sebenarnya berkecukupan.

Pemerima bantuan ketergantungan bantuan pemerintah. Penerima bantuan beranggapan bahwa hidupnya telah dijamin oleh pemerintah. Mereka yang merasa terlena akan menggantungkan hidupnya pada bantuan yang diberikan oleh pemerintah.

Penerima bantuan hanya berleha-leha sambil menunggu bantuan cair. Hal ini tentu tidak baik, karena perlahan akan menghilangkan kemauan penerima bantuan untuk bekerja dan berusaha dengan kemampuan yang mereka memiliki.

Penerima bantuan juga perlu memiliki motivasi dan kemauan yang kuat untuk bekerja mencukupi kebutuhannya, bukan hanya mengandalkan bantuan pemerintah.

Penyalahgunaan bantuan. Contohnya bantuan non tunai, seperti beras, yang dijual ke pedagang, dan uang yang didapat digunakan untuk membayar hutang. Bantuan pendidikan yang digunakan orangtua untuk mencukupi kebutuhan dapur, bukan untuk keperluan sekolah.

Sering berobat ke dokter, padahal penyakit yang diderita hanya penyakit ringan, contohnya flu.Tentunya penggunaan bantuan itu tidak tepat. Penerima bantuan seharusnya menggunakan bantuan dengan benar.

Bantuan tidak sepenuhnya mencukupi segala kebutuhan penerima bantuan. Penerima bantuan juga perlu berusaha dan berdikari untuk mencukupi kebutuhannya.

Selain itu sikap bersyukur juga harus ditanamkan pada diri, supaya dapat menerima keadaannya dan bukannya terpuruk karena kekurangannya.

Karena setiap manusia yang berusaha pasti akan mendapatkan apa yang dicarinya,bukan malah meratapi ketidakmampuannya dan hanya menunggu bantuan datang.

Bagi masyarakat yang tidak mendapat bantuan tidak patut iri terhadap penerima bantuan. Karena sudah dianggap mampu, dan itu menjadi menjadi motivasi untuk bekerja lebih keras lagi.

(Red.Advent Tinna Tri HandayaniSaya adalah mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.  )