Kawasan Sempur dan Pulo Geulis Bakal Jadi Waterfront City

0
106

KORANBOGOR.com,BOGOR-Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menggelar Workshop Penataan Kawasan Sempur dan Pulo Geulis di Paseban Sri Bima, Balai Kota Bogor, Jumat (08/03/2019).

Menurut Sekretaris Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor, Lorina Darmastuti, workshop ini secara umum ditujukan untuk peningkatan kualitas permukiman yang disinergikan dengan naturalisasi Sungai Ciliwung, yang lokasinya dari Pulo Geulis hingga Sempur.

Yang utama dari program penataan ini menurut Lorin adalah sosialisasi ke masyarakat dan identifikasi persoalan yang ada di masyarakat melalui metode serta perencanaan yang partisipatif dengan memperhatikan arahan dari pemerintah agar tidak muncul miss komunikasi.

“Menaturalisasi sungai akan berdampak pada stop membuang air besar dan sampah secara sembarangan, yang secara signifikan akan mengurangi kumuh, mengembalikan sungai ke alam, tidak tercemar dan secara tidak langsung mengangkat pemukiman kumuh menjadi lebih baik yang ada di sepanjang bantaran sungai. Maknanya disitu,” kata Lorina.

Sementara pemilihan Pulo Geulis hingga Sempur lanjut Lorina karena berada di titik strategis, yakni di tengah kota yang melintasi Istana dan Kebun Raya Bogor.

Namun Pemkot Bogor bersama para stakeholder menyadari bahwa program ini masih membutuhkan penyempurnaan karena memerlukan waktu tidak sebentar sehingga setiap tahun segala sesuatunya harus direncanakan, mulai dari penganggarannya hingga hal teknis lainnya.

Dalam paparan yang disampaikan, Konsultan Pra-Desain, Arin Ningsih Setiawan, perencanaan penataan kawasan yang memiliki panjang 3 KM ini akan dibagi menjadi 5 zona, yaitu zona kultural atau budaya di kawasan Pulo Geulis, zona Kebun Raya, zona permainan Sempur, zona Komunitas di Sempur Kaler dan zona ekologi.

Kota Bogor direncanakan menjadi Waterfront City dimana Sungai Ciliwung dapat menjadi bagian dari wajah kota yang memberikan keindahan lanskap di area sekitarnya. Menurutnya, Waterfront City merupakan konsep pengembangan daerah tepian air baik itu tepi pantai sungai atau danau.

Disamping itu kata Arin, Sungai Ciliwung akan dijadikan wisata air yang dinamakan Trekking Wisata Suwung (Susur Ciliwung) yang ingin mengintegrasikan sungai menjadi kawasan wisata.

Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Barat, Riko menambahkan, berbicara sungai secara morfologi dan tipologi pasti berbeda, semangat pasti sama tidak ada orang yang tidak ingin berubah. Dirinya menilai paparan yang disampaikan konsultan cukup baik, namun tetap harus melihat existing yang ada.

“Kadang kita diatas kertas namun saat di lapangan pengaplikasian bisa berbeda dari rencana. Kita lihat nanti bagaimana teman-teman konsultan mengkoordinir dengan instansi terkait dan yang mempunyai kewenangan. Karena design harus diaplikasikan dan harus memperhatikan sisi teknis dan strukturnya,” kata Riko.

Riko menyebutkan, ada 7 indikator untuk menilai kawasan permukiman, diantaranya bangunan, kondisi jalan, akses terhadap air minum, drainase dan proteksi terhadap kebakaran. Contohnya kawasan padat penduduk, sering terjadi kebakaran hebat di kawasan padat penduduk karena akses untuk pemadam kebakaran yang tidak ada. (Humas:rabas/hari/magang-SZ)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here