Kekacauan Bullying Terhadap Prestasi di Sekolah

Bogor Now

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Kasus bullying di zaman sekarang ini sangat rentan sekali adanya dan sering kita dengar dari pemberitahuan media sosial.

Bullying berasal dari kata bully, yaitu suatu kata yang mengacu pada pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang umumnya menganggap lebih lemah atau “rendah” dari pelaku),yang menimbulkan gangguan psikis bagi korbannya (korban disebut bully boy atau bully girl) berupa stress yang muncul dalam bentuk gangguan fisik atau psikis atau bisa keduanya; misalnya susah makan, sakit fisik, ketakutan, rendah diri, depresi, khawatir, dan lainnya.

Apalagi bully biasanya berlangsung dalam waktu yang lama sehingga sangat mungkin mempengaruhi korban secara psikis.

Bisa juga seorang korban bully merasa tertekan, marah, malu, dan kecewa pada diri sendiri karena “membiarkan” kejadian tersebut mereka alami.

Namun mereka tak kuasa “menyelesaikan” hal tersebut, mereka tidak berani untuk melaporkan pelaku pada orang dewasa karena takut dicap penakut, tukang ngadu, atau bahkan disalahkan. 

Dengan penekanan bahwa bully dilakukan oleh anak usia sekolah, perlu dicatat bahwa salah satu karakteristik anak usia sekolah adalah adanya egosentrisme (segala sesuatu terpusat pada dirinya) yang masih dominan, anak masih menganggap bahwa semua itu adalah karena dirinya, dan rentan sekali untuk menyalahkan dirinya sendiri. 

Bullying sekarang ini sudah menjamur di kalangan anak sekolah. Baik antar teman, kakak kelas, dan adik kelas, bahkan guru sekalipun tidak terlepas dari perilaku bullying ini.

Menyikapi fenomena ini terdapat beberapa pendapat dari para siswa terkait hal ini. Salah satunya adalah Muhammad Riduan dari kelas XI A TKJ SMKN 1 Banjarmasin yang tidak menyukai Bullying.

Siswa yang sering melihat, mendengar, bahkan mengalami korban bullying. Menurut Riduan, bullying awalnya didasari atas saling olok mengolok, bercanda, tetapi lama kelamaan menjadi frontal bahkan sudah mulai rasis dan mengandung SARA.

Akhirnya menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan dan tak terduga seperti penindasan, pengeroyokan, pemukulan dan hal-hal yang merusak psikis atau mental seseorang. Korban bisa saja menjadi terancam bahkan korban bisa saja melakukan hal-hal yang melukai dirinya sendiri. 

Riduan memaparkan bahwa contoh dampak bullying bagi sang korban yaitu :

  • Depresi
  • Rendahnya kepercayaan diri / minder
  • Pemalu dan penyendiri
  • Merosotnya prestasi akademik 
  • Merasa terisolasi dalam pergaulan 
  • Terpikir atau bahkan mencoba untuk bunuh diri

Untuk itu dia sangat mengecam keras siswa-siswi yang terlibat bullying dalam bentuk apapun. ‘Semoga di sekolah ini tidak ada kasus Bullying yang berujung ke jalur hukum dan memalukan nama Sekolah kita, Stop Bullying !!! Kejar Prestasi bukan Sensasi” ujar Riduan. 

Melihat besarnya dampak dari bullying kita sebagai guru maupun orang tua harusnya senantiasa mengawasi dan memantau anak kita dan kegiatannya baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Agar anak kita bisa lebih terarah dalam memilih keputusan mana yang baik dan mana yang akan berdampak buruk bagi masa depannya kelak. 

Tindakan Bullying bisa terjadi dimana saja, terutama tempat-tempat yang tidak diawasi oleh guru atau orang dewasa lainnya, misalnya sekitar toilet sekolah, pekarangan sekolah, tempat menunggu kendaraan umum, lapangan parkir.

Pelaku bullying akan memanfaatkan tempat yang sepi untuk menunjukkan “kekuasaannya” atas anak lain, agar tujuannya tercapai. Sebagai orang tua, kita wajib waspada akan adanya perilaku bullying pada anak, baik anak sebagai korban atau sebagai pelaku bullying. 

Beberapa hal yang dapat dicermati dalam kasus Bullying adalah : 

Bagaimana mengenali anak yang diindikasi mengalami tindakan intimidasi di sekolahnya? Sejumlah tips yang dirangkum Kompas.com dari berbagai sumber ini mungkin bisa membantu Anda. 

Ciri-ciri yang harus diperhatikan di antaranya : 

  1. Enggan untuk pergi ke sekolah 
  2. Sering sakit secara tiba-tiba 
  3. Mengalami penurunan nilai
  4. Barang yang dimiliki hilang atau rusak 
  5. Mimpi buruk atau bahkan sulit untuk tidur 
  6. Rasa amarah dan benci semakin mudah meluap dan meningkat 
  7. Sulit untuk berteman dengan teman baru
  8. Memiliki tanda fisik, seperti memar atau luka 

Jika menemukan ciri-ciri seperti di atas, langkah yang harus dilakukan orang tua di antaranya : 

  1. Berbicara dengan orang tua si anak yang melakukan bully terhadap anak Anda
  2. Mengingatkan sekolah tentang masalah seperti ini 
  3. Datangi konseling profesional untuk ikut membantu mengatasi masalah ini 

Bentuk dan Modus Bullying :

  1. Fisik (tendangan, pukulan, jambakan, tinju, tamparan, lempar benda, meludahi, mencubit, merusak, membotaki, mengeroyok, menelanjangi, push up berlebihan, menjemur, mencuci WC, lari keliling lapangan yang berlebihan / tidak mengetahui kondisi siswa, menyundut rokok,dll).
  2. Verbal (mencaci maki, mengejek, memberi label/ julukan jelek mencela, memanggil dengan nama bapaknya, mengumpat, memarahi, meledek, menganca, dll). 
  3. Psikis (pelecehan seksual, memfitnah, menyingkirkan, mengucilkan, mendiamkan, mencibir, penghinaan, menyebarkan gosip). 

Penanganan yang bisa dilakukan oleh guru :

  1. Usahakan mendapat kejelasan mengenai apa yang terjadi. Tekankan bahwa kejadian tersebut bukan karena kesalahannya.
  2. Bantu anak mengatasi ketidaknyamanan yang ia rasakan, jelaskan apa yang terjadi dan mengapa hal itu terjadi. Pastikan anda menerangkan dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti anak. Jangan pernah menyalahkan anak atas tindakan bullying yang ia alami.
  3. Mintalah bantuin pihak ketiga (guru atau ahli professional) untuk membantu mengembalikan anak ke kondisi normal, jika dirasakan perlu. Untuk itu bukalah mata dan hati Anda sebagai orang tua. Jangan tabu untuk mendengarkan masukan dari pihak lain. 
  4. Amati perilaku dan emosi anak, bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu (ingat bahwa biasanya korban menyimpan dendam dan potensial mejadi pelaku di kemudian hari). 

Pencegahan buat anak yang menjadi korban bullying :

  1. Bekali anak dengan kemampuan untuk membela dirinya sendiri, terutama ketika tidak ada orang dewasa/ guru/ orang tua yang berada di dekatnya. Ini berguna untuk pertahanan diri anak dalam segala situasi yang mengancam dan berbahaya.
  2. Bekali anak dengan kemampuan menghadapi beragam situasi yang tidak menyenangkan misalnya membiarkan (namun tetap mendampingi) anak merasakan kekecewaan, akan melatih toleransi dirinya. 
  3. Upayakan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik dengan teman sebaya atau dengan yang lebih tua.  (Red/Ditulis oleh: Galuh Ufi Anggraini )

Referensi : https://smkn1bjm.sch.id/perilaku-bullying-di-sekolah-dan-pengaruhnya-terhadap-prestasi/