Kurangnya Kualitas Pendidikan Di Natunaku

Bogor Now

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Natuna merupakan sebuah wilayah kabupaten dibagian utara Indonesia . Dengan kekayaan alam yang dimilikinya yang memiliki potensi gas yang tercatat merupakan yang terbesar di Asia Tenggara.

Natuna memiliki bentang laut dan daratan dengan perbandingan yang jauh ,yaitu 99.01% lautan dan 0.99% daratan.Tercatat luas daerah Natuna 264.788,51 Km2 dengan perairan 261.567,35 Km2 dan sisanya daratan.

Dengan lokasi yang strategis ini Natuna merupakan daerah perbatasan yang memiliki karakteristik tersendiri dan membutuhkan perhatian yang lebih dari pemerintah khususnya pemerataan pembangunan yang masih terkendala.

Kabupaten Natuna terpecah menjadi 15 Kecamatan yang beberapa wilayah Kecamatan tersebut memiliki jarak yang cukup jauh dan terpisah lautan satu sama lainnya hal ini lah yang membuat pembangunan di Kabupaten Natuna masih terhambat khususnya dalam bidang pendidikan masalah infrastruktur yang belum memadai.

Diberbagai sekolah di kecamatan terluar seperti kecamatan serasan, pulau tiga, midai masih belum memadai seperti buku-buku yang masi belum lengkap sesuai kurikulum yang berlaku saat ini akibatnya anak-anak didaerah tersebut masih banyak tertinggal pelajaran yang seharusnya mereka sudah mereka pelajari.

Selain hal tersebut pemerataan jaringan internet pun menjadi salah satu hambatan besar yang mempengaruhi pemerataan pendidikan didaerah perbatasan saat ini jaringan internet sebagai pendukung utama media belajar teknologi di era industri 4.0 saat ini.

Masalah pemerataan Pendidikan didaerah merupakan persoalan bagaimana system Pendidikan dapat menyediakan kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh warga daerah dan pemerataan sarana dan prasarana disekolah demi meningkatnya mutu Pendidikan di Natuna yang merata . 

Selain keterbelakangan pemertaan sarana dan prasarana keungggulan suatu lembaga pendidikan tidak terlepas dari kuliatas pendidik yang dimiliki, Salah satunya tenaga pendidik yang dibutuhkan adalah tenaga pendidik yang mampu menerapkan konsep pendidikan yang tepat. Tidak dipungkiri kulaitas tenaga pendidik di Natuna masih sangat kurang adanya, banyak tenaga pendidik yang masih belum mampu menerapkan konsep belajar yang sesuai terhadap siswa nya penguasaan materi yang masih kurang dan masih banyak nya tenaga pendidik yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang ditempuh, tentu saja ini akan menyebabkan tidak efektifnya kualitas belajar yang didapatkan siswa yang keluar dari konsep ilmu pamong harus lebih tinggi dari yang di among maksudnya disini adalah pengetahuan guru atau tenaga pendidik memang dituntut lebih dari siswa yang dididik khusunya dalam bidang yang betul-betul dikuasai sehingga dalam penyampaian materi seorang pendidik dpat totalitas tidak mengambang. Hal ini tentu saja termasuk dalam masalah efesiensi Pendidikan,bagaimana memfungsikan tenaga Pendidikan dan bagaimana pendidikan diselenggarakan. 

Selain permasalahan diatas tentu saja masih banyak faktor-faktor lain yang menjadikan rendahnya kualitas Pendidikan di daerah perbatasan seperti Natuna. Faktor yan brsifat teknis diantaranya adalah rendahnya kualitas guru,rendahnya sarana fisik, rendahnya prestasi siswa, rendahnya kesejahteraan guru (khususnya honorer). Namun sebenarnya yang menjadi masalah mendasar dari Pendidikan di Natuna adalah system Pendidikan yang berlaku di Negara ini sendiri yang menjadikan siswa sebagai objek, sehingga manusia yang dihasilkan dari sistem ini adalah manusia yang hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman dan bukannya berifat kritis terhadap zamannya. Maka disinilah dibutuhkan kerja sama antara pemerintah daerah maupun pusat dan masyarakat Natuna sendiri untuk mengatasi segala permasalahan Pendidikan di Natuna.  

Namun demikian pada dasarnya permasalahan di Indonesia bukan hanya tentang permasalahan peserta didik dan tenaga pendidik melainkan keseleruhan sistem Pendidikan yang berlaku di era ini,tentu saja pemerintah harus berbenah untuk kelanjutan Pendidikan di Indonesia yang semakin terpuruk dewasa ini.

Sistem Pendidikan yang menuntut kesiapan semua aspek Pendidikan tentu menjadikan tujuan sistem itu sendiri tidak berjalan berjalan dengan efesien. Salah satu contohnya adalah perubahan kurikulum yang kerap terjadi dengan adanya pergantian pemerintahan atau kementrian.

Perubahan kurikulum tidak ditunjang oleh kesiapan guru sebagai subjek dari penerapan kurikulum tersebut, jadi mau sebagus apapun teori yang diberlakukan tentu saja tidak akan berjalan dengan efesien jika tidak ditunjang oleh kesiapan para guru sebagai pelaku utama yang harus menerapkan kurikulum tersebut kepada siswa.  

(Red/ Mudrikatul Mabruroh Mahasisiwi dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta )