LABEL BODOH

Bogor Now

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Pengertian “kata bodoh” menurut KBBI adalah tidak lekas mengerti,tidak mudah tahu atau tidak dapat (mengerjakan dan sebagainya)contoh,anak ini bodoh benar,masakan menghitung menghitung lima tambah lima saja tidak dapat.

Artilainnya dari kata bodoh adalah tidak memiliki pengetahuan (pendidikan  pengalaman) contoh penjajah sengaja membiarkan rakyat bodoh agar mudah diperintah .

Kata bodoh juga sering didengar anak-anak ketika berada dirumah sekolah dan ditengah masyarakat bahkan ketika membaca bahan bacaan yang tercantum kata “bodoh”.

Terkadang kata bodoh digunakan sebagai bentuk kejengkelan,kekesalan seseorang terhadap ketidakpahaman ketidakmampuan menangkap apa yang diucapkan dan apa yang ditugaskan.

Secara tidak lansung,sadar maupun tak sadar bahwa segala ucapan,yang terdengar ditelinga anak-anak akan selalu terekam dalam ingatan (memori) anak.

Ketika seorang anak sering mendengar atau dikatakan bodoh maka akan membawa dampak positif dan negartif terhadap perkembangannya.

Dampak positifnya ketika anak sering dikatakan bodoh maka akan ada usaha/upaya untuk tidak dikatakan bodoh lagi. Tetapi tergantung mental anak – anak .

Dampak negatifnya anak akan merasa malu,menutup diri, terpuruk, kurang percaya diri,yang pada dasarnya terganggu psikologisnya terhadap lingkungan sosialnya .

Untuk menghilangkan kata bodoh di lingkungan masyarakat tak semudah membalikan telapak tangan.karena kata bodoh sudah mendarah daging dimasyarakat.

Tetapi tak menutup kemungkinan untuk kita  mengurangi kata bodoh dalam hidup kita gunakan kata-kata yang membangun semangat anak sepeti, d kata kata belum bisa belum mampu.

Kata belum bisa /belum mampu memilliki makna bahwa akan ada usaha atau upaya untuk merubah.Sedangkan kata tidak bisa berarti tidak ada usaha untuk merubah .

Marilah kita kurangi kata bodoh dalam ucapan/tutur kata kita karena tampak terlihat kecil tapi sangat berdampak buruk terhadap  perkembangan psikologis dan mental anak.

Lingkungan keluarga,masyarakat,sekolah menjadi pusat dimana kita dibentuk dan bersosial oleh karena itu perlu adanya kerjasama yang harmonis untuk mengatasi masalah yang terlihat kecil sepele ini agar mental anak bangsa tetap menjadi anak-anak yang percaya diri,tetap optimis,dan tangguh.

(Red/ Faustina Nogo Ema )