MENJAMURNYA VIRUS MENCONTEK DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Bogor Now

KORANBOGOR.com,,YOGYAKARTA-Kata mencontek sudah melekat pada dunia pendidikan saat ini. Hal ini sudah menjadi kebiasaan yang biasa-biasa saja dikalangan para penuntut ilmu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2008), berasal dari kata sontek yang berarti melanggar,mencontoh,menggocoh yang artinya mengutip tulisan,dan lain sebagainya sebagaimana aslinya,menjiplak. Bower (dalam Purnamasari,2013),mendefinisikan menyontek adalah perbuatan yang menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk tujuan yang sah dan terhormat yaitu mendapatkan keberhasilan akademik untuk menghindari kegagalan akademik atau dalam teks aslinya cheating is manifestation of using illigitimate means to achieve a legitimate end (achieve academic success or avoid academic failure).

Senada dengan Deighton (1971) yang menyatakan “Cheating is attempt an individuas makes to attain success by unfair methods.” Maksudnya, cheating adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan keberhasilan dengan cara-cara yang tidak jujur.

Sementara itu,menurut Pincus & Schemelkin (2003:196) perilaku menyontek merupakan suatu tindakan curang yang sengaja dilakukan ketika seseorang mencari dan membutuhkan adanya pengakuan atas hasil belajarnya dari orang lain meskipun dengan cara yang tidak sah seperti memalsukan informasi terutama ketika dilaksanakannya evaluasi akademik. Jadi kesimpulannya mencontek adalah kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan hasil belajar dengan cara tidak jujur. 

Mencontek merupakan bentuk awal dari tindakan korupsi sejak dini. Kegiatan ini dapat berupa melihat jawaban teman, melihat buku saat berlangsungnya ujian dan perjokian saat UN bahkan SBMPTN.

Perkembangan mencontek pada akhir-akhir ini banyak mengikuti perkembangan teknologi maksudnya semakin canggih teknologi maka semakin canggih juga kegiatan mencontek ini.Dapat disimpulkan bahwa praktik mencontek ini dapat dilakukan dari bentuk sederhana sampai bentuk canggih.

Tindakan mencontek dapat dipengaruhi atas dua (2) faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti kurang percaya diri atas diri sendiri, kurangnya motivasi belajar, kurang memahami pelajaran, tidak mau berusaha, dan pikiran negatif.

Faktor eksternal meliputi lingkungan sekitar seperti keluarga, guru maupun teman sebaya. Orang tua harus mewanti-wanti anak agar tidak melakukan tindakan ini dengan memberi nasihat yang baik kepada anak.

Sebagai teman kita harus saling mengingatkan bahwa mencontek merupakan tindakan yang merugikan, baik merugikan diri sendiri maupun orang lain. 

Banyak cara ataupun solusi untuk mengurangi bahkan membasmi tindakan mencontek ini seperti rajin belajar yaitu seperti meningkatkan ketegasan guru dalam kegiatan belajar mengajar,menambah wawasan pengetahuan siswa dengan rajin belajar,memberikan reward untuk siswa yang konsistesn untuk jujur,guru dapat memberikan konsekuensi atau hukuman kepada siswa yang melakukan kecurangan,memberikan pengertian dampak buruk dari kegiatan mencontek serta masih banyak lainya.

(Red/Penulis: . Yuania Larasati Nim 2018015174 dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP), Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)