METODE PEMBAYARAN PENDIDIKAN SEBAGAI BISNIS

Bogor Now

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Berbicara tentang pendidikan memang tak ada habisnya sebagaimana banyak ketimpangan dan kurang pasnya tempat sarana lembaga pendidikan malah sebagai bahan untuk bisnis.

Pendidikan sebagai wujud dan penggaambaran dari mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi lahan bisnis bagi beberapa orang bahkan jika telah  lebih jauh lagi bagi segelintir orang yang tak bertanggung jawab.

Mencerdaskan kehidupan bangsa hanyalah sebagai semboyan belaka bangsa dan menjadi pendidikan yang kurang sesuai dengan arah dan tujuan dari arti pendidikan sendiri.

Oleh karna itu perlu kesadaran bagi setiap orang yang ikut serta andil dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Sehingga menjadi ketimpangan dalam dunia pendidikan di Indonesia dan bukan menjadi hal baru lagi dunia pendidikan di Indonesia memberlakukan system hukum pasar,sekolah favorit mengikuti harga pasar, dimana sekolah yang makin diminati akan semakin mahal dalam biaya administrasi dalam sekolah tersebut.

Sehingga masyarakat yang tidak mampu tidak dapat menuntut ilmu di sekolah tersebut, yang dimana seharusnya pendidikan itu harus adil untuk dapat merata.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Pendidikan dan masyarakat memiliki hubungan yang kuat, dengan terjadinya pergeseran pandangan terhadap pendidikan itu sendiri seiring dengan tuntutan masyarakat (social demand) yang berkembang dalam skala makro.

Masyarakat melihat pendidikan tidak lagi dipandang hanya sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan terhadap perolehan pengetahuan dan keterampilan saja, namun pendidikan dipandang sebagai bentuk investasi, baik modal maupun manusia (human and capital investment).

Pendidikan juga dapat untuk membantu meningkatkan keterampilan dan pengetahuan sekaligus mempunyai kemampuan lembaga pendidikan di masa depan yang diukur dari tingkat penghasilan yang diperolehnya.

Dalam praktik kehidupan sekolah, strategi promosi yang dilakukan  merupakan tantangan tersendiri bagi sekolah untuk mengembangkan strategi promosinya, berbagai media mereka pergunakan untuk menyampaikan komitmen mutu pendidikan mereka. ada beberapa hal yang menjadikan citra.

Hal ini disebabkan karena strategi promosi pendidikan yang masih di anggap kurang di sekolah tersebut. Hal ini terlihat dari kurangnya iklan yang ada, spanduk yang kurang memadai, serta beberapa aspek vital dalam promosi pencitraan.

Namun sekolah tersebut mampu membuktikan citra sekolah yang unggul dan citra yang baik di tengah masyarakat.

Oleh karenanya dalam meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan diperlukan strategi pemasaran pendidikan yang handal selain itu fungsi pemasaran tidak hanya memberi citra akan tetapi memberi nilai serta nuansa keuntungan baik dari pihak sekolah maupun keuntungan bagi publik pengguna jasa. 

Di era globalisasi dan liberalisasi, daya saing sekolah perlu ditingkatkan, tidak hanya aspek lembaga pendidikan, tetapi juga aspek strategi pemasaran.

Strategi pemasaran memberikan arah dalam kaitannya dengan variabel-variabel seperti segmentasi pasar, identifikasi pasar sasaran, positioning, bauran pemasaran, dan biaya pemasaran, dimana strategi pemasaran merupakan bagian integral dari strategi bisnis yang memberikan arah bagi semua fungsi manajemen suatu organisasi.

Pasar dan persaingan antar sekolah menjadi lebih luas dari sebelumnya, baik pada sisi input (calon siswa) maupun sisi output (lulusan sekolah lainnya). Hal ini dimungkinkan mengingat minat dan kebutuhan masyarakat untuk mengikuti pendidikan pada program pendidikan dasar semakin meningkat.

Lembaga memahami sekali tentang perlunya memberi perhatian yang cukup untuk membangun suatu citra yang menguntungkan bagi suatu sekolah atau lembaga tidak hanya dengan melepaskan diri terhadap terbentuknya suatu kesan publik negatif.

Lembaga juga berharap bahwa strategi promosi yang dilaksanakan dapat membantu meningkatkan citra sekolah atau lembaga itu sendiri.

 Periklanan bukanlah satu-satunya cara untuk meningkatkan penjualan, karena banyak faktor lain yang turut mempengaruhnya.

Meskipun demikian, periklanan menempati posisi yang penting serta bertujuan searah dengan tujuan bagi pelaksanaan strategi pemasaran apabila dilakukan dengan sasaran dan tujuan yang tepat.

Strategi promosi melalui iklan akan efektif apabila tercipta kondisi meningkatnya apresiasi positif dari publik terhadap lembaga pendidikan.

Pendekatan periklanan yang tepat adalah bila tujuan periklanan diarahkan untuk memberikan tahap-tahap kesiapan pengguna jasa untuk masuk kedalam lembaga pendidikan yang dituju.

Lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap praktek pendidikan baik positif ataupun negatif.

Lingkungan pendidikan sebagai tempat berlangsungnya proses pendidikan, merupakan bagian dari lingkungan sosial. Lingkungan pendidikan sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan sebab lingkungan pendidikan tersebut berfungsi menunjang proses belajar mengajar secara nyaman, tertib, dan berkelanjutan.

Dengan suasana seperti itu, maka proses pendidikan dapat dilaksanakan. Lembaga pendidikan adalah suatu badan yang berusaha mengelola dan menyelengglarakan kegiatan-kegiatan sosial, kebudayaan, keagamaan, penelitian keterampilan dan keahlian,yaitu dalam hal pendidikan intelektual, spiritual, serta keahlian/ keterampilan.

Sebagai tempat atau wadah dimana orang-orang berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin dan terkendali, dalam memanfaatkan sumber daya, sarana-parasarana, data, dan lain sebagainya yang digunakan secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan pendidikan.

Kini yang namanya pendidikan tidak lagi hanya mengurusi belajar dan mengajar di kelas, tetap semuanya sudah berbau dengan yang namanya uang atau bisnis.

Lihat saja mulai dari pendaftaran masuk ke sekolah.Konon yang katanya “bebas biaya” dalam kenyataannya masih banyak terjadi pungutan-pungutan tidak resmi, entah dengan alasan biaya pembelian map,biaya ganti foto copy atau biaya lainnya.

Apalagi ketika seorang siswa sudah mulai masuk sekolah, orang tua harus siap-siap mengeluarkan biaya ekstra, mulai dari membeli baju seragam, pakaian olahraga, atau membeli buku tulis, buku paket atau buku LKS (Lembar Kerja Siswa).

Bahkan ada beberapa sekolah yang mengharuskan orang tuanya untuk membeli seluruh pakaian dari sepatu hingga topi ke sekolah walaupun melalui perantara koperasi siswa.

Belum lagi untuk sekolah-sekolah swasta yang memang diperbolehkan memungut biaya seperti pembelian seragam, uang pangkal, iuran bulanan yang tinggi, pembelian buku/LKS dan lain sebagainya.

.Sehingga menyebabkan sistem dari pendidikan di Indonesia kurang merata dalam hal sarana dan prasarana, tenaga pengajar, dan lain-lain. Terutama juga penyetaraan pendidikan bagi kalangan perekonomian rendah yang berada di daerah terpencil.

Oleh karena itu solusi dari pemerintah untuk menangani permasalahan pendidikan dengan perekonomian rendah tersebut yaitu dengan meningkatkan kinerja pemerintah melalui proses memprioritaskan anggaran pendidikan hanya untuk rakyat miskin dengan perekonomian rendah yang berada di daerah terpencil agar nantinya diharapkan bisa untuk meringankan biaya pendidikan bagi putra/putri mereka.

Selain itu pemerintah juga memfokuskan dalam perealisasi anggaran pendidikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), dengan dana tersebut harus direalisasikan secara nyata dan konsisten untuk pendidikan.

Pemerintah juga telah memberikan anggaran 20 % dari APBN untuk pendidikan. Pemerintah juga harus tetap mengawasi penggunaan dana

Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dalam tiap sekolah agar penggunaan dana BOS tersebut tetap digunakan dalam hal semestinya dan diterima oleh siswa/siswi yang benar-benar membutuhkan.

Sehingga tujuan dari pendidikan di Indonesia dapat tercapai dengan baik sesuai dengan apa arti sesungguhnya dari pendidikan itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

https://amalia07.files.wordpress.com/2008/07/kondisi-pemerataan-pendidikan.pdf

https://www.kompasiana.com/didno76/551abc4e813311a81a9de129/ketika-pendidikan-sudah-jadi-bisnis


(Red/Penulis: Iman Setia Luhur dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa )