PENDIDIKAN BERBASIS RISET MEMBANGUN SIKAP KRITIS SISWA

Bogor Now

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Pendidikan dari masa ke masa harus terus menerus mengalami kamajuan sebagai bentuk menjawab persoalan bangsa  serta ikut mengarahkan tujuan bangsa menuju yang lebih baik.

Penyelenggaraan pendidikan ditingkat bangku pendidikan pun juga harus dikenalkan dengan pandangan-pandangan baru tentang pola belajar baru, makna baru sebuah belajar, dan paradigma baru bagaimana seharusnya pendidikan harus digelar di bangku pendidikan.

Yang lebih penting lagi adalah bagaimana pendidikan kedepannya harus dikemas dengan sedemikian rupa untuk menjawab tantangan zaman.

Tuntutan terhadap proses pembelajaran yang berkualitas semakin tinggi seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman ini, diharapkan untuk menyiapkan generasi bangsa untuk menghadapi tantangan  dan kompetensi yang dibutuhkan dimasa depan. 

Salah satu tujuan pembelajaran adalah untuk mengungkapkan data empiris tentang efek dari metode pembelajaran dan kemampuan berfikir kritis terhadap hasil belajar siswa.

Kegiatan pembelajaran akan bermuara pada seseorang melakukan tindakan perubahan tingkah laku melalui kegiatan belajar.

Salah satu perubahan tingkah laku yang diharapkan adalah sikap berpikir kritis pada siswa. Berpikir kritis merupakan proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Informasi tersebut bisa didapatkan dari hasil pengamatan, pengalaman, akal sehat atau komunikasi. 

Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Walker (2013) bahwa berpikir kritis adalah suatu proses intelektual dalam pembuatan konsep, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, dan atau mengevaluasi berbagai informasi yang didapat dari hasil observasi, pengalaman, refleksi, dimana hasil proses ini digunakan sebagai dasar untuk mengambil tindakan.

Ennis (dalam Kuswana, 2012:196) memberikan defenisi berpikir kritis adalah refleksi yang berfokus pada pola pengambilan keputusan tentang apa yang harus diyakini, dan harus dilakukan.

Dari dua defenisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis merupakan suatu proses intelektual yang berfokus pada pembuatan konsep, mengalikasikan, menganalisis dan mengevaluasi berbagai informasi. Kemampuan ini harus dilatih pada siswa, karena kemampuan tersebut sangat diperlukan dalam kehidupan. 

Kemampuan berpikir kritis  siswa sangat perlu dikembangkan demi keberhasilan mereka dalam pendidikan. Kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan atau diperkuat, melalui proses pembelajaran.

Artinya, di samping pembelajaran mengembangkan kemampuan kognitif untuk suatu mata pelajaran tertentu, pembelajaran juga dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Tidak semua proses pembelajaran secara otomatis akan mengembangkan keterampilan berpikir kritis.

Hanya proses pembelajaran yang mendorong diskusi  dan banyak memberikan kesempatan berpendapat, menggunakan gagasan-gagasan, memberikan banyak kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan gagasan-gagasan dalam tulisan, mendorong kerjasama dalam mengkaji dan menemukan pengetahuan, mengembangkan tanggung jawab, refleksi diri dan kesadaran sosial politik, yang akan mengembangkan berpikir kritis siswa.

Dalam bidang pendidikan, berpikir kritis dapat membantu siswa dalam meningkatkan pemahaman materi yang dipelajari dengan mengevaluasi secara kritis argumen pada buku teks, jurnal, teman diskusi, termasuk argumentasi guru dalam kegiatan pembelajaran.

Jadi berpikir kritis dalam pendidikan merupakan kompetensi yang akan dicapai serta alat yang diperlukan dalam mengkonstruksi pengetahuan. 

Berpikir yang ditampilkan dalam berpikir kritis sangat tertib dan sistematis. Berpikir kritis merupakan salah satu proses berpikir tingkat tinggi yang dapat digunakan dalam pembentukan sistem konseptual siswa. Selain itu berpikir kritis siswa dapat dikembangkan melalui pemberian pengalaman bermakna. Pengalaman bermakna yang dimaksud dapat berupa kesempatan berpendapat secara lisan maupun tulisan seperti seorang ilmuwan Kesempatan bermakna tersebut dapat berupa diskusi yang muncul dari pertanyaan-pertanyaan divergen atau masalah tidak terstruktur (ill-structured problem), serta kegiatan praktikum yang menuntut pengamatan terhadap gejala atau fenomena yang akan menantang kemampuan berpikir siswa.

Fenomena rendahnya kemampuan berpikir kritis belakangan nampak di kalangan siswa. Kebanyak lembaga pendidikan ataupun sekolah saat ini seolah-olah menjual kecerdasan dan kepintaran siswa untuk mendapatkan keuntungan, sedangkan siswa yang tidak berprestasi terkadang tidak mendapatkan perhatian yang sama seperti siswa yang cerdas.

Mata pelajaran dikelas terbentuk berkotak-kotak, peserta didik dipaksa untuk mampu memahami dan mampu mengerjakan semua mata pelajaran tanpa kecuali. 

Rahardjo (2018:30) mengatakan bahwa hal tersebut sangatlah jelas menjadi tuntutan bagi siswa. Siswa tidak hanya mendapat tuntutan namun juga tekanan secara tidak langsung, mereka dipaksa untuk mengerjakan hal yang belum tentu mereka sukai sepenuhnya misalnya siswa dipaksa untuk harus mampu mengerjakan matematika, padahal sesungguhnya dia tidak menyukai dan merasa kesulitan bila harus berkutat dengan angka. Siswa sering merasa bosan dengan pembelajaran yang monoton dan kurang menarik, terkadang siswa juga tidak bebas untuk mengutarakan jawabannya, dikarenakan jawaban harus mutlak sama persis dengan kunci jawaban. 

Hal tersebut membuat siswa tidak mendapatkan kemerdekaannya sesuai kodrat anak dan sesuai kodrat alam.Dalam menempuh pendidikan di era saat ini siswa dipersiapkan untuk memiliki keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah,metakognisi,keterampilan berkomunikasi, berkolaborasi,inovasi dan kreasi dan berbagai keterampilan lainnya yang mendukung masa depan. Namun saat pelaksanaan pembelajaran keterampilan tersebut terkadang sangat sulit untuk mereka capai.

Padahal tuntutan pendidikan saat ini pembelajaran harus berpusat pada siswa.  Untuk mendukung pelaksanaan pendidikan tersebut diatas yang sesuai dengan era saat ini sekaligus mendukung keterampilan dan sikap berpikir kritis siswa. 

Salah satu langkah yang dapat ditempuh yaitu memberikan pembelajaran yang bermakna serta berdasarkan kebutuhan siswa dengan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan keterampilan dan kebutuhan siswa yaitu metode pembelajaran berbasis riset. Dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis riset ini maka dalam pembelajaran yang diberikan yaitu membiasakan siswa untuk mengamati secara langsung, atau bahkan melaksanakan serta mengkreasikan apa yang dipelajarinya. 

Riset (penelitian) sebagai proses penyelidikan atau pencarian yang saksama untuk memperoleh fakta baru dalam cabang ilmu pengetahuan merupakan konsep yang tepat untuk  diterapkan dalam pembelajaran.

Dengan diterapkannya metode pembelajaran berbasis riset diharapkan karakter yang dibentuk dalam diri anak adalah jiwa seorang sanitins (ilmuwan). Sikap tersebut ditandai dengan sikap rasa ingi tahu yang tinggi, mampu menyelesaikan setiap permasalahan, dengan sikap berpikir secara sistematik, objektif, dan meiliki dasar pemikiran yang kuat.

Pembelajaran berbasis riset (PBR) merupakan salah satu metode studen centered learning(SCL) yang mengintegrasikan riset di dalam proses pembelajaran.

PBR bersifat multifaset yang mengacu kepada berbagai macam metode pembelajaran. PBR memberi peluang/kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi,menyusun hipotesis,mengumpulkan data,menganalisis data, dan membuat kesimpulan atas data yang sudah tersusun; dalam aktivitas ini berlaku pembelajaran dengan pendekatan “learning by doing”.

Ada beberapa strategi dalam memadukan pembelajaran dan riset yang secara empirik, yaitu; memperkaya bahan ajar dengan hasil penelitian pendidik, menggunakan temuan-temuan penelitian mutakhir dan melacak sejarah, memperkaya kegiatan pembelajaran dengan isu-isu penelitian kontemporer, mengajarkan materi metode penelitian di dalam proses pembelajaran, memperkaya proses pembelajaran dengan kegiatan penelitian dalam skala kecil, memperkaya proses pembelajaran dengan melibatkan siswa dalam kegiatan, memperkaya proses pembelajaran dengan mendorong siswa agar merasa, dan memperkaya proses pembelajaran dengan nilai-nilai yang harus dimiliki oleh peneliti (Masri Kudrat Umar, dkk. 2011).

Red/penulis: MELKIOR MOI HOBAMATAN)

NIM : 2018015179

KELAS : 3E

STATUS :MAHASISWA PGSD UNIVERSITAS SARJAWIYATA TAMANSISWAALAMAT JL. SEMAKI KULON,GANG DAMAI