Permasalahan Sarana dan Prasarana pendidikan Yang Ada di Indonesia

Bogor Now

KORANBOGOR.com.YOGYAKARTA-Permasalahan pendidikan yang terjadi di indonesia adalah masalah kurangnya sarana prasarana pendidikan terutama didaerah-daerah  terpencil. Hal ini menimbulkan kesenjangan dalam mutu pendidikan.

Banyak sekali peserta didik yang tidak bisa menikmati fasilitas sarana dan prasarana yang sama dengan peserta didik yang ada di kota. Hal seperti itu membuktikan bahwa pemerintah kurang memperhatikan fasilitas yang ada di daerah terpencil.

Masalah tersebut biasanya disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya alokasi dana yang terhambat karena banyak sekali kasus penyalahgunaan dana sekolah yang seharusnya digunakan untuk membuat sarana prasarana malah digunakan untuk kepentingan oknum tertentu.

Dan faktor lainnya adalah perawatan yang buruk bisa saja terjadi karena pihak sekolah tidak terlalu memperhatikan bagaimana merawat sarana prasarana yang telah diberikan, sikap acuh tak acuh dan tidak adanya pengawasan dari pemerintah membuat banyak fasilitas sekolah yang terbengkalai. Akibatnya para peserta didik tidak nyaman menggunakan fasilitas karena kondisinya banyak yang rusak.

Hal tersebut menimbulkan beberapa dampak yaitu:

  1. Rendahnya mutu output pendidikan

Minimnya sarana ini menyebabkan generasi muda yang hanya mengandalkan teori tanpa adanya realisasi yang nyata dalam belajar. Mereka hanya belajar dalam angan-angan yang keluar dari realitas yang sesungguhnya.

Kurang terpenuhinya fasilitas pendidikan seperti kerusakan sekolah, laboratorium, dan lain-lain menimbulkan anak didik susah memahami pelajaran tersebut.

Contohnya dalam belajar biologi tetang jenis-jenis bakteri, tentunya kita pasti akan membutuhkan labolatorium agar mengetahui bentuk bakteri secara nyata menggunakan mikroskop.

Jika labolatorium dan perlengkapannya tidak tersedia rasanya kita akan kurang memahami jenis bakteri itu seperti apa jika kita hanya melihatnya melalui buku paket/internet karena kita hanya bisa berangan-angan.

  1. Kenakalan remaja dan perilaku yang menyimpang

Sarana pendidikan yang dimaksud disini bukan hanya laboratorium, perpustakaan, ataupun peralatan edukatif saja, tetapi juga sarana olahraga atuaupun kesenian untuk mengekspresikan diri mereka.

Pelajar saat ini tentunya membutuhkan ruang gerak dalam kematangan emosi, misalnya grub band, sepak bola, basket, badminton,dan lain-lain. Jika hal tersebut tidak terpenuhi cenderung akan membuat perkumpulan yang menyalahi norma.

Solusi yang harus dilakukan agar permasalahan sarana dan prasarana  bisa diperbaiki adalah terorganisirnya koordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, bahkan hingga daerah terpencil sekaligus agar tidak terputusnya komunikasi.

Dengan adanya koordinasi tersebut selanjutnya sarana dan prasarana harus ditingkatkan dalam rangka meningkatkan output pendidikan tentunya kita harus meningkatkan harga maksudnya adalah meningkatkan sarana dan prasarana penunjang pendidikan, yang meliputi:

  1. Sarana fisik

Sarana fisik diperlukan untuk pemenuhan pembangunan gedung sekolahan, laboratorium, perpustakaan, sarana-sarana olahraga seperti lapangan basket dan perlengkapannya, alat-alat kesenian seperti studio musik, dan fasilitas lainnya.

Jika sarana belajar tersebut terpenuhi, tentunya akan semakin memudahkan peserta didik dalam transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

  1. Sarana non fisik

Sarana non fisik ini maksudnya jika system dan pengajaran yang dilakukan itu bermutu, maka akan mempercepat pembangunan nasional. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas pengajar.

Guru harus ditekan demi berjalannya pendidikan itu sendiri. Guru yang profesional pasti dapat memberi pengajaran yang berkualitas bagi anak didiknya dan pengajaran tersebut akan lebih fleksibel.

Dengan adanya peningkatan mutu pengajaran guru ini tentunya akan berdamppak pada membaiknya output pendidikan.

Jika guru tersebut tidak mengajar secara profesional bisa saja anak didik tersebut akan melakukan kenalkalan remaja dikarenakan guru tersebut memberikan perilaku yang tidak semestinya mislanya melakukan hukuman fisik kepada siswa.

Selanjutnya dengan cara  pembentukan lembaga studi mandiri berfungsi sebagai wadah pengembangan kepribadian siswa. Jika lembaga studi ini dapat dibentuk tentunya akan memperbaiki kualitas pendikan siswa maupun menambah pengalaman siswa itu sendiri.

Salah satu wilayah yang mengalami permasalahan sarana dan prasarana ini adalah Kapuas Hulu Kalimanatan Barat. Di wilayah tersebut terdapat salah satu sekolah dasar  yaitu SDN 4 Merakai Panjang yang sering kekurangan siswa karena rata-rata anak di daerah tersebut lebih memilih sekolah ke Negara tetangga yaitu Malaysia.

Kepala sekolah sd tersebut mengatakan “Tahun ini kami tidak mendapatkan siswa baru karena para orang tua dan anak-anak lebih memilih sekolah di Negara tetangga Malaysia”.

Menurut Lambertus, jumlah murid SDN 4 Merakai Panjang saat ini hanya sekitar 12 siswa, bahkan dari tahun ke tahun ada saja siswa yang keluar sekolah dan memilih pindah sekolah di Malaysia.

Hal tersebut terjadi karena sarana dan prasarana yang menjadi faktor penyebab orang tua menyekolahkannya di Malaysia.

Menurut Lambertus bangunan sekolah tersebut memang sudah mengalami banyak kerusakan. Sulitnya medan yang harus ditempuh untuk sampai ke sekolah juga menjadi penghalang bagi siswa.

Referensi:Liputan 6.com http://reskygusniel.blogspot.com/2013/05/problematika-sarana-dan-prasarana.html?m=1 Red/Penulis: Andhin Arofah  )