Santri Milenial

Bogor Now

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Santri adalah orang yang menimba ilmu agama dipesantren. Untuk mewujudkan bangsa yang berkeadaban sangat berpengaruh dan dibutuhkan oleh bangsa terutama Indonesia yang mana di Indonesia pesantren sangat berkembang pesat dan berbagai model tertentu seperti Pondok Salafiyyah yang memfokuskan santri kepada kajian kitab-kitab klasik, pondok moderen yang memfokuskan santri untuk berbahasa dan menghafal Al-Qur’an.

Oleh karena itu santri adalah orang yang menggobarkan semangat api, rela berkorban dan berada pada garis terdepan demi memerdekakan tanah air.

Sekaligus mereka yang menjaga memelihara tradisi- tradisi umat islam, dimana para santri harus menghadapi zaman yang sangat pesat dan sejumlah tantangan di era generasi milenial ditandai dengan semakin berkembangnya teknologi digital.

Dewasa ini perkembangan teknologi sudah semakin maju hal tersebut ditandai dengan teragretnya perkembangan IPTEK dalam segi informasi dan komunkasi khususnya dalam dunia pesantren,perkemabngan iptek sangat mempengaruhi pemikiran para santri yang dulunya mereka hanya berkolaborasi dalam pemikiran yang kelasik,namun meski demikian hal tersebut tidak membuat para santri melupakan perannya dipondok pesantren,hal tersebut didukung dengan adanya beberapa sosial media yang mengapresiasi kegiatan-kegiatan para santri itu sendiri bahkan saat ini sosial media yang berupa instagram sudah menyediakan wadah bagi santri untuk menyalurkan kebolehannya dalam bidang karya ilmiah. Tanpa kita sadari terkadang teknologi membawa kita kepada dampak positif dan negatif. 

Dampak positif nya digunakan dengan sebaik mungkin seperti digunakan untuk media pembelajaran, sarana dakwah dan lain sebagainya.

Sedangkan dampak negatifnya yaitu untuk menyebarkan berita hoaxs, pornografi dan kecanduan bermain game online yang hanya menghabisakan waktu untuk kesenangan sesaat.

Hal tersebut dapat merusak generasi muda yang intlektual dan berkualitas. Karena itu kita yang hidup dizaman revolusi di era milenial ini santri dituntut dituntut untuk mengembangkan perannya bukan hanya sekedar menguasai ilmu agama semata, akan tetapi harus memnguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Dalam hal tersebut santri mempunyai intlektual yang keritis dalam bidang ilmu agama mereka mempunyai keahlian dalam bidang ilmu alat seperti ilmu Nahwu, ilmu Shorof dan lain-lain, mereka juga punya keahlian dalam membaca kitab-kitab klasik atau kitab kuning.

Pada dasarnya dipesantren santri di didik akan soal karakter, rasa ingin tahu, kreativitas, kerjasama, serta penyesuaian diri. Santri yang terbiasa menghafal al quran dan sejumlah dalil- dalil serta kaidah harus memiliki daya pemikiran yang kritis, karena santri adalah agen islam rahmatan lil alamin. Tidak terjebak dalam skinterisme agama yang merusak keaslian agama islam. 

Santri milenial harus mampu berkomunkasi dan bergabung dengan berbagai pihak untuk memberi pengaruh positif terhadap semua kalangan, Sebab untuk memperjuangkan kebenaran bukanlah suatu hal yang mudah melainkan butuh dukungan banyak orang.

Begitu pula dengan kreatifitas santri dalam aktivitas dakwah senantiasa harus berlatih dan dikembangkan dalam lingkungan kehidupan.

Tentunya tidak semua santri memiliki kompotensi interdisipliner paling tidak ada santri yang memfokuskan pada kajian dunia keislaman sehingga mereka menjadi ustadz atau ulama yang komponten dalam bidangnya, dan adapun santri yang dipersiapkan menjadi ilmuan yang menguasai kajian sains dan teknologi dan akan menjadi ilmuwan dalam bidangnya serta berbagai profesi dengan pribadi yang unggul beriman, berakhlakkul karimah sebagai benteng utama santri. 

Sepatutnya sebagai orang tua muslim menjadikan pesantren sebagai wadah untuk anak-anaknya menimba ilmu karena dipesantrean anak akan dididik menjadi anak yang soleh/soleha, cerdas, dan beraklhakul karimah, karena suatu saat mereka akan menjadi pejuang bagi bangsa dan negara,

Jika revolusi jihad yang dikokohkan oleh KH.Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober yang bertepatan pada hari Santri Nasional yaitu mampu menggerkan santri yang berpikir kritis dan rela berkorban demi kebangsaan, jadi menjadi santri di era milenial ini harus tetap berpikir kritis dan bertindak untuk mempertahankan NKRI untuk mewujudkan bangsa yang berlandaskan Pancasila, terhormat dan bermartabat.

(Red/penulis: KURNIA SANDI,Dari universitas Sarjanawiyata Tamansiswa)