Sendiri di Perantauan, Aku Rindu Ibu

Bogor Now

KORANBOGOR/com.YOGYAKARTA-Ibu adalah orang yang mengandungku selama 9 bulan, melahirkanku dengan pengorbanan dan merawatku dengan kasih sayang. Tenaga, pikiran dan perasaan kau keluarkan demi aku anakmu. Ibu yang selalu menasehatiku jika aku salah, selalu memberiku semangat jika aku sedang jatuh, selalu mengusap air mataku jika aku sedih, dan menyuapkan makan jika aku sakit. Tanpa lelah ibu menjaga dan merawatku hingga umurku 19 tahun. Tuntutan pendidikan yang membuat aku harus pergi ke perantauan dan meninggalkan ibu di kampung halaman. Sedih rasanya harus pisah dengan orang yang paling aku sayangi. Apalagi pisah dengan ibuku yang sangat perhatian denganku. 

    Sendiri di perantauan, menuntut aku harus hidup mandiri. Untuk makan harus masak sendiri, mencuci baju sendiri dan membersihkan kamar sendiri. Padahal saat aku di rumah ibu yang selalu menyiapkan makan untuk keluarga. Ibu rela bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan untuk anaknya. Kangen rasanya dengan masakan ibu yang dibuatnya dengan penuh rasa sayang. Kangen alarm yang selalu membangunkanku setiap pagi. Kangen dengan perhatian ibu yang selalu memberiku semangat untuk sekolah. 

    Aku ingat dengan pesan ibu “Nak, kamu harus jadi orang yang sukses. Jangan mendengerkan apa kata orang. Yakin kamu pasti bisa, ibu akan selalu memberimu semangat agar kamu bisa menggapai cita-citamu. Tetaplah menjadi orang yang baik, walaupun orang lain tidak baik padamu. Yakinlah Allah pasti akan membalas hal baik padamu.” Ibu semoga engkau selalu sehat dan bisa menyaksikan aku menjadi orang yang sukses. Maafkan aku belum bisa menjadi anak yang bisa membahagiakanmu. Maafkan aku yang sering membuatmu sedih, bahkan mengecewakanmu. Aku berjanji bu, aku akan selalu membahagiakanmu. Ibu aku rindu, aku sangat rindu. Aku selalu sayang padamu ibu. 

(red/Intan Fikri Ahzamy, status: Mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta)