Seorang guru yang membuat siswa mudah memahami pelajaran dan menghindarkan perilaku mencontek

Bogor Now

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Perilaku menyontek adalah kecurangan yang dilakukan untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan cara yang tidak halal seperti membuka catatan,bertanya kepada teman,ataupun melihat langsung jawaban dari internet, dan perilaku lainnya yang tidak dibenarkan untuk dilakukan karena tidak hanya merugikan bagi orang lain, tetapi juga sangat merugikan dirinya sendiri sebagai pelaku sontek..

Saat berusaha mencontek, seorang siswa biasanya terlebih dahulu membuat catatan tentang materi pelajaran yang diujikan. Ia membuat catatan itu sekecil mungkin, sebanyak mungkin materi, dan mudah diakses tanpa diketahui guru atau pengawas.

Namun, mencontek bukanlah perilaku terpuji. Perilaku mencontek siswa inilah yang lantas menginspirasi F.X. Suparmi untuk membikin metode belajar yang mempermudah siswa menguasai mata pelajaran dengan materi gemuk seperti Ilmu Pengetahuan Sosial, Pendidikan Kewarganegaraan, dan lainnya.

Dia menamai metodenya dengan Sitaspin Dalang Jawa (Sitaspin) atau kependekan dari Siswa Membuat Kertas Pintar agar Dapat Melangsungkan Tanya Jawab. Tak seperti kertas contekan, Sitaspin tidak berisi ringkasan materi pelajaran melainkan pokok-pokok materi saja.

Dalam Sitaspin tidak ada rumus, uraian singkat definisi, atau semacam kunci jawaban. Sitaspin hanya memuat pokok-pokok materi pelajaran.

“Jadi enggak ada misalnya definisi ‘globalisasi adalah bla bla bla.’ Tapi dalam Sitaspin hanya ditulis ‘globalisasi titik-titik,'” kata perempuan akrab disapa F.X. tersebut saat ditemui Solopos.com di SMPN 1 Trucuk, Desa Gaden, Kecamatan Trucuk, Klaten, Jumat (2/4/2018).

Pengembangan Sitaspin bermula dari pengalamannya saat sekolah di bangku SMA. Saat itu prestasinya menurun akibat ayahandanya meninggal dunia. Ia dipanggil guru Bimbingan Konseling.

Ia dinasihati dan dimotivasi agar kembali menaikkan prestasi belajar. “Saya amati cara belajar saya sendiri. Biasanya, saat membaca buku sampai tengah, saya lupa bagian depan. Begitu sampai akhir, saya lupa bagian tengah. Begitu seterusnya. Saya butuh cara belajar baru.”

Lalu membuat catatan-catatan kecil dari hasil membacanya. Poin-poin penting ia tulis di kertas sebagai tanda atau bookmark sebuah materi. Catatan-catatan itu semakin banyak seiring makin banyak pula materinya.

Selain itu, setiap anak memiliki kertas pintar yang berbeda-beda sesuai kemampuan masing-masing. Sitaspin itu bisa dijadikan sebagai bahan tanya jawab antarsiswa. Siswa secara berpasangan menguji kemampuan siswa lainnya dengan bekal Sitaspin.

Bisa jadi seorang anak tahu materi itu ada namun tak ditulis dalam kertas pintarnya. Tanya jawab itu menjadi cara koreksi atau upaya pengayaan pemahanan siswa.

“Bikin Sitaspin ini anak harus membaca dulu. Begitu dia paham baru ditulis poin-poinnya. Jadi, enggak menyalin materi tapi hanya menandai,” 

Secara internasional, ada metode yang mirip semacam Sitaspin disebut cooperative script. Namun, cooperative script memiliki celah disalah gunakan untuk mencontek. Sitaspin juga memiliki manfaat lain yakni mendorong siswa lebih aktif dan lebih banyak membaca.

“Kendala di sini adalah membutuhkan ketelatenan anak. Kalau seorang siswa merasa terbantu dengan Sitaspin, saya anjurkan dia buat hal serupa untuk mata pelajaran lain,” terang guru Pendidikan Kewarganegaraan itu.(Red/Penulis: ¬†Fimpi Kurnia Fahyuti dengan Nim 2018015121 dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP), Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)¬†