TAS PAKAIAN DARI KAIN PERCA 

Bogor Now

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Kain perca adalah sisa kain potongan penjahitan konveksi yang sudah tidak tepakai. Sepintas memang kain ini tidak memiliki manfaat, tapi sebenarnya sisa kain ini dapat dimanfaatkan menjadi suatu produk yang bernilai ekonomi tinggi.

Keunikan dan keindahan produk ini akan mengundang respon yang positif dari masyarakat

Seperti Munawaroh yang juga memanfaatkan kain perca untuk membuat tas pakaian. Munawaroh tergabung dalam “ARY PRODUCTION” yang beralamat di Jl. Selarong, Kentolan Kidul Rt 02, Kentolan Kidul, Guwosari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta.

Sebelumnya, perempuan berumur 47 tahun ini hanya menjadi Ibu Rumah Tangga biasa. Dia bergabung dengan “ARY PRODUCTION” ini sejak tahun 2014.

Munawaroh sendiri beralamat di Gedangsari, Baleharjo,Wonosari, Gunungkidul. Setiap satu minggu sekali, pemilik “ARY PRODUCTION” ini akan berkunjung ke rumah Munawaroh untuk mengambil tas yang sudah jadi dan juga mengirimi bahan-bahan untuk membuat tas perca ini.

Kegiatan menjahit sebenarnya sudah ditekuni Munawaroh saat masih muda, namun terhenti karena menikah. Setelah menikah dan menjadi Ibu Rumah Tangga dia memikirkan apa yang ingin dia lakukan untuk mengisi waktu luang dan juga untuk mendapatkan uang tambahan untuk uang saku anak-anaknya.

Kebetulan saat itu seorang temannya ada yang menawarkan untuk mengikuti pelatihan menjahit. Berawal dari situlah dia akhirnya bisa menjadi pegawai “ARI PRODUCTION”. Dia juga bisa melakukan kegiatan tersebut karena adanya dukungan dari sang suami.

Bahan-bahan yang dikirim oleh ‘ARI PRODUCTION” berupa : kain perca yang sudah dijahit rapi menjadi persegi panjang, kain warna untuk mempercantik tampilan dan melapisi tali, lapisan tengah, lapisan bawah/vuring, ritsleting baru dan juga bahan tali berupa kain keras.

Selama satu minggu, dia bisa menjahit hampir 70 buah buah tas di saat benar-benar tidak ada pekerjaan yang mendesak untuk meninggalkan kegiatan menjahitnya.

Upah yang dia dapatkan dari menjahit tas tersebut sebesar Rp 2.700,00/buah. Menurutnya, upah itu sudah lebih dari cukup untuk memberikan uang saku tambahan untuk anak-anaknya.

(Red/  Fiki Nur Isnaini mahasiswa dari Prodi PGSD Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta )