Tema : Budaya dan Pergaulan, Judul : Tari tradisional (Tari Lima Serangkai) di Tahun 2020

Bogor Now

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Tari Lima Serangkai merupakan kekayaan atau warisan yang dimiliki oleh masyarakat Suku Karo,Provinsi Sumatera Utara.Tari Lima Serangkai merupakan salah satu p0warisan budaya yang perlu kita jaga bersama,hal ini adalah salah satu wujud kekayaan intelektual dan kearifan lokal dari masyarakat Suku Karo yang perlu dilestarikan.

 Warisan ini pada zaman dahulu Sangaatlah ternama di Suku Karo.Namun dengan perkembangan zaman semakin hari tarian tersebut semakin pudar karena orang muda lebih menggunakan tari-tarian luar negeri yang modern seperti Dance, dll.

Pada zama dahulu tari Lima Serangkai adalah salah satu tari tradisional Suku Karo yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1956,tarian merupakan tari yang bersifat hiburan dan biasanya ditampilkan pada kegiatan Kerja Tahun/Merdang Merdem(pesta tahunan) dan Gendang Guro-guro Aron. Gendang Guro-guro Aron berasal dari kata Guro-guro dan Aron. 

Guro-guro artinya senda gurau atau bermain, sedangkan Aron artinya muda-mudi (usia tidak dibatasi) dalam satu kelompok kerja berbentuk arisan untuk mengerjakan ladang/kebun.

Gendang Guro-guro Aron merupakan suatu pertunjukan seni budaya karo yang dilakukan oleh muda-mudi yang terdapat dalam kelompok kerja yang mengerjakan ladang/kebun, dengan menampilkan gendang karo dan perkolong-kolong (penyanyi) diiringi tarian yang dilakukan oleh muda mudi yang merupakan salah satu kesenian tradisional masyarakat Karo yang berasal dari Dataran Tinggi Karo, Sumatra Utara, Indonesia yang sering diadakan saat pesta-pesta adat dan acara syukuran seusai panen.

 Seni tradisional ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa (menurut kepercayaan masing-masing) atas kecukupan rezeki atau hasil panen yang berlimpah atau pun juga perayaan atas kegembiraan yang dirasakan.

Pada Gendang Guro-guro Aron tersebut masyarakat karo bernyanyi dan menari bersukaria, yang biasanya dilakukan sepanjang malam, di bawah cahaya bulan purnama.

Dalam pelaksanaanya tarian ini diiringi dengan Gendang Karo dan dipadukan dari lima jenis tari, yaitu tari Morah-morah, tari Perakut, Tari Cipa Jok, Tari Patam-patam Lance, dan Tari Kabang Kiung.

 Selain pesan nilal penghayatan estetis, pengungkapan emosional, hiburan, komunikasi, perlambangan,reaksi jasmani,norma-norma sosial,lembaga sosial,status sosial,kesinambungan kebudayaan,pengintegrasian masyarakat,pendidikan,dibalik Tari Lima Serangkai dan tari-tarian yang lainnya juga memiliki makna filosofis yang mendalam terkait hubungan antar nilai persaudaraan

Untuk mempertahankan warisan budaya ini dan salah satu kejadian atau pengalaman hidup yang sangat sederhana dan sesuatu yang lazim,karena tujuan dari tari tersebut adalah komunikasi antara karya seni dengan masyarakat yang menikmatinya. 

Dan Tari Lima Serangkai ini bertemakan pergaulan, pergaulan yang dimaksud adalah muda mudi Karo.

Yakni pertemuan ramah tamah sepasang insan manusia yang berkenalan secara adat Karo (ertutur), kemudian secara tutur muda mudi ini dapat berteman dekat (berpacaran) dan akhirnya mereka menjalin hubungan kasih hingga sampai kejenjang pernikahan.

Nama : Ekin Suranta Sembiring

Nim    : 2018015352

Status : Mahasiswa  Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Kelas : 3i