MENGETUK PINTU SURGA

Featured

“Kau adalah orang yang sejak dahulu membakar semangat di diri ku.\

Ucap ku di depan foto almarhumah ibu ku yang meninggal beberapa tahun lalu, dia ibu yang hebat. Terkadang dia bangun di tengah malam dan membuatkan makan anaknya yang kelaparan karena tak sempat makan saat kantuk yang tak tertahankan membuatnya tertidur.

Atau saat ia menerobos hujan dan genangan air dengan payung usangnya demi menjemputku sekolah, kemudian aku berada di lindungan payung nya yang amat aman dan nyaman. Dia begitu memikirkan aku dari pada dirinya sendiri, dia begitu hebat.

Tapi sekarang dia tiada, siapa yang mau memikirkan ku? siapa juga yang peduli? hanya setumpuk kekesalan dalam hati yang menjadi makanan ku setiap hari.

Aku hidup di kota antah berantah, aku jauh dari sanak saudara. Kota ini adalah perantauan ku. Aku bersyukur karena hidup ku disini tidak seburuk yang aku duga saat hendak berangkat dan meninggalkan kampung halaman, namun banyak masalah yang terjadi. Begitu banyak hampir membuatku gila, begitu mengganggu dan mengusik perasaan ku.

“Semua nya sudah lengkap belum?” Tanya ku pada seorang teman ku.

“Dino, kamu yakin mau melakukan ini?” Tanya nya balik.

“Aku sangat yakin. Ardi.. selepas tugas mu selesai, pergilah yang jauh, bawa anak dan istri mu dan aku akan menjamin keselamatan mu.” Ujar ku kepada Ardi.

“Tapi Dino-“

“Ardi sudahlah, semua sudah terjadi. Selesaikan tugas mu dan pulanglah ke kampung!” Ujar ku memerintahkan nya.

“Kamu tak seharusnya menanggung ini sendirian.” Ucap Ardi.

“Aku harus.” Jawab ku singkat. Sesaat Ardi seakan menahan tangisnya sambil menatap ke arah lain.

“Sejak awal kita bersama-sama No!” Ucap nya sambil memukul dada ku pelan. Mata nya berkaca-kaca. “Saat semua nya tuntas, susul aku ke kampung.” Ucapnya yang kemudian menaruh koper berisi uang ku yang selama ini ia simpan.

“Aku akan segera selesaikan.” Ucapku dan kemudian meninggalkan Ardi setelah koper ku terima.

Aku beranjak dari kolong jembatan yang kumuh itu, tempat saat pertama kali aku sampai di kota ini. Kami berlindung di bawah jembatan ini dan sepakat menjadikan tempat ini sebagai titik pertemuan terakhir dengan teman setia ku Ardi.

Aku berjalan dengan tegar menuju mobil ku yang terparkir di pinggir jalan yang tidak begitu bagus. Membawa koper yang berisi uang ku. Ini bukanlah uang haram atau uang hasil kejahatan.

Ini adalah harta ku sendiri, uang yang ku kumpulkan dari kerja keras ku yang kini sudah tak ada artinya lagi. Sesaat aku mengingat rumah besar ku yang kini ku berikan ke sebuah panti asuhan beserta semua properti di dalamnya.

  Saat itu mentari tepat di atas kepala ku, begitu terik dan menghangatkan. Aku masuk ke dalam mobil ku yang dingin, sesaat membenarkan kerah kemeja yang ku pakai saat ini lalu menyalakan mesin. Koper ku ada di jok sebelah, kemudian aku mulai melajukan mesin mobil.

*  * *
Siang ini angin berhembus membawa kesejukan di tengah terik nya matahari kota ini. Mobil ku berhenti di sebuah perkampungan kumuh di kota ini. Rumah-rumah nya di bangun disisi sungai yang rentan banjir, temboknya ada yang terbuat dari bilik bahkan beberapa aku melihat tembok yang di buat dengan kardus dan bahan bahan sisa lainnya.

Sangat jelas memperihatinkan, begitu tidak layak. Aku keluar dari mobil sambil membawa koper ku dan menginjak tanah yang lembab ini, begitu banyak sampah berserakan yang hampir menyatu dengan tanah. Aku berani bertaruh! Kau bisa terpeleset jika tak hati hati.

Orang-orang disini memandangi ku, entah apa yang ada di benak mereka. Mungkin aneh bagi mereka melihat orang rapi seperti ku masuk daerah ini, tapi bagi ku ini tak ada salah nya. Aku menyapa beberapa dari mereka, anak-anak mengikuti ku dari belakang saat aku mulai memasuki jalan sempit tak layak dilewati.

“Mau cari apa pak?” Tanya seseorang dari belakang. “Saya yang tanggung jawab disini. Bapak mau kasih surat peringatan penggusuran? Bisa kasih ke saya pak.” Lanjutnya.

“Bukan pak, saya bukan mau gusur.” Jawab ku sedikit geli.

“Terus, cari apa pak sampai kesini?” Tanya nya lagi.

“Saya cari bapak.” Ucap ku tersenyum.

  Aku mengajak nya mengantarku masuk ke rumah nya untuk berbincang sebentar. Rumah yang jauh dari kata layak, atap nya dari besi seng yang tipis dan berlubang.

Tembok nya dari kayu triplek yang semakin hari semakin tipis. Aku duduk di lantai yang terbuat dari bambu namun dilapisi oleh terpal. Aku duduk berdua dengan bapak itu, dia orang yang ramah.

Perawakan nya pendek, kulit sawo matang dengan janggut yang memutih dimakan usia, tak lupa juga sebuah peci di kepala nya yang melengkapi. Sempat menawarkan ku segelas kopi tapi aku menolaknya.

“Saya Sugiarto, Bapak cari saya ada apa?” Tanya bapak itu.

“Nama saya Dino. Disini, tempat ini begitu memprihatinkan.” Ucapku.

“Iya pak, begini keadaan kami. Ingin beli rumah yang layak tapi rezeki belum datang ke saya.” Ucapnya dengan penuh ketabahan dan sedikit senyum.

“Hari ini, rezeki itu datang melalui saya pak.”

“Maksudnya?”

“Semua ini saya persembahkan untuk seluruh penduduk kampung ini.” Ucapku sambil membuka koper yang sejak tadi aku bawa. Wajah bapak itu bingung bukan main, mulutnya menganga sambil menatap uang di koper yang ku buka, sesekali mata nya melirik ke arah ku dengan penuh keraguan atau bahkan kecurigaan.

“Saya belum pernah lihat uang sebanyak ini pak.” Ucap bapak itu sambil menatapku.

“Bapak, saya sudah berikan rumah saya, harta saya, jabatan saya, aset-aset saya dan segalanya. Segalanya telah saya tinggalkan dan sekarang sudah jauh lebih bermanfaat untuk orang lain.” Ucap ku.

  Mata ku berkaca-kaca dan tak sadar air mata mengalir di pipi ku. Aku tak menginginkan reaksi ini namun ini terjadi tanpa aku sadari. Begitu spontan di luar kendali ku, tangan ku bergetar.

“Sebenarnya ada apa pak?”

“Bapak, dengan bapak menerima ini. Bapak telah menolong saya. Gunakan uang ini untuk merenovasi rumah-rumah warga disini. Dengan begitu, tugas saya telah tuntas. Selesai sudah semuanya.” Ucap ku dengan tangisan yang hampir pecah. Namun, berhasil ku tahan dengan mudah.

“Tapi saya perlu tahu atas maksud apa dan dari mana asal uang sebanyak ini. Saya tidak bisa asal terima, orang-orang disini memang susah. Tapi tidak mata duitan. tidak mudah terbius dengan uang banyak yang entah dari mana asalnya ini.”

” Ini hasil kerja saya. Saya supervisor salah satu perusahaan ternama di kota ini. Saya mohon, saya ingin semuanya segera selesai.” Ujar ku pada nya.

Begitu lama percakapan ku dengannya, bahkan sesekali kita berdebat karena uang ini. Bapak itu kebingungan dan memanggil warga untuk dimintai pendapat.

Kami semua saat itu berdiskusi di rumah pak Sugiarto bersama beberapa perwakilan warga, sementara orang-orang lain mendampingi untuk menyimak dan menjadi saksi diskusi ini, bahkan ada yang melihat dari luar rumah melalui celah-celah rumah pak Sugiarto. Ini yang aku mau, aku dikelilingi orang-orang yang membutuhkan semua ini, orang-orang yang baik. Hingga akhirnya kita sampai di keputusan yang kita putuskan bersama-sama.

Semua menjadi saksi saat itu, tidak hanya aku dan pak Sugiarto. Tapi semua penduduk kampung yang memprihatinkan ini. Beberapa bahkan menangis dengan tangisan yang seakan berterima kasih kepada ku.

Tangisan kebahagiaan. Tapi jujur, aku lah yang lebih berterima kasih pada mereka. Beberapa dari mereka memegangi tangan ku, mengajak ku bersalaman. Saat mereka hendak mencium tangan ku, aku menolak. Aku keluar dari rumah pak Sugiarto dengan perasaan tenang, begitu ramai diluar sini. Seperti yang ku duga, mereka hanya ingin berterima kasih sambil mengerumuni ku.

  Aku berjalan di tengah-tengah mereka sambil menatap lurus ke depan. Menatap lurus jalan di depan ku ini, pak Sugiarto dan warga nya melihat kepergian ku dari belakang. Sesaat aku mengingat kawan ku Ardi. Oh kawan, ku harap kau sudah berangkat ke kampung dan sampai dengan selamat. Salam untuk orang tua mu disana.

Aku sesaat tersenyum, aku merasa lega setelah beban ini lepas semua nya, segala nya. Semua telah tuntas dan hal yang lebih besar menunggu ku di luar sana, tepat setelah urusan ku selesai.

  Aku melangkah di jalanan lembab dengan genangan air dan sampah nya. Melewati banyak rumah penduduk yang tidak layak dan membuat miris hati ini, kerah kemeja ku basah karena air mata yang jatuh di rumah pak Sugiarto tadi. Langkah demi langkah aku keluar dari kampung ini, begitu damai. Aku merasa ada bocah kampung yang mengikuti ku dari dalam kampung hingga kesini.

Aku berhenti, tersenyum dan melepas jam tangan mahal yang masih mengikat pergelangan tangan ku. Berbalik badan dan memberikannya ke bocah itu. Betapa riang gembira nya bocah itu. “Asyik! Jam tangan!” Seru nya dengan senang dan berlari memasuki kampung nya.

  Aku kembali berjalan melewati mobil ku yang terparkir. Aku meninggalkannya disana dengan tulisan “Silahkan Ambil” lengkap beserta kunci mobil dan surat-surat nya yang aku tinggalkan di dalam mobil. Aku tak membutuhkannya lagi, apalah arti sebuah mobil untuk keadaan ku sekarang ini. Aku berjalan tak tentu arah sambil melihat ke atas.

Mengamati pergerakan awan putih yang indah dan tenang. Pergerakannya membuat matahari terhalang dan meredupkan sinar nya yang sejak tadi terik. Semilir angin sepoi-sepoi membuat sejuk suasana, sekaligus menerbangkan kerikil-kerikil yang berserakan di jalan ini, sangat damai. Dari dalam saku ku aku mengeluarkan Al-Qur’an mini yang ku bawa setiap saat dan memeluknya di dada ku sambil berjalan sendiri di pinggir jalan yang sepi ini.

“Rumah, Mobil, Uang, Harta, Segalanya sudah aku tinggalkan. Segalanya itu menjadi sesuatu yang bermanfaat dan membantu mereka yang membutuhkan. Sudahkah aku menggapai mu Tuhan?” Tanya ku dalam hati.

Di tengah kekosongan hati dan pikiran ku ini, aku berjalan sendirian. Dan kemudian dari belakang terdengar suara yang tak asing bagi ku, suara yang selalu membuatku kabur saat mendengar nya.

Namun untuk saat ini, aku siap menghadapinya. Aku kabur bukan karena takut, namun hanya belum siap saja. Dan sekarang suara itu, menjadi suara yang sudah ku tunggu sejak tadi di tengah-tengah langkah ku ini. “Lama sekali.” Ucap ku dalam hati.

Aku baru menghentikan langkah ku saat sumber suara itu mendekat dan akhirnya tepat ada di depan ku. Itu adalah mobil kepolisian yang sudah memburu ku selama beberapa hari terakhir.

Sirine polisi itu terdengar mengerikan beberapa Minggu lalu, saat aku di tangkap, di sidang  kemudian kabur. Dan sekarang saat aku tertangkap lagi, suara ini menjadi biasa saja. Aku tersenyum. Para polisi keluar dari mobil mereka, ada sekitar tiga mobil mengepung ku saat itu. Mereka keluar dan menodongkan pistolnya kearah ku, aku mengangkat tangan.

“Mau kabur kemana lagi kamu?” Tanya santai seorang kepala kepolisian yang keluar dari dalam mobilnya.

“Saya tidak akan kabur, ayo saya sudah lelah. Saat nya istirahat. Saya sudah tunggu sejak tadi.” Jawab ku dengan santai pula.

  Seorang polisi dengan sigap menangkap ku dari belakang. Aku tidak melawan, biarlah. Ia memborgol tangan ku, perlahan beberapa polisi lain mendekat sambil tetap menodongkan pistolnya. Mereka membawa ku masuk  ke mobil. Sirine kembali menyala. Aku duduk di antara polisi-polisi itu. Mereka tetap memegang pistol di tangan mereka dengan tatapan dingin. Suasana yang begitu hening di dalam mobil ini. Setelah itu mobil berjalan membawa ku, seorang yang telah melakukan kejahatan dan pantas untuk di hukum.

Aku Dino Wibowo, aku melakukan pembunuhan berencana bersama teman ku Ardi. Dia teman yang setia dan baik, terlalu baik untuk ikut duduk bersama ku di mobil ini. Aku membunuh seseorang yang membunuh ibu ku beberapa tahun silam yang baru aku ketahui sekarang. Bahkan dengan keji nya, malam itu.

Aku bunuh semua keluarga nya tanpa ampun. Ardi yang baik mengingatkan ku namun aku terlalu larut dalam niat iblis ini. Dan sekarang aku adalah seorang terpidana mati yang nisan nya sudah di pajang di tempat eksekusi. Ya, nisan untuk makam ku nanti.

Aku melihatnya, cukup sederhana dengan ukiran nama ku disana. Nisan itu menanti kematian ku, kematian yang akan menjemputku beberapa hari lagi. Aku tak menangis ataupun sedih, aku hanya mengikuti sesuai dengan konsekuensi atas apa yang ku perbuat.

  Oh iya Ardi, Ku harap kamu tidak menunggu ku di kampung. Jangan juga menelpon ku, handphone ku sudah menjadi milik orang lain sekarang, aku bertemu orang itu di jalan, orang itu lebih membutuhkan nya. Aku tidak bisa kabur lagi Ardi.

  Aku melakukan ini atas dasar cinta pada ibu ku, namun jelas ini bukan perbuatan yang benar, jangan ditiru! Kalian masih bisa melakukan hal baik lainnya untuk mengungkapkan rasa cinta kalian terhadap ibu. Asal tidak seperti aku ini, kalau ibu ku melihat ku sekarang, ia akan marah besar dan menampar ku dengan keras, dan menceramahi ku berjam-jam. Aku tidak keberatan mendengarnya asalkan ia tak menangis. Itupun kalau dia ada disini sekarang. Astaga aku mengkhayal.

  Tuhan, tidak kah kau melihat ku sekarang disini, di mobil ini, bersama orang-orang ini. Aku melakukan kebaikan seperti yang kau perintahkan bukan? Walau tak ada artinya lagi sekarang, aku juga tahu aku tak pantas masuk ke surga mu. Namun, dengan semua ini aku merasa telah mengetuk nya. Ya, setidaknya aku mengetuk pintu surga.

“Mulai lah mengetuk pintu surga dari sekarang, semakin banyak kau mengetuk. Lama-lama ia akan terbuka untuk mu.”

End.

Cerpen karya Harry Wijaya

2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.