Indonesia Damai Tanpa SARA

Wisata

KORANBOGOR.com,BANDUNG-Beberapa hari yang lalu kita merayakan kembali 74 tahun pasca kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), merefleksikan bagaimana perjuangan para pahlawan yang dahulu berjuang untuk merebut tanah ibu pertiwi dari tangan penjajah. Ir.Soekarno dan para pejuang lainnya dari Sabang sampai Merauke memutuskan memproklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Tidak pernah terpikirkan oleh mereka akan membangun sebuah negara untuk satu agama atau satu suku saja.

Secara geografis dan teritorial Indonesia memiliki wilayah yang sangat luas dengan segala isinya yang sangat kaya mulai dari Sumber Daya Alam, suku, dan kebudayaan yang sangat banyak tersebar di setiap sudut pelosok negeri.

Berdasarkan survei data Badan Pusat Statistik 2010 Indonesia memiliki 1331 kategori suku yang memiliki Bahasa dan adat istiadat yang berbeda pula dengan jumlah penduduk kurang lebih 242 juta orang, ini menunjukkan bahwa banyaknya keberagaman bangsa Indonesia, tetapi kita sudah memutuskan bahwa kita satu dalam perbedaan tersebut berdasarkan ideologi Pancasila yang sudah di resmikan pada 1
Jnui 1945 lalu,

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia kembali di usik kedamaiannya dengan oknum-oknum yang menggalakkan kembali rasisme dalam ber agama dan ber suku.

Salah seorangpenceramah ulung yang memiliki nama besar dalam salah satu agama di Indonesia menyampaikan ceramahnya dengan menghina simbol agama lain, hal ini pastilah mengusik orang-orang beragama tersebut,dan ini bukan masyarakat Indonesia adalah negeri yangberagama dan negara hukum, segala seuatu nya sudah di atur oleh undang-undang dan yang di lakukan oleh penceramah itu sudah melanggar Undang-undang pasal 156(a) : menyasar setiap orang yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang
dianut di Indonesia atau dengan maksud supaya orang tidak menganut agama apapun.

Sebenarnya kita semua dalam beragama pun sudah di atur dalam undang-undang 1945 pasal 28E ayat 2 tentang kebebasan beragama dan undang- undang 1945 pasal 29 ayat 2 tentang Negara menjamin masyarakat dalam memeluk agama.

Oleh sebab itu siapa pun berhak memeluk dan manejalankan agama nya yang sudah di sahkan oleh pemerintah, dan jangan sampai ada pula oknum yang mencoba mengganggu dan melarang ketika seseorang atau sekelompok orang menjalankan agama nya walaupun dia tinggal dalam lingkungan yang mayoritas ataupun minoritas, dan yang tidak kalah mengusik kedamaian antar perbedaan ras dan golongan dengan video yang tersebar berisikan pengusiran mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya.

Entah bagaimana awal dari permasalahan tersebut hingga ormas-ormas dan TNI mengepung asrama milik Pemda Papua tersebut hingga mengeluarkan kata-kata rasisme yang tidak sepantasnya dilontarkan. Hal tersebut mengoyak-ngoyak hati masyarakat Papua dan juga
seluruh masyrakat Indonesia dan merasa harga diri sebagai manusia merasa di injak,

Oleh karena kejadian itu ribuan mahasiswa di Papua dan beberapa daerah lainnya turun untuk mendukung dan meminta pertanggung jawaban pemerintah atas kejadian ini.

74 tahun sudah Indonesia merdeka, jika di lihat dari umur manusia adalah umur yang sudah tua dapat melahirkan 2-3 turunan, itu menandakan bahwa Bangsa Indonesia seharusnya permasalahan yang terjadi di Indonesia bukan lagi masalah perbedaan, karna perbedaan lah
yang sudah menyatukan NKRI, masalah SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan) seharusnya tidak lagi ada dalam benak masyarakat indoensia. Kepentingan sekelompok orang yang kadang menggunakan isu SARA untuk kepentingan pribadi dan mencoba untuk memporak-porandakan negeri ini.

Sesama masyarakat yang lahir dari bumi pertiwi yang sangat
kaya ini tidak seharusnya menganggap bahwa agama atau suku nya lah yang berhak atas tanah yang dia pijak selama ini. Setiap warga negara berhak atas tanah Indonesia.

Permasalahan SARA ini tidak boleh di anggap sebagai permasalahan yang kecil, karna kita dilahirkan dari perbedaan sehingga kita pun harus menjaga perbedaan satu sama lain.

Isu SARA mungkin kelihatan tidak penting tapi ketika masalah ini muncul maka NKRI yang akan menjadi taruhannya.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang satu dalam keberagaman, dengan ribuan
pulau yang terbentang luas dari sabang sampai Merauke. Tidak boleh ada pendiskriminasian

antar suku, ras, agama dan golongan antara mayoritas dan minoritas. Siapa pun warga negara Indonesia dan berasal dari mana pun dia berhak tinggal di setiap sudut negri ini,

Indonesia akan damai tanpa rasisme dalam kehidupan berbangsa sebagai perwujudan sila ke 3 dalam Pancasila
yaitu “Persatuan Indonesia”.

(red/Jhon Mejer Purba Mahasiswa sarjana dari Institut Teknologi Bandung 
fisika Major
)