KASIH TERKISAH

Kampus Kita Wisata

Kita saling hadir lalu dipermainkan dengan takdir

Saling merasa tapi tak sanggup bersama

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Seumur hidupnya, gadis bernama Abel merasa bangga karena ia diterima di salah satu SMA favorit di Yogyakarta. Apalagi bundanya yang sangat merasa lega, karena bundanya selalu menyuruh Abel untuk mendaftar ke sekolah lain.

Tetapi ia sangat santai, entahlah mungkin sudah merasa akan diterima. Diam-diam ternyata bundanya mendaftarkan Abel ke sekolah lain,“Ya ampun bunda. Sama anak sendiri engga percayaan banget.” Pikirku dalam hati.

Abel memang sudah berjanji akan membuat hidupnya lebih bahagia di SMA ini, dia tidak akan pernah mengingat apa yang sudah terjadi di SMP. Ah menyakitkan. Dia juga tidak terlalu pusing memikirkan lelaki. 

Hari itu ia sudah berniat untuk mendaftar salah satu ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Karena dia memiliki hobi traveling, ya pada akhirnya ia mengikuti ekskul Pecinta Alam.

Ya jalan-jalan sekaligus menjaga alam gitu deh. Beberapa kali ia mulai mengikuti ekstra tersebut, ya awalnya agak membosankan karena masih belum tersusun rapi kegiatan itu. Lalu dibuatlah kelompok outbond sekaligus peresmian jadi anggota ekskul itu.

“Disini ada yang bernama Abel?” kata salah satu senior.

“Saya kak, ada apa?” jawab Abel. 

“Kamu gabung kelompok dengan saya. Itu teman yang lain disana udah pada nunggu.” Kata senior.

Abel mengangguk dan membuntuti kakak senior itu. Sambil berjalan ia memerhatikan tali sepatu yang agak longgar itu, ia berjalan tertunduk agar  tak tersandung sepatunya sendiri. Ia tak berniat untuk mengikatnya dulu karena takut akan tertinggal dengan kakak senior itu. 

Bugghhh… Abel menabrak punggung kakak senior itu.

 “Aduuuhh, kak kalau berhenti tuh jangan mendadak dong jadi nabrak kan.” Jawab Abel dengan sangat kesal.

“Eh kamu tuh yang engga fokus jalannya. Saya perhatiin daritadi jalannya engga liat depan, salah sendiri kan. Harusnya kamu minta maaf udah nabrak saya.” Kata kakak senior.

“Tali sepatuku longgar makanya liat bawah terus, aku takut ntar kesandung. Lagian kakak jalannya cepat banget jadi engga sempet benerin tali sepatu takut ketinggal.” Jawab Abel tidak terima.

“Eh kamu kok nyalahin saya. Udah deh kamu engga malu apa diliatin yang lain? Dah sana duduk.” Kata kakak senior itu.

Dalam hatinya ia masih sangat kesal dengan kakak senior itu. Lalu perhatiannya teralihkan dengan teman Abel yang bernama Abi, ya mereka berdua memang sudah sangat akrab karena rumah mereka saling berdekatan.

Kelakuan mereka kaya tom&jerry, dimanapun kapanpun pasti selalu berantem. Orang tua mereka juga sudah biasa melihat mereka seperti itu, bahkan sudah memakluminya. 

“Buseeett kemana aja sih neng baru nongol, bantuin kucing lahiran? Eh kamu kan takut kucing.” Kata Abi dengan nada mengejek.

“Ih diem deh kamu, Bi. Engga usah bikin mood aku tambah ancur deh.” 

“Udah deh kamu gagal lagi deketin cowok? Apa di selingkuhin lagi? Atau gebetan kamu di ambil temen? Uuuuuuu kasiaan. Hahahha…” 

“Abiiii! Mulai deh. Punya mulut dijaga dong ngeselin banget.” Kata Abel sambil menjambak rambut Abi.

“Awwww, dasar cewek gila. Lepasinn! Sakitt Bel, iyaaa minta maaf deh.” Jawab Abi dengan nada kesakitan.

Mereka nampaknya tidak menghiraukan yang lain. Lalu dengan kakak senior ditegur.

“Itu kalian berdua ngapain rebut sih. Ini lagi perkenalan dengerin! Malah becanda berduaan.” Kata kakak senior.

Tanpa merasa bersalah mereka akhirnya menuruti perintah kakak itu.

“Perkenalkan nama saya Binara Putra Laksana, Panggil saja Bin. Saya disini akan mendampingi kalian dalam pelaksanaan outbond. Dan rekan saya satu lagi yang berhalangan hadir yaitu Setyo.” 

Setelah berkenalan dan mengikuti arahan tentang petunjuk outbond, akhirnya mereka diperbolehkan untuk pulang. Outbond akan diadakan esok hari yaitu hari sabtu, jadi mereka harus mempersiapkan diri masing-masing. 

Keesokan harinya, kegiatan outbond dimulai dari siang sampai sore hari. Kegiatan tersebut berjalan dengan lancar hingga berhasil membuat peserta memiliki bekas entah itu tepung, lumpur, ataupun air. Kelompok Abel juga berhasil unggul bersaing dengan kelompok yang lain.

“Aahhhh sungguh melelahkan.” Kata Abel.

Tiba-tiba kakak senior itu dating mengahampiri Abel.

“Ini buat kamu (sambil membawa minum), udah ambil aja ini bentuk apresiasi saya karena tadi saya liat kamu semangat banget.” Kata Kak Binara

“Ohh.. ya makasih.” Jawab Abel dengan cuek. Sebenarnya dalam hati dia senang ternyata ada memerhatikan, meskipun kakak yang sempat membuat ia kesal kemarin.

Abel melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Ya untungnya dia sudah berganti pakaian. Dengan membawa helm, Abel menunggu Abi yang sangat lama. Berkali-kali Abel menelfonnya tetapi tidak juga diangkat.

Ndreeeeettt… bunyi hp Abel.

“Eh Bi, kamu dimana sih. Aku dah nunggu lama ni malah nlantarin anak orang.” Kata Abel.

“Duh sori, tadi aku duluan soalnya pacarku telfon. Hari ini dia ultah, ya kalik aku engga nyamperin dia.”

“Ih seenggaknya kabarin dulu kek, aku kan dah lama nunggu. Mentang-mentang punya pacar jadi seenaknya. Temen macam apaaa lu Bi.. aku kan………..”

Belum sempat memarahi panjang lebar Abi langsung menutup telfon dan mengirim pesan untuk Abel. Jika tidak begitu, akan habis waktunya dimarahi oleh temannya itu.

Pesan dari Abi Setan:

Aku minta maaf banget, besok aku beliin coklat deh oke. Engga usah marah-marah dijalan malu tuh diliat orang ntar dikira kamu gila lagi haha.

Ntar kalo gila aku bakal jadi orang yang pertama nganter ke rumah sakit jiwa dong haha. Daaaaaaaaahhh, pulang sendiri pesen ojek online aja oke. Tiati Abel Cuantik tapi bo’ong.

Masih dengan perasaan yang jengkel, ia terus-terusan mengumpat Abi. 

Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang menghampirinya.

“kok belum pulang? Yang biasanya bareng itu kemana? Udah gelap lho. Ayo bareng saya saja.” Tawar kak Binara.

“Engga deh kak makasih.” Jawab Abel 

“Beneran nih? Biasanya kalau jam segini sudah engga ada lagi orang yang lewat sini lho. Hati-hati aja ya.” Kata kak Bin

Memang kondisi jalan itu sudah mulai sepi, apalagi bunyi gemuruh sudah terdengar di langit. Ahhhh… gara-gara Abi nih. Awas aja besok kalau ketemu. Katanya dalam hati.

“Ehh tunggu kak, yaudah aku ikut.” Terima Abel

Jarak dari sekolah ke rumah Abel kurang lebih 20 menitan, tetapi ya tau sendiri kan padatnya kota Jogja?

Banyak lampu merah dimana-mana jadi itu yang membuat waktu dijalan jadi sangat lama. Belum ada separuh perjalanan tiba-tiba hujan turun, langsung Binara menepikan motornya di depan toko yang sudah tutup.

Ternyata mereka mulai asik mengobrol sampai hujan mulai reda. Lalu mereka meneurskan perjalanan pulang. Tiga puluh menit mereka saling bercerita, entah seperti sudah kenal lama. Mereka terlihat nyambung dan nyaman saat bercerita.  

Setelah kejadian itu, mereka jadi sangat akrab dan sering bertemu. Abel merasa sangat nyaman jika bersama Binara.

Begitupun sebaliknya, mereka sama-sama bahagia saat bertemu. Masa SMA kali ini Abel merasa lebih baik, baginya mengenal kak Bin itu anugerah yang indah.

Ia suka cara berbicara kak Bin yang selalu menggunakan kata saya. Katanya sudah terbiasa dari kecil.

Perlakuannya pun sangat hangat dan lembut. Semua yang ia lakukan terlihat tulus tanpa kebohongan sama sekali, itu terlihat dari sorot matanya.

“Bel, kamu beneran dekat sama Binara? Seriusan? “ Tanya Abi.

“Ya cuma deket aja, lagian kita belum pacaran.” Jawab Abel dengan santai.

“Kamu jangan berharap berlebihan sama dia deh. Kalau perlu jauhin aja dia. Pendam semua perasaan kamu sama dia.

Plis Bel, dengerin kata aku. Ini semua demi kebaikan kamu.” Kata Abi

“Apaan sih Bi, aneh banget kamu. Ini kan perasaan aku terserah aku dong.” Jawab Abel sambil meninggalkan Abi.

Entahlah apa yang dipikirannya Abi, Abel tidak menghiraukan perkataan Abi itu. Ah biasa paling dia cuma becandaain Abel. 

Pagi hari, Abel berencana mengantar bundanya untuk donor darah di salah satu rumah sakit. Ya memang bundanya itu sering sekali donor darah.

Abel sempat ingin melakukannya tetapi berat badannya kurang ideal jadi apa boleh buat. 

“Ayo nak kita masuk.” Ajak bunda.

“Abel tunggu sini aja deh bun. Semangat Bunda!” Jawab Abel.

“Kayak mau lomba aja haha. Yaudah bunda masuk dulu ya sayang.” Kata Bunda.

Sambil melihat layar ponselnya, ia mengecek apakah ada pesan dari Kak Bin atau tidak. Ternyata tidak ada, ah sudahlah pasti nanti dia juga akan kasih kabar. Tak berapa lama kemudian,dari kejauhan ia melihat sosok yang tidak asing di koridor rumah sakit. Lelaki itu berjalan sambil mendorong kursi roda. 

“Kak Bin?” sambil menghampiri Binara.

“Abel, kamu ngapain disini?” Tanya Binara.

“Lagi nemenin bunda donor kak. Kakak ngapain disini?” Tanya Abel sambil melihat seorang wanita yang bersama Binara yang di dorong memakai kursi roda.

“Eh iya kenalin, ini Tias. Tias kenalin itu Abel adik kelas aku.” Kata Binara.

“Aku Tias, pacarnya Binara.” Kata Tias sambil bersalaman dengan Abel.

“Abel.” Jawabnya singkat. 

Ia merasa ada yang menghambat dadanya ketika perempuan itu mengaku sebagai pacarnya kak Binara. Kenapa sangat sakit sekali? Padahal aku bukan siapa-siapanya. Dengan agak terbata-bata, Abel langsung beralasan untuk pergi menemui ibunya, yah hal itu dilakukannya agar dia bias menghindar dari dua orang itu.

Setelah kejadian itu, Abel selalu mengindar dari Binara. Entahlah melihat lelaki itu sangat menyakitkan. Lebih baik menghindar sampai ia merasa bisa menerima semuanya.

“Aku bilang juga apa. Engga usah berharap sama Binara sok kecakepan itu. Akhirnya sakit hati juga kan. Uuuuu kasian deh temenku gagal lagi.” Kata Abi.

“Ih apaan siapa yang sakit hati. Engga dong Abel kan kuat.” Kata Abel dengan nada sok kuatnya.

“Udah deh engga usah bohong. Tuu keliatan mau nangis hahaha. Ini ada surat dari Kak Bin, mending kalian ketemu biar jelas. Lagian besok juga wisudanya dia. Biar semua clear dan engga ada dendam. Kalau perlu ungkapin aja semua perasaan kamu ke dia setidaknya kan lega ya meskipun cinta yang tak terbalaskan ciaaah sinetron kalik haha.“ saran Abi.

Ya meskipun Abi sering banget nyebelinnya tetapi saran dari dia boleh juga.Abel ingin tau penjelasan yang diberikan oleh kak Bin. Dia juga berencana akan mengungkapkan perasaannya. Toh setelah itu mereka tidak akan bertemu lagi.

Surat:

Dear Abel, saya mohon besok setelah acara wisuda selesai temui saya di café dekat sana. Saya ingin menjelaskan suatu hal. Sudah berkali-kali saya hubungi, nomormu tidak aktif jadi saya titip surat ini pada Abi. Saya tunggu. 

Dari Bin 

Dengan bersusah payah ia bersepakat dengan hatinya. Baiklah Abel siap, ayo hati aku mohon kuat dan terimalah semuanya. Salah sendiri menyukainya. Ah bodoh. Sudahlah semua akan berakhir hari ini. Katanya dalam hati. Jangan ada air mata, sia-sia saja.

Setibanya di café ia melihat lelaki berjas sudah menunggu disana. Ia langsung dipersilahkan duduk. Abel menyuruh Binara untuk cepat saja menjelaskan. Dia tidak mau berlama-lama dengannya. Karena semakin lama akan semakin susah pula ia melupakannya.

“Abel saya mau minta maaf sama kamu. Sebenarnya kami sudah putus sudah tiga tahun lalu ya karena dia memilih bersama laki-laki lain.

Lalu orang tua Tiara membujuk saya agar mau bersama dia lagi.

Mereka menyuruhku agar dia mau untuk berobat. Awalnya saya tidak mau tetapi semua saya lakukan demi orang tua Tiara.Setidaknya agar dia lebih bersemangat saat kemoterapi jika bersama saya.”

Abel hanya mampu menahan air mata yang selalu mendorong untuk keluar. 

“Mungkin alasan itu tidak dapat kamu terima. Tetapi saya senang bisa melihat kamu lagi disini mendengarkan saya. Satu hal yang harus kamu tau, sejak awal saya sudah mencintaimu.

Ya saya yakin akan perasaan itu. Tak peduli bagaimana perasaanmu. Saya berjanji pada diri sendiri untuk menjaga dirimu meskipun dari kejauhan.

Tetapi saya merasa gagal, saat melihat kamu menangis diam-diam. Ternyata kamu menangis karena saya. Disitulah saya tidak akan pernah memaafkan diri saya sendiri. Maafkan saya Abel.”  

Seketika itu, Abel langsung tidak mampu menahan air matanya. Air matanya pun berserakan kemana-mana. Seketika benteng pertahananku hancur, hancur lebur.

Saat itu aku merasakan dekapan yang sangat hangat, ya pelukan itu, tangan yang mendekap itu, detak jantung yang tak beraturan itu, Binara. Aku hanya mampu berkata “aku mencintaimu kak Bin, sungguh.”

“Aku juga mencintaimu, Abel.”

Sejak hari itu, Abel menjadi perempuan yang lebih kuat dan lebih mampu keadaan seperti semula. Ya setidaknya kami menaruh perasaan yang sama itu sudah cukup baginya.

Tak apa jika akhirnya kita memilih kasih yang berbeda

Tak apa pula, biarlah kasih kita menjelma kisah..

(Red/By: Nuariza Hanifa Nufalina)