Kuliner : Es Cao Pecinan

Kuliner Resto

KORANBOGOR.com,SEMARANG-Es cao pecinan, disebut sajian yang tercipta atas akulturasi Tionghoa-Jawa. Kini, barangkali tak mudah untuk menemukannya.

Minuman ini berbeda dengan es cao yang pada umumnya dijajakan. Es cao Pecinan ini dapat dinikmati di Restoran Semarang, Jalan Gajahmada, Nomor 125.

Restoran yang berdiri sejak 1991 ini memang menyajikan kuliner khas Semarangan. Di mana masakan Semarangan dipengaruhi akulturasi budaya.

Jongkie Tio, pemilik restoran menjelaskan, es cao pecinan memiliki banyak variasi bahan di dalamnya. Seperti yang bisa dirasakan, terdapat cao hitam, olahan kolang-kaling berwarna merah dan hijau.

Kemudian kelapa muda, manisan buah mangga, buah tangkweh atau disebut beligo. Yang unik terdapat manisan cermai di dalam minuman yang menyegarkan ini. Sebagai rasa manis terdapat sedikit sirup merah. “Ada rasa-rasa kecut juga itu berasal dari jeruk nipis pecel. In beda,” kata Jongkie yang merupakan Story Teller Semarangan ini.

Jongkie berkisah, minuman ini banyak ditemukan di kawasan Pecinan Semarang pada masa lampau. Apalagi khas manisan cermai di dalam Es Cao Pecinan tersebut. “Pecinan di Semarang ini sangat berbeda dari Pecinan-Pecinan lain di luar Semarang memang,” kata Jongkie sembari bercerita banyak tentang sejarah Pecinan di Semarang yang dahulu dijuluki Kota Pelabuhan ini.

Selain Es Cao Pecinan terdapat lagi minuman akulturasi lain, yakni Wedang Ronde. Minuman penghangat ini sangat disukai masyarakat Indonesia. Minuman yang sangat populer. “Minuman ini sebetulnya disajikan untuk hantaran kepada dewa-dewa Tionghoa. Yang setiap tahunya dirayakan saat Imlek,” katanya.

Uniknya, kata Jongkie, Ronde memiliki unsur Belanda dengan ejaan (e) pada kata B(e)landa yang memiliki arti bulat. Tertuju pada bulatan-bulatan dalam sajian wedang ronde.

“Orang Belanda nyebutnya ronde-ronde. Jadilah nama ronde,” terang Jongkie.

Kata Jongkie, bulatan-bulatan berwarna hijau, putih, dan merah itu memiliki arti bagi warga Tionghoa. Warna hijau berarti penuh harapan, putih berarti hoki, dan merah itu berani.

“Buatan itu juga lengket saat dimakan. Artinya sebagai erat, saling mengeratkan sesama manusia,” jelasnya.(Red)