NASIB WARUNG MAKAN KULINER MALAM DI KEBUPATEN BANTUL DIMASA PPKM JAWA-BALI ”

Bogor Now Kuliner

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-Pandemi virus Covid-19 sampai saat ini tidak kunjung mereda, akibatnya Menteri Dalam Negeri mengeluarkan kebijakan baru yang disebut dengan PPKM Jawa-Bali.

Pada penerapan PPKM Jawa-Bali jilid I yang telah dilaksanakan didapati bahwasanya kebijakan tersebut belum efektif untuk menekan angka kasus Covid-19 oleh sebab itu, Menteri Dalam Negeri kembali memberlakukan PKKM Jawa – Bali jilid II dari hari Selasa 26 Januari sampai dengan hari Senin 8 Febuari 2021.

Dalam kebijakan ini memuat tentang pembatasan kegiatan masyarakat sampai pukul 19.00 WIB. Hal ini memiliki dampak yang cukup besar dalam
berbagai sektor, termasuk dalam sektor perekonomian.

Dalam hal ini, pelaku usaha kuliner malam merasakan dampak yang cukup besar karena jam buka yang bertolak belakang dengan kebijakan tersebut.

Di Kabupaten Bantul sendiri ada banyak pelaku usaha kuliner malam yang mengeluh atas diberlakukanya kebijakan tersebut karena tentu saja itu sangat merugikan mereka.

Mereka terpaksa tidak membuka usahanya untuk beberapa hari, namun bagi mereka yang tidak memiliki usaha sampingan tentu saja hal ini cukup membebani kondisi perekonomian mereka.

Oleh karena itu tak sedikit dari mereka yang nekat tetap membuka usahanya meski dengan rasa cemas jika pada akhirnya akan ditutup paksa oleh pihak yang berwenang.

Dan benar saja banyak dari mereka yang dipaksa tutup oleh Satpol PP yang berpatroli dan mendapati masih ada kegiatan masyarakat yang melebihi batas waktu yang telah ditetapkan.

Para pengusaha kuliner malam tentunya juga tak kehabisan akal untuk tetap bukatanpa diketahui oleh para Satpol PP yang sedang patroli, sebagai contoh warung nasi goreng di daerah Imogiri, mereka mensiasati hal ini dengan mematikan lampu warung mereka ketika jam patroli berlangsung agar tetap bisa membuka warung mereka tanpa diketahui.

Meski begitu, mereka tetap saja kehilangan banyak pelanggan bahkan pendapatan mereka hanya 50% dari pendapatan pada hari – hari biasa.

Hal ini disebabkan karena tak sedikit pula pelanggan yang takut untuk keluar malam melebihi jam PPKM yang telah ditentukan.

Menanggapi kebijakan ini, banyak opini dari berbagai kalangan masyarakat yang diungkapakan sebagai gambaran tentang pandangan mereka dalam menjalani masa PPKMJawa – Bali ini.

Tak jarang pula dari mereka memberikan opini yang bertolak belakangdengan kebijakana tersebut.

Sebagai contoh seperti Warung Mie Des Mbak Anik di Desa Patalan Kabupaten Bantul mengeluhkan pemberlakuan kebijakan PPKM Jawa – Bali tersebut karena dianggap menyebabkan kecemburuan sosial terutama bagi pengusaha kuliner yang bukanya dimalam hari.

Menurut pendapat mereka, selama adanya PPKM Jawa – Bali ini menyebabkan pendapat perekonomian turun drastis.

Sebelum terjadinya pandemi pendapatan dari usaha kuliner mereka 90-100%, selama terdampak pandemi pendapatan turun menjadi 50-40% dan kini selama adanya PPKM Jawa- Bali pendapatan turun menjadi 30-20%.

Banyak pengusaha kuliner yang berkeluh kesah atas dilakukannya PPKM ini, terutama bagi pengusaha kuliner yang buka dimalam hari.

Mengapa? Karena PPKM ini hanya berlaku dimalam hari seperti,
warung yang hanya boleh buka sampai jam 19.00 WIB selebihnya ditutup atau take away.

Gubernur DIY juga menegaskan untuk membuka warung dipagi hingga siang hari.

Tetapi bagi mereka yang usahanya dimalam hari, tidak bisa begitu saja mengganti jadwal buka tutup warung.

Harus dan perlu adanya kesiapan dan menejemen promosi yang kuat
untuk bisa mengganti jadwal buka tutup dalam menjalankan usaha ini.

Hal ini menyebabkankecemburuan sosial karena banyak yang memiliki prespektif bahwa kebijakan ini merugikan satu pihak saja seolah tidak memikirkan nasib pengusaha kuliner malam.

Selain itu, kebijakan ini dianggap tidak efektif karena banyak dari mereka menganggap bahwa seharusnya kegiatan yang harus dibatasi adalah kegiatan pada siang hari.

Hal ini dikarenakan kegiatan pada siang hari pada umumnya lebih banyak sehingga jika untuk menekan angka penularan Covid-19 maka akan lebih efektif jika pembatasan dilakukan pada siang hari dan bukan pada malam
hari.

Dengan demikian, PPKM Jawa – Bali ini selain memiliki tujun yang baik tetapi juga menuai banyak kontra dikalangan para pengusaha yang berjalan pada jam malam.

Hal ini dapat dirasakan dampaknya bagi pengusaha kuliner malam terutama bagi mereka yang tidak memiliki usaha sampingan diluar jam PPKM Jawa – Bali berlangsung.

Dari hal ini maka dapat dipastikan bahwa mereka sangat keberatan jika harus mengganti atau menutup sementara usaha mereka karena dikhawatirkan kondisi ekonomi mereka akan turun drastis dan tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Malam terutama bagi mereka yang tidak memiliki usaha sampingan diluar jam PPKM Jawa – Bali berlangsung.

Dari hal ini maka dapat dipastikan bahwa mereka sangat keberatan jika harus mengganti atau menutup sementara usaha mereka karena dikhawatirkan kondisi ekonomi mereka akan turun drastis dan tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Penulis : Lina Agustin,Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta)