Pengolahan Ampas Tapioka Menjadi Suatu Olahan Makanan Yang Bergizi

ngt56nshot_79KORANBOGOR.com,MEDAN-Dalam rangka mempertahankan ketahanan pangan nasional, salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan penganekaragaman konsumsi pangan yang memiliki nilai gizi yang tinggi.

Penganekaragaman konsumsi pangan ini akan berhasil dan memiliki nilai apabila kita mampu mengembangkan sumber-sumber pangan lokal yang ada di Indonesia.

Salah satu contohnya adalah dengan pemanfaatan limbah padat tepung tapioka atau ampas tapioka menjadi suatu olahan makanan yang bergizi yaitu “Nusatob” (Nugget Cassava dari Toba).

Upaya pemanfaatan limbah padat tepung tapioka ini merupakan bentuk pengelolaan lingkungan yang inheren dengan kualitas hidup manusia, juga merupakan upaya pengembangan sumber daya manusia yang dapat membuka peluang usaha baru.

Maksud kata inheren disini adalah bentuk pengelolaan lingkungan yang memiliki hubungan erat atau yang melekat dengan kualitas hidup manusia.

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil ubi kayu terbesar ketiga setelah Brazil dan Thailand yaitu sebesar 13.300.000 ton per tahunnya.

Sehingga untuk ketersediaan bahan baku pembuatan “Nusatob” dari ampas singkong tidak akan menjadi masalah.

Seperti halnya dengan nugget yang sudah banyak beredar di pasaran dan digemari oleh masyarakat khususnya anak-anak, diharapkan produk “Nusatob” dari ampas singkong ini dapat menjadi menjadi sumber alternative bahan pangan untuk masyarakat dengan harapan menciptakan nilai tambah pada limbah tapioka daripada hanya dibuang ke lingkungan atau hanya menjadi pakan ternak saja.

Latar belakang pembuatan “Nusatob” (Nugget Cassava dari Toba) adalah karena banyaknya limbah padat atau ampas tapioka yang hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak saja. Pembuatan “Nusatob” ini memiliki varian khusus yaitu sayur-sayuran.

Salah satu alasan yang kuat dalam pembuatan “Nusatob” varian sayur-sayuran ini adalah karena banyaknya anak-anak yang menyukai nugget akan tetapi tidak menyukai sayur-sayuran. Sehingga perlu pemikiran yang luas untuk menghubungkan kedua alasan tersebut, maka dengan demikian dapat kita ciptakan “Nusatob”.

Pemberian nama “Nusatob” adalah karena pembuatan Nugget Cassava ini berasal dari Tobasa, Sumatera Utara. Dan salah satu bahan pokok ampas tapiokanya berasal dari PT. Hutahaean yang terletak di desa Pintu Bosi tepatnya di Jalan Indorayon, Laguboti.

Masyarakat di sekitaran Desa Pintu Bosi ini hanya mengandalkan sistem pertanian yang tidak berkembang sehingga kemungkinan besar tidak menjamin kesejahteraa petani dan keluarganya di desa ini.

Oleh karena itu, jika masyarakat sekitaran desa Pintu Bosi masih memiliki pemikiran yang hanya mengandalkan sistem pertanian yang tidak berkembang, maka sangat kecil kemungkinan yang akan terjadi untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat di desa Pintu Bosi.

Saat ini peluang untuk pengolahan limbah sangatlah menjanjikan bagi masyarakat di sekitaran desa Pintu Bosi. Di desa Pintu Bosi sendiri memiliki pabrik pembuatan tepung tapioka yang merupakan milik PT. Hutahaean. PT. Hutahaean ini sendiri menghasilkan limbah padat dan cair serta ampas tapioka sekitar 67 ton/hari.

Akan tetapi sayang sekali, pabrik biasanya menjual ampas tapioka tersebut hanya untuk pakan ternak yaitu sekitar 12.000/karung dengan berat isi per karung sekitar 50 kg. Sangat disayangkan jikalau ampas tapioka hanya dimanfaatkan untuk pakan ternak saja.

Untuk merubah pola pikir masyarakat di sekitaran desa Pintu Bosi serta untuk meningkatkan pendapatan masyarakatnya, maka diberikan alternativ yaitu pemanfaatan ampas tapioka menjadi sebuah inovasi atau produk yang baru. Akan tetapi dalam pengolahan ampas tapioka ini kita harus menerapkan prinsip 3R yaitu Recycle, Reduce dan Reuse agar pengelolahan ampas tapioka nya dapat berjalan dengan baik.

Salah satu inovasi yang baru yang dapat kita buat dengan memanfaatkan limbah padat ataupun ampas tapioka adalah “Nusatob” (Nugget Cassava dari Toba) yang diperoleh dari konsep recycle.

Ampas yang diproduksi oleh PT. Hutahaean dapat diolah menjadi nugget. Bahan dasar pembuatan nugget ini adalah ampas tapioka itu sendiri dicampur dengan sayur-sayuran, bawang putih, bawang bombay, tepung terigu, tepung panir, garam, gula pasir, merica bubuk dan putih telur. Dalam pembuatan “Nusatob” bahan-bahan yang digunakan sangat mudah untuk didapatkan.

Dalam hal pemasaran yang dapat dilakukan adalah dengan memperhatikan segmentasi pemasaran nugget karena segmentasi pemasaran sangat mempengaruhi kelangsungan dan perkembangan usaha nugget ini sendiri.

Dalam mempromosikan produk “Nusatob” (Nugget Cassava dari Toba), harga yang akan dibuat haruslah terjangkau oleh masyarakat kalangan bawah (murah) dan juga memiliki kualitas rasa yang tidak kalah enaknya dibandingkan produk nugget yang lainnya yang telah beredar di pasaran.

Tidak hanya memiliki rasa yang enak dan murah, produk nugget ini akan diberi label makanan dengan nama “Nusatob” dan akan mendapatkan izin dari BPOM. (Red/PR)

Penulis : Monica Widya Ningsih (Mahasiswi Institut Teknologi Del prodi S1 Manajemen Rekayasa)

Share this Post :