Mimbar Agama Kristen : 3 Kunci Hidup Ayub

blvnshot_79KORANBOGOR.com,-Ayub adalah orang yang berbudi baik, yang kemudian mengalami musibah hebat Ia kehilangan semua anaknya dan segala harta bendanya, lalu dihinggapi penyakit kulit yang menjijikkan (pasal1-2).

Dalam tiga rangkaian percakapan yang bersajak, si penulis menggambarkan bagaimana teman -teman Ayub,dan Ayub sendiri menanggapi malapetaka itu.

Pokok yang penting dalam percakapanpercakapan itu ialah yang menyinggung caranya Allah memperlakukan manusia (pasal 4-31) Teman - teman Ayub menjelaskan penderitaan Ayub itu menurut ajaran agama yang tradisional

Pada sangka mereka, Allah selalu mengganjar orang yang baik dan menghukum orang yang jahat. Jadi, penderitaan Ayub hanya dapat berarti bahwa ia telah berbuat dosa.

Tetapi bagi Ayub pendapat itu terlalu dangkal; tidak sepantasnya ia mendapat hukuman yang sekejam itu, sebab ia seorang yang sangat baik dan jujur.

Ia tidak dapat mengerti mengapa Allah membiarkan orang seperti dirinya mengalami begitu banyak bencana,sehingga Ayub harus mengeluarkan kata penyeselan kenapa ia harus lahir ke dunia, (10:18)

Ayub tidak kehilangan kepercayaannya kepada Allah, tetapi ia sungguh sungguh ingin supaya dibenarkan oleh Allah dan supaya mendapat kembali kehormatannya sebagai orang yang baik (pasal 19 ) Pada bagian terakhir, Allah sendiri menyatakan diri-Nya kepada Ayub ( pasal 38-42).

Disini saya akan mulai membahas tentang 3 kunci hidup Ayub yaitu :

1. Ayub hidup SalehSaleh itu hidup suci dalam segala segi hidup, Ayub hidup dalam kesucian, tidak ada dosa, tidak hidup dalam dosa dalam segala segi hidupnya di hadapan Tuhan (kalau suci di hadapan manusia itu belum betul-betul suci , sebab penilaian manusia itu terbatas, sebab manusia hanya bisa melihat dari luar saja).

Kalau Tuhan yang mengatakan bahwa Ayub suci, itu betulbetul suci, sebab Allah tahu sampai dalam hati dan pikiran angan-angannya.

Ini suatu prestasi atau keadaan yang sangat indah. Dalam Alkitab KJV disebut blameless, tidak bercacat cela.

Pengakuan Allah ini suatu penilaian yang sangat tinggi dan mulia, lebih dari gelar S3 atau Nobel atau gelar apapun dalam dunia ini, suatu kehormatan di hadapan Allah, itu sangat indah dan sangat mulia serta berlaku sampai kekal !
Lebih ajaib lagi, setiap orang beriman bisa mendapatkan penghargaan yang mulia ini, sebab Tuhan yang memungkinkannya. Setiap orang yang lahir baru, bisa hidup suci sebab ia sudah ditebus oleh darah Yesus, Yoh 8:36 ia sudah dimerdekakan dari dosa, asal percaya dan mau pasti bisa. Rom 6:2,18.

Sudah banyak orang beriman yang hidup tidak bercacat cela, tetapi ada juga beberapa yang jatuh dalam dosa.
Daudpun pernah jatuh dalam dosa tetapi ia bertobat dan kembali disucikan Tuhan. Lain halnya dengan Saul, ia tidak mau bertobat dan mati dalam dosanya.
Ayub tetap hidup suci, saleh dan Tuhan berkenan kepadanya. Putra manusia Yesus tetap hidup suci sampai ke akhir, ia tetap taat sampai mati disiksa karena dosa-dosa manusia Pil 2:8.

Mengapa hidup Ayub menjadi begitu indah di dunia sampai di Surga untuk kekal. Sebab Ayub memelihara hidupnya dalam kesucian, ini kunci pertama.

2. Ayub takut akan Allah
Maz 112:1 Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.
Ams 19:23Takut akan Allah mendatangkan hidup, (ini kunci!) maka orang bermalam dengan puas, tanpa ditimpa malapetaka.
Ams 23:17 Janganlah hatimu dengki akan orang yang berdosa, melainkan takutlah akan Tuhan pada tiap-tiap hari; (TL)
Pkh 8:12-13 Tetapi jikalau orang fasik berbuat jahat seratus ganda sekalipun dan tinggal dengan hidupnya, kuketahui juga bahwa selamatlah kelak segala orang yang beribadat kepada Allah dan yang takut akan hadirat-Nya.
Tetapi orang jahat tiada akan selamat dan tiada melanjutkan umurnya, melainkan seperti bayang-bayang adanya, sebab tiada ia takut akan hadirat Allah. (TL)
Pkh 12:13 Maka kesudahan segala perkara yang didengar ia ini: Takutlah akan Allah dan peliharakanlah segala firmanNya, karena itulah patut kepada segala manusia. (TL)

Dimana saja, dalam keadaan apa saja Ayub takut akan Allah itu berarti ia tetap hidup suci, sebab tahu Allah selalu mengikuti dan melihatnya sampai dalam hati Ibr 4:12 dimana saja dan dalam hal apa saja.
Meskipun:
a) Ada kesempatan untuk berbuat dosa, ia tetap tidak berdosa, sebab takut akan Allah. Ini seperti apa yang dialami Yusuf.

Kej 39:9 bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya.  Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”
b). Sekalipun dijahati orang, ia tetap tidak bereaksi dosa.

Rom 12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!
Di dalam dunia, membalas orang yang berbuat jahat (dengan marah dan benci) menghajarnya (dengan sepuas-puas hatinya) itu tidak salah; tetapi Ayub dan orang-orang beriman tidak demikian. Sekalipun dijahati, tidak timbul dosa dalam hati dan perbuatannya.

c). Sekalipun digoda, diajak atau didorong untuk berbuat dosa, ia tetap tidak berbuat dosa sebab takut akan Allah.
Ini hal yang indah dari Ayub, kunci ke-2 dalam hidupnya, sehingga hidupnya berbahagia sebab disertai, diberkati dan dilindungi Tuhan.

3. Hidup jauh dari yang jahat
Maz 1:1Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
Mengapa orang-orang suci selalu menjauhi yang jahat?

Bukankah Tuhan sudah melepaskan kita dari dosa dan kita bebas dari dosa oleh pekerjaan Kristus? Ya, betul kita bebas, tetapi:
1). Kita bukan kebal dari dosa,
2). Semua orang tetap hidup dalam tubuh daging (yang menarik kepada hal-hal kedagingan dan dosa), sekalipun orang-orang suci yang indah-indah seperti Musa, Daud, Daniel dll.

Sebab itu kalau kita berada di tengah-tengah dosa, daging kita akan dirangsang, dilazatkan oleh dosa, maka tabiat daging akan bangun, tumbuh menjadi makin hidup dan makin kuat.

Apalagi kalau dengan sengaja (= ada keinginan) masih di tengah-tengah dosa, itu sudah berarti kejatuhan, ia sudah berbuat menuruti keinginan hatinya, itu sudah menjadi perbuatan dosa, sehingga dengan demikian roh tertekan, pergumulan daging dan roh menjadi terlalu berat, tidak dapat ditanggung dan biasanya ia sudah dikalahkan dan diperhambakan oleh dosa.

Rom 13:14 Melainkan hendaklah kamu bersalut dengan Yesus Kristus Tuhan itu, dan jangan melazatkan tabiat tubuhmu (artinya bersenang-senang menuruti nafsu daging, TB: Merawat tubuhmu) sehingga menguatkan hawa nafsu. (TL)

Sebab itu orang yang sungguh-sungguh mau hidup suci itu menjauhkan diri dari dosa. Ini adalah tanda bahwa orang itu punya niat dalam hatinya untuk hidup suci, mau hidup suci, sebab itu sebelum jatuh dalam dosa, ia sudah menjauhi segala hal-hal dosa supaya tidak sampai dikuatkan untuk berbuat dosa lalu jatuh.

Jadi menjauhkan diri dari dosa adalah tanda hati yang mau, punya niat untuk tetap hidup dalam kesucian. Sebab itu orang yang mau hidup suci itu menjauhkan diri dari yang jahat.

Kalau orang seperti Ayub toh bertemu dengan perkara-perkara dosa, godaan dan pencobaan, ia tetap tidak akan berdosa, tidak jatuh dalam dosa sebab:
1). Ia memang tidak mau.
2). Roh Kudus selalu standby menolong orang yang memang tidak mau berdosa, dan Roh Kudus di dalamnya ini sangat kuat (1Yoh 4:4).
3). Tuhan yang tahu lebih dahulu, tidak akan membiarkan pencobaan yang lebih besar dari kekuatannya menimpa dia.

Biasanya Roh Kudus akan sanggup memimpin orang-orang seperti ini keluar dari pencobaan itu tanpa jatuh.
Sebab itu orang-orang ini, kalau toh menghadapi godaan dosa, biasanya tetap menang, kecuali kalau ia tertipu lalu ingin, maka ia akan jatuh dalam dosa.

Orang yang ingin berbuat dosa atau yang plin-plan (berbuat juga boleh, tidak berbuat juga tidak apa-apa), tidak akan menjauhi yang jahat sebab mungkin saja ia akan melakukan keduanya.
Jadi menjauhi yang jahat adalah tanda bahwa orang itu memang mau hidup suci, mau tetap lepas dari dosa dan segala kejahatan.

Contoh Yusuf, ia lepas dari pelukan isteri Potifar, hanya baju luarnya yang tertinggal dalam pelukan isteri Potifar Kej 39:12. Sebaliknya Betsyeba waktu dipanggil Daud untuk diajak berzinah, memang mau, kalau ia menolak pasti Daud tidak akan membunuh atau mencelakakannya. Memang si Betsyeba tidak setia dan anak pertama dihukum mati oleh Tuhan 2Sam 11:4.

Jadi sikap seperti ini (menjauhi yang jahat) itu berkenan kepada Tuhan, sebab niat hatinya betul, baik, sungguh-sungguh ingin hidup dalam kesucian.

(Red/Nusye Manuputty,STT Berea Salatiga)

Share this Post :