Kesiapan Pembelajaran Daring Para Guru SD/MI di NTB

Bogor Now Kampus Kita

Artikel ini diyulis oleh Sugianto

KORANBOGOR.com,YOGYAKARTA-COVID-19 telah ditetapkan oleh WHO sebagai pendemi karena telah menyebar hampir diseluruh negara di dunia. COVID-19 yang bermula dari Cina telah menyerang hamper seluruh Negara tak terkecuali Indonesia. Pandemi COVID-19 berdampak besar di berbagai sector kehidupan seperti ekonomi, sosial hingga sector pendidikan.

Di Indonesia, dampak pendemi COVID -19 ini sangat dirasakan oleh dunia pendidikan baik itu lembaga pendidikan formal, non formal hingga perguruan Tinggi.

Dunia pendidikan di Indonesia mengalami polemic karena pandemi COVID-19 yang mengharuskan Menteri Pendidikan RI, Nadiem Makarim mengeluarkan kebijakan untuk merumahkan peserta didik dan melaksanakan pembelajaran dari rumah (learn from home) sehingga para pendidik dalam hal ini guru mendapat tantangan baru
yakni mengajar dari rumah.

Kebijakan ini tentu saja berlaku di Nusa Tenggara Barat. Permasalahan pendidikan muncul satu persatu di tengah hantaman pandemic ini.

Sebagai bagian dari Negara Republik Indonesia, sector pendidikan di NTB harus mengikuti kebijakan pemerintah terkait pendemi COVID-19 ini. Gubernur NTB telah mengeluarkan himbauan terkaitan tisipa sipenyebaran COVID-19 tertanggal 18 Maret 2020.

Ada beberapa point penting dalam himbauan tersebut yang berkaitan dengan pendidikan,yaitu himbauan pelaksanaan belajar mengajar di semua jenjang pendidikan dari PAUD/TK, SD,SMP dan SMA di lakukan dari rumah masing-masing dan para guru atau pengajar dapat melakukan proses mengajar melalui media daring (online).

Para guru juga diperbolehkan dengan pemberian tugas manual apabila
tidak dapat melakukan pembelajaran daring. Melihat kondisi penyebaran COVID-19 yang semakin meningkat dan demi melindungi peserta didik dari paparan virus berbahaya ini,

Gubernur NTB menetapkan kebijakan yang sama seperti pemerintah pusat yaitu mewajibkan siswa belajar di rumah melalui pembelajaran daring.

Hal ini tentu menjadi tantangan yang berat bagi tenaga pendidik di NTB yang terbatas dengan fasilitas yang minim.

Kesiapan dalam pembelajaran dari rumah sistem daring menjadi bervariasi, ada yang siap, terpaksa siap dan bahkan ada yang betul-betul belum siap.

Walau harus di laksanakan tanpa persiapan apapun, sistem pembelajaran harus diubah dari luring (tatapmuka) menjadi daring dengan memanfaatkan teknologi.

Adapun masalah pembelajaran daring di NTB yang bervariasi dapat dikelompokkan sebagai berikut. Masalah Fasilitas Internet.

Masih banyak ditemukan daerah yang belum memilkiakses internet, hal ini menjadi kendala terlaksananya pembelajaran daring tersebut maka pilihan
lain dalam proses pembelajaran adalah penugasan manual, guru sebagai tenaga pendidik telah memberikan tugas-tugas langsung dari buku ajar yang digunakan dalam pembelajaran sehari- hari.

Masalah Orang Tua Pesertadidik. Pembelajaran daring yang dilakukan dirumah masing- masing peserta didik tentunya membutuhkan keikut serta anperan orang tua secara aktif dalam proses pembelajaran.

Namun yang terjadi di berbagai daerah di wilayah NTB, pendampingan
orang tua dalam mendampingi anak-anaknya sangat kurang. Hal ini tidak memungkinkan bagi orang tua peserta didik dengan keadaan ekonomi yang rendah.

Selain itu tingkat pendidikanorang tua juga mempengaruhi dalam pendampingan ke anak, bagi orang tua yang tingkat pendidikannya rendah, pendampingan mengerjakan soal menjadi suatu hal yang sulit untuk
dilakukan.

Jika ada guru telah melakukan kegiatan pembelajaran daring (misalnya melalui WhatsApp) namun orang tua tidak merespon maka guru dengan terpaksa memberikan tugas manual kepada peserta didik yang bersangkutan. (Red)