POTENSI EKONOMI DI MASA PANDEMI COVID-19 DENGAN BUDIDAYA ANGGUR.

Kampus Kita

Pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, kita merasakan dampak yang luar biasa dalam kehidupan kita. Dampak yang kita rasakan salah satunya yaitu dampak ekonomi, sebagian besar orang juga mengalami krisis ekonomi di masa yang sulit seperti saat ini.

Namun apa daya di zaman yang serba kesusahan seperti saat ini kita harus bisa survive demi kehidupan yang akan datang. Salah satu cara kita survive di masa pandemi ini adalah dengan usaha.

Usaha yang dapat kita lakukan salah satunya adalah dengan budidaya, mungkin budidaya anggur bisa menjadi pilihan yang tepat untuk kita. Anggur merupakan tanaman asli Eropa dan Asia Tengah yang kini sudah ditanam di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Di indonesia sendiri, buah ini sangat jarang kita jumpai pembudidayanya.

MENJADI PELUANG USAHA
Dengan belum banyaknya pembudidaya anggur di Indonesia, ini tentunya menjadi peluang usaha yang sangat potensial. Tanaman buah anggur ini kian hari kian banyak peminatnya, ini menjadi indikasi bahwa anggur ini mempunyai prospek yang bagus untukkedepannya.

Apalagi dimasa pandemi Covid-19 ini, dengan diterapkannya work from home (WFH) banyak dari mereka yang mencari kesibukan dengan bercocok tanam salah satunya dengan menanam anggur, ini menjadi salah satu contoh target market.Dalam membudidayakan anggur,bisa dibilang budidaya ini memiliki pangsa pasar yang cukup luas. Ini terjadi karena belum banyak pesaing dan banyaknya permintaan buah maupun bibit anggur ini sendiri.

Padahal, perlu kita ketahui untuk menanam maupun membudidayakan tanaman ini tergolong cukup mudah dan untuk merawatnya sendiri anggur
tidak memerlukan perawatan yang ekstra.

Bahkan untuk membudidayakan anggur ini bisa dilakukan di skala rumah tangga, dan ini bisa menjadi tambahan penghasilan yang menjanjikan untuk skala rumah tangga.Jika kita melihat Kampung Anggur Plumbungan yang berada di Dusun Plumbungan, Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta.

Disana pembudidayaan anggur ini dilakukan di skala rumah tangga. Kampung anggur yang membudidayakan anggur jenis Satriya Tamansari 1 atau anggur Ninel ini memberdayakan warga untuk menanam anggur ini
di pekarangan mereka, dari situlah warga mendapat income dari menanam anggur ini.Anggur yang ditanam warga Dusun Plumbungan, yaitu jenis anggur Ninel mempunyai nilai

ekonomi yang lumayan, anggur ini dijual dengan harga Rp 100.000 perkilogramnya dan untuk bibitnya sendiri bisa dijual dengan kisaran harga Rp 125.000 sampai Rp 200.000 perbibitnya.Bagaimana, cukup menjanjikan bukan? Apalagi di masa pandemi Covid-19
seperti saat ini.

MUDAH DIBUDIDAYAKAN
Ternyata tanaman buah anggur ini mudah dibudidayakan, kenapa? Karena untuk menanamnya saja kita hanya butuh sepetak tanah yang terpapar sinar matahari dan tempat untuk perambatan tanaman ini.

Tetapi sebelum menanam buah ini,kita harus menyiapkan dahulu media tanamnya.Media tanam untuk menanam anggur ini cukup mudah hanya memerlukan arang sekam, pupuk kandang, dan tanah saja.

Cara membuat media tanam ini hanya dengan mencampur arang sekam, pupuk kandang,dan tanah kedalam satu tempatdengan perbandingan 1:1:1 setelah itu kita tunggu sekitar kurang lebih satu minggu, dan media tanam siap ditanami bibit buah anggur.

Untuk membudidayakan anggur ini sendiri tergolong cukup mudah, biasanya pembudidaya menggunakan metode stek dan okulasi.Kedua metode tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing,jika stek lebih mudah dalam mempraktikkannya sedangkan okulasi memiliki kelebihan bibit yang lebih unggul.

Untuk pemula mungkin jenis anggur Ninel seperti yang dibudidayakan di Kampung Anggur Plumbungan bisa menjadi pilihan yang tepat,karena varietas ini memiliki kelebihan daya tahan yang baik terhadap penyakit maupun cuaca,mudah dalam perawatannya, dan tentunya rasa buah yang sangat manis.

Anggur jenis ini cocok untuk yang ingin memulai budidaya, selain memiliki nilai ekonomi yang cukup baik dengan budidaya ini setidaknya akan membantu kita untuk tetap survive di masa pandemi seperti saat ini.

(Penulis: Yunizar Nabiel Makarim dari Prodi Manajemen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa.)