MENUMBUHKAN SEMANGAT BELAJAR PADA ANAK SD

Kampus Kita Politik

-Menumbuhkan semangat belajar pada anak memang naik turun karena anak sekarang cenderung malas untuk belajar dan memilih untuk beraktifitas yang lainnya yang lebih menarik  atau bermain .

Pada umumnya anak belum memahami korelasi antara materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari. Merasa bahwa apa yang dipelajari bukan sesuatu yang penting dan membuat anak malas-malasan dalam belajar.

Untuk menumbuhkan semangat belajar terutama pada anak SD, ada strateginya sendiri yaitu membangkitkan rasa ingin tahu anak karena motivasi belajar berkaitan erat dengan rasa ingin tahu bangkitnya rasa ingin tahu anak terkait materi yang akan dipelajari hal yang menarik dari pelajaran tersebut dan hubungkan dengan apa yang menjadi minat anak.

   Orang tua memegang peranan penting dalam menumbuhkan rasa semangat pada anak dan pentingnya dalam masa tumbuh kembang anak serta membantu sekali untuk mengatasi masalah anak.

Orang tua juga perlu berkomunikasi dengan penuh cinta dalam setiap mendidiknya tidak berkata kasar  dan orang tua harus sabar dalam mendidik anak.

Sebagai orang tua harus mengajak anak untuk belajar dengan cara yang baik dengan mendampingi dan mengajarkan dengan cara menyenangkan. Dengan usia anak yang masih dengan dunia permainan agar anak menjadi senang dan tidak mudah bosan. 

 Semangat bejar pada anak akan bertambah ketika mengetahui materi yang di pelajarinya dengan sendirinya.

Guru juga berperan penting untuk menumbuhkan semangat belajar pada anak kususnya anak SD  seorang guru harus mampu menumbuhkan motivasi belajar sehingga siswanya sealu aktif dalam proses belajar di sekolah.

Guru harus menumbuhkan motivasi belajar pada siswa dan seorang guru harus mampu menghadirkan suasana belajar  yang menarik dan membangkitkan semangat belajar siswa di sekolah.

Seorang guru harus mampu menciptakan sebuah ikatan batin antara guru dengan siswanya sehingga proses belajar di kelas tidak terkesan berinterksi didalam kelas melainkan pembelajaran diarahkan dengan berkomunikasi antara orang tua dan anak sehingga siswa mudah tersentuh dan guru bisa menanamkan nilai-nilai yang baik untuk siswa.

(Red/ Fitriana Puspita Dewi dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.  )