Universitas Katolik Parahyangan Beri Sanksi Tegas atas Dugaan Kekerasan Seksual Dosen

Harus Baca

KORANBOGOR.com,BANDUNG-Dunia pendidikan kembali tercoreng, dengan adanya dugaan Kekerasan Seksual yang dilakukan Dosen  luar biasa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung berinisial SM. Unpar memberikan Sanksi tegas atas perbuatan SM.

Dalam keterangan tertulisnya, Unpar menyatakan SM sudah tidak diperkenankan melakukan kegiatan apapun di lingkungan Unpar sejak 13 Mei 2024. Selain itu Unpar juga membuka ruang laporan atas dugaan kasus yang menyeret dosen pada mata kuliah filsafat sosial dan politik tersebut.

“Sejak munculnya beragam unggahan di media sosial yang menyatakan SM sebagai pihak yang terduga melakukan tindakan kekerasan seksual, yang bersangkutan sudah tidak diperkenankan untuk melakukan kegiatan apapun termasuk tetapi tidak terbatas pada kegiatan akademik dan non akademik di lingkungan Unpar yang diselenggarakan baik secara daring maupun luring per 13 Mei 2024,” demikian pernyataan tertulis Unpar, Selasa (14/5).

Dalam keterangan tertulis tersebut disebutkan juga, sanksi ini dikeluarkan untuk memberi kesempatan proses pemeriksaan, proses pelaporan.

Dan mencegah meluasnya serta pengulangan terjadinya perbuatan serupa. Dengan demikian, sejak tanggal tersebut, seluruh kegiatan yang dilakukan oleh yang bersangkutan (jika ada), di luar Unpar tidak terafiliasi dengan Unpar.

Unpar juga memastikan, Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual, sudah memberikan imbaun kepada setiap pihak yang merasa telah mengalami dugaan kekerasan seksual oleh SM. Jika ada yang merasa menjadi korban, Unpar menyarankan supaya bisa melapor melalui Layanan Pengaduan Kekerasan Seksual di lingkungan Unpar.

Aduan/laporan yang masuk melalui Satgas PPKS UNPAR akan direspons secara normatif dan administratif, sesuai Peraturan Rektor Nomor III/PRT/2022-06/049 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Unpar.

Untuk diketahui bersama, Satgas PPKS UNPAR sudah terbentuk sejak 18 Oktober 2022. Aduan/laporan yang masuk akan menjadi dasar bagi Unpar untuk mengambil tindakan lebih lanjut terhadap SM, sesuai ketentuan yang berlaku. 

Unpar berkomitmen mengawal kasus ini untuk mewujudkan misi kampus aman tanpa kekerasan seksual. Bahkan, Unpar siap memberikan pendampingan bagi sivitas akademika yang merasa telah menjadi korban dugaan kekerasan seksual yang dilakukan SM.

“Unpar akan terus mengawal kasus ini, sesuai dengan komitmen Unpar untuk menjamin kampus aman tanpa kekerasan seksual. Apabila diperlukan, Unpar juga akan memberikan pendampingan bagi sivitas akademika Unpar yang menjadi korban tindakan kekerasan seksual mencakup pemberian layanan konseling, layanan kesehatan, dan bantuan hukum,” diakhir pernyataan tertulis dari Unpar.

Adapun pelaporan bisa disampaikan melalui hotline dengan nomor 081320744852 dan email satgasppks@unpar.ac.id. Korban juga bisa menyampaikan laporannya melalui Instagram @satgasppks.unpar atau melalui layanan pengaduan dengan mengakses https://bit.ly/FormLayananPengaduanKekerasanSeksualdiUniversitasKatolikParahyangan.

Sementara itu, SM mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya. Hal itu diungkapkan SM dalam unggahan di akun X-nya, @syarafmaulini pada 10 Mei 2024. 

Dirinya mengakui bersalah atas perbuatan mengirimkan pesan lewat Whatsapp, DM X, atau Instagram pada sejumlah orang yang dikenal langsung atau sebatas mutual di media sosial, yang berisi pesan genit dan flirting seperti permintaan foto diri (PAP). 

Ajakan untuk bertemu, ajakan untuk berelasi, dan dalam kasus tertentu berujung pada pengiriman pesan mesum, tidak sopan dan tidak senonoh. Hingga ajakan untuk berhubungan seksual, yang menyebabkan perasaan tidak nyaman dan trauma pada korban.

“Saya mengaku bersalah atas perbuatan yang dilakukan pada saat pertemuan tatap muka, dengan sejumlah orang yang saya kenal langsung, yang menunjukkan dan menyampaikan pesan genit dan flirting yang dalam kasus tertentu berujung pada pesan mesum.

Tidak sopan, tidak senonoh, berupa ajakan berelasi, hingga ajakan berhubungan seksual, yang menyebabkan perasaan tidak nyaman dan bahkan trauma pada korban,” katanya.

Terkait postingan di X perihal kasus kekerasan seksual saat dirinya bekerja di T**kom (antara tahun 2013 – 2017), Ia bersedia diperiksa tim investigasi dan bekerjasama penuh mengikuti segala proses yang diperlukan.

SM memohon maaf sebesar-besarnya pada para korban dan juga memohon maaf pada para pihak yang telah dirugikan akibat perbuatan ini.

Termasuk diantaranya teman-teman Kelas Isolasi, komunitas, jejaring, para penerbit, toko buku, penyelenggara acara. Kampus, pihak-pihak lainnya yang pernah dan sedang bekerjasama dengan dirinya.

“Terkait masalah pinjol dan keterlambatan pengiriman buku yang telah dipesan selama hampir dua bulan (sebagaimana dituliskan juga dalam sejumlah postingan di X), akan saya selesaikan secepatnya dan segera menghubungi pihak-pihak yang dirugikan.

Perbuatan yang saya lakukan ini adalah murni kesalahan saya pribadi dan tidak ada sangkut pautnya dengan komunitas, jejaring, dan pihak-pihak lain yang pernah dan sedang bekerjasama dengan saya,” lanjutnya.

SM meminta maaf, sangat menyesal atas perbuatan-perbuatan tersebut, berjanji untuk tidak mengulanginya, bersedia menerima segala konsekuensi, bekerjasama penuh dalam proses pemeriksaan yang dilakukan tim investigasi. Serta bertanggung jawab menanggung seluruh biaya dan menjalankan langkah-langkah yang diperlukan dalam rangka pemulihan psikis para korban.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Kerugian Publik Rp 63 Triliun,Kuota Internet Hangus Diduga Dijual Ulang

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Praktik kuota internet hangus bukan sekadar merugikan konsumen secara individual tetapi berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi masyarakat dalam skala masif...

Berita Terkait