Pria 60 Tahun di Prancis Alami Radang Otak Langka Pasca Vaksinasi AstraZeneca

Harus Baca

Seorang pria berusia 60 tahun di Prancis mengalami efek samping langka berupa radang otak dan sumsum tulang belakang (meningoensefalitis) setelah menerima vaksin Covid-19 AstraZeneca. Kondisi serius ini nyaris merenggut nyawanya dan bahkan sempat kambuh setelah pengobatan awal.

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Menurut laporan Daily Mail pada Minggu (29/6/2025), pria yang sebelumnya sehat ini mulai mengalami gejala sekitar empat minggu setelah menerima satu dosis vaksin AstraZeneca. Ia kesulitan berjalan dan mengalami kebingungan mental, yang mendorongnya segera mencari pertolongan medis di Paris. Hasil pemindaian mengkonfirmasi diagnosis meningoensefalitis, suatu kondisi radang serius pada otak dan jaringan di sekitarnya.

Diagnosis dan Pengobatan Temuan kasus ini dipublikasikan dalam jurnal JAMA Neurology. Dokter tidak menemukan pemicu lain seperti infeksi atau kanker darah, sehingga menyimpulkan bahwa kondisi ini merupakan reaksi imun tubuh terhadap vaksin, yang dikenal sebagai ensefalitis pascavaksinasi—suatu kondisi langka namun berbahaya.

Pria tersebut menjalani pengobatan dengan obat imunosupresan selama enam bulan, yang sempat memperbaiki kondisinya. Namun, tiga bulan kemudian, gejala seperti kesulitan berjalan dan disorientasi kambuh.

Setelah biopsi otak dilakukan, pengobatan dilanjutkan. Tiga tahun setelah kejadian, pasien dilaporkan hampir pulih sepenuhnya, meski masih mengalami gangguan konsentrasi ringan.

Pentingnya Deteksi Dini Dokter menilai kasus ini signifikan karena menunjukkan bahwa deteksi dini dan pengobatan agresif dapat menyelamatkan pasien dari komplikasi neurologis serius. Daily Mail mengutip bahwa transparansi data dan kewaspadaan tetap menjadi kunci dalam menangani efek samping vaksin.

Latar Belakang Efek Samping AstraZeneca Kasus radang otak pasca vaksinasi AstraZeneca bukanlah hal baru. Studi tahun 2023 terhadap 65 pasien menunjukkan bahwa vaksin AstraZeneca paling sering dikaitkan dengan ensefalitis, mencakup lebih dari sepertiga laporan.

Para peneliti menduga ini terkait dengan teknologi vektor virus dalam vaksin, yang menggunakan virus flu simpanse yang dimodifikasi untuk melatih sistem kekebalan tubuh.

Komponen ini diduga dapat memicu reaksi imun abnormal terhadap protein darah platelet factor 4, yang dalam kasus langka menyebabkan pembekuan darah.

Pada 2021, penggunaan vaksin AstraZeneca sempat dihentikan di beberapa negara Eropa setelah laporan tentang Thrombosis with Thrombocytopenia Syndrome (TTS), yaitu pembekuan darah disertai rendahnya jumlah trombosit.

Akibatnya, penggunaan vaksin ini dibatasi untuk usia di atas 40 tahun, karena manfaatnya dianggap lebih besar daripada risikonya pada kelompok usia tersebut.

Catatan tentang Vaksin AstraZeneca Vaksin AstraZeneca menggunakan teknologi vektor virus, yaitu virus flu simpanse yang dimodifikasi untuk membawa gen protein spike Covid-19 guna melatih sistem kekebalan tubuh.

Meski efek samping serius seperti radang otak sangat langka, kasus ini menambah daftar laporan terkait vaksin tersebut. Para ahli menegaskan pentingnya kewaspadaan dan deteksi dini untuk memastikan keselamatan pasien.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Kerugian Publik Rp 63 Triliun,Kuota Internet Hangus Diduga Dijual Ulang

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Praktik kuota internet hangus bukan sekadar merugikan konsumen secara individual tetapi berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi masyarakat dalam skala masif...

Berita Terkait