KORANBOGOR.com-Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi sulit yang dialami komunitas Kristen di desa kuno Taybeh, Tepi Barat, akibat kekerasan yang dilakukan oleh pemukim Israel.
Dalam kunjungannya bersama para pemimpin gereja ke reruntuhan Gereja St. George dari abad ke-5, ia memimpin doa untuk perdamaian di tengah situasi yang kian memburuk.“Sangat sulit membicarakan harapan di tengah situasi ini. Jelas tidak ada hukum di sini.
Satu-satunya hukum adalah kekuasaan,” tegas Kardinal Pizzaballa, yang baru kembali dari konklaf kepausan di Vatikan.Tekanan Berat pada Komunitas Kristen Taybeh
T
aybeh, satu-satunya desa mayoritas Kristen yang tersisa di Tepi Barat, menghadapi tekanan berat dari serangan dan intimidasi pemukim bersenjata.
arga setempat melaporkan berbagai tindakan kekerasan, termasuk perusakan kebun zaitun, penggembalaan ternak di lahan pertanian warga, serta ancaman tertulis seperti “tidak ada masa depan bagimu di sini.
” Jerry Kisah Salwad, seorang peternak ayam di Taybeh, menceritakan pengalamannya kepada The National pada Selasa (15/7). Ia mengungkapkan bahwa pemukim memblokir akses logistik ke peternakannya dan bahkan berusaha merampas kendaraannya.
“Saya mencoba berbicara dengan polisi Israel, tetapi tidak ada jawaban,” keluhnya.Eskalasi Kekerasan dan Minimnya Penegakan Hukum
Pastor Bashar Fawadleh dari Taybeh menyebut desanya sebagai simbol penderitaan luas di Tepi Barat.
“Tanah yang digarap dengan cinta sedang dibakar. Kami tidak bisa mengakses pohon zaitun kami sendiri. Warga diteror di malam hari dan dikepung di siang hari,” ujarnya. Kekerasan juga meluas ke wilayah lain.
Di kota terdekat, Turmus Aya, dua warga Palestina, Sayafollah Musallat (20, warga negara AS) dan Hussein Al Shalabi (23), tewas akibat serangan pemukim.
Menurut data PBB, sepanjang tahun ini, rata-rata dua warga Palestina terluka setiap hari akibat kekerasan pemukim, bersamaan dengan meningkatnya operasi militer Israel di wilayah pendudukan sejak perang Gaza dimulai pada 2023.Meski kasus di Turmus Aya menarik perhatian internasional dan lebih dari 20 misi diplomatik mengunjungi Taybeh, penegakan hukum oleh otoritas Israel tetap minim.
Militer dan polisi Israel menyatakan sedang menyelidiki kasus tersebut, namun berdasarkan pengalaman sebelumnya, keadilan diragukan. Keluarga Musallat juga mengkritik lambannya respons pemerintah AS terhadap kasus warganya.Pernyataan Pemimpin Gereja dan Harapan yang Pudar
Para pemimpin gereja mengecam serangkaian serangan terhadap warga dan properti umat Kristen di Taybeh. Kardinal Pizzaballa, yang dihormati di Israel dan fasih berbahasa Ibrani, tampak pesimistis terhadap tindakan otoritas.
“Saya ragu, tetapi saya berharap,” katanya ketika ditanya soal harapannya.Pastor Fawadleh menegaskan bahwa keberadaan umat Kristen di Taybeh bukan sekadar sejarah. “Kami bukan orang yang lewat, bukan pula migran, bukan orang asing.
Tanah ini bukan sekadar tanah air; ini adalah panggilan, misi, dan perjanjian yang tidak akan dilanggar,” tegasnya.Tayah sebagai Simbol Ketahanan
Dalam situasi yang penuh tekanan, komunitas Kristen Taybeh tetap bertahan. Gereja St. George, meski dalam reruntuhan, menjadi saksi bisu doa-doa perdamaian yang terus dipanjatkan.
Namun, tanpa intervensi nyata dari otoritas, kekerasan yang terus berulang mengancam keberadaan komunitas ini di tanah leluhur mereka.