#PraxiSurvey: Bukan Sekadar Harga,Pengguna Mobil Listrik Indonesia Prioritaskan Faktor Jangka Panjang Ini

Harus Baca

Foto 1a-b: Head of Research Praxis, Garda Maharsi, memaparkan hasil temuan #PraxiSurvey Volume 5 di Jakarta, Kamis (14/8). Dengan 1.200 responden dari 12 kota besar di tanah air, riset berjudul ‘Potensi dan Tantangan Mobil Listrik di Indonesia dari Persepsi Pengguna’ ini secara komprehensif memotret perilaku, preferensi, dan aspirasi para pengguna mobil listrik di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa tren pengguna mobil listrik di Indonesia telah berkembang melampaui sekadar “demam harga murah”, dengan semakin banyak yang memprioritaskan faktor kenyamanan penggunaan, keberlanjutan, dan kebijakan jangka panjang.

Foto 2a-b: (ki-ka) Vice President Teknologi & Inkubasi Produk Niaga PT PLN (Persero), Nuraida PuspitasariSekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Otomotif, HasstriansyahDirector of Public Relations PraxisStephanie Sicilia, dan Content Creator & Car Enthusiast, Malvin Nathaniel (Bestindocars) mendiskusikan perkembangan industri kendaraan listrik di Tanah Air dalam Konferensi Pers Peluncuran Hasil #PraxiSurvey Volume 5. Diselenggarakan oleh agensi public relations dan public affairs Praxis, diskusi panel ini menegaskan bahwa Indonesia berada pada titik krusial transisi menuju mobilitas listrik, sehingga diperlukan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat untuk mempercepat adopsi sekaligus mengoptimalkan potensi ekosistem kendaraan listrik nasional.

Foto 3: (ki-ka) Head of Research Praxis, Garda MaharsiVice President Teknologi & Inkubasi Produk Niaga PT PLN (Persero), Nuraida PuspitasariSekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Otomotif, Malvin Nathaniel (Bestindocars), dan Director of Public Relations Praxis, Stephanie Sicilia berfoto bersama dalam Konferensi Pers Peluncuran Hasil #PraxiSurvey Volume 5. Acara ini mempertemukan pemangku kepentingan lintas sektor untuk menciptakan ruang diskusi mengenai peluang dan tantangan dalam ekosistem kendaraan listrik di Indonesia, sekaligus mendorong kolaborasi untuk pengembangan industri yang berkelanjutan.

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Di tengah pergeseran lanskap otomotif nasional, tren mobil listrik menunjukkan geliat yang semakin kuat dan menjadi sebuah keniscayaan. Seiring meningkatnya minat publik terhadap kendaraan listrik, yang tercermin dari data pengunjung Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 yang meningkat menjadi 485.569 orang dari 475.084 di tahun sebelumnya, menandakan antusiasme publik yang tinggi. 

Lanskap preferensi konsumen otomotif Indonesia menunjukkan sebuah pergeseran fundamental. Bukan lagi sekadar terpikat harga murah, para calon pengguna mobil listrik kini telah berevolusi menjadi konsumen yang lebih matang, dengan pertimbangan yang lebih berorientasi pada fungsi dan nilai jangka panjang.

“Melihat tren tersebut, Praxis sebagai agensi public relations (PR) dan public affairs (PA) meluncurkan hasil riset kelima kami yang berjudul ‘Potensi dan Tantangan Mobil Listrik di Indonesia dari Persepsi Pengguna’. Survei ini secara komprehensif memotret perilaku, preferensi, dan aspirasi dari 1.200 pengguna mobil listrik di 12 kota besar di Indonesia, memberikan peta jalan yang jelas bagi para pemangku kepentingan industri,” jelas President Director Praxis, Adwi Yudiansyah

Survei ini menghasilkan beberapa temuan menarik: 

  • Daya tahan baterai (35,17%) menjadi faktor lebih penting bagi pengguna mobil listrik, mengungguli harga beli (21,33%) dan reputasi merek (18,5%) 
  • Saat dihadapkan pada pilihan promosi, mayoritas responden (52%) menyatakan garansi baterai sebagai penawaran yang paling memengaruhi keputusan pembelian mereka, diikuti dengan diskon harga beli (30%) dan bundling wall charger (10%)
  • Pun hampir separuh responden (46%) menempatkan ketersediaan infrastruktur sebagai prioritas kebijakan utama, yang mencakup perluasan akses Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan jaminan ketersediaan bengkel resmi yang mumpuni
  • Meskipun 79% pengguna menilai pengalaman berkendara mobil listrik lebih baik dibandingkan mobil konvensional, 78% pengguna juga merasa rata-rata durasi pengisian daya selama 6 jam terlalu lama. Angka ini sangat jauh dari durasi ideal yang mereka harapkan, yaitu 1-2 jam atau kurang
  • Selain itu, media sosial (51%) terbukti menjadi platform paling efektif sebagai sumber informasi bagi pengguna mobil listrik dibandingkan pameran otomotif (22%)

Head of Research Praxis, Garda Maharsi, dalam paparannya menyatakan, “Riset ini kami luncurkan untuk memberikan panduan berbasis data yang konkret bagi seluruh ekosistem. Temuan ini menunjukkan bahwa pengguna mobil listrik di Indonesia telah bergerak melampaui ‘demam harga murah’, namun juga memprioritaskan faktor penggunaan hingga kebijakan untuk jangka panjang. Ini menjadi tanda pasar yang semakin dewasa. Harapan kami, data ini dapat menjadi jembatan yang menghubungkan ekspektasi pengguna dengan strategi yang akan diterapkan oleh produsen, pemerintah, dan penyedia infrastruktur, sehingga akselerasi adopsi mobil listrik berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.”

Secara keseluruhan, hasil riset Praxis menegaskan bahwa Indonesia berada di titik krusial transisi menuju mobilitas listrik. Antusiasme dan kepuasan pengguna yang tinggi menjadi fondasi yang kokoh. Kini, tugas bersama bagi seluruh pemangku kepentingan adalah menjawab aspirasi pengguna dengan aksi nyata, membangun ekosistem yang andal, terjangkau, dan mudah diakses, demi mewujudkan masa depan transportasi yang lebih bersih dan efisien.

***

Tentang Praxis

Praxis adalah agensi public relations (PR) dan public affairs (PA) yang berlokasi di Jakarta, Indonesia. Sejak didirikan pada tahun 2011, Praxis telah membantu klien dari berbagai industri dalam membangun dan melaksanakan ide-ide komunikasi untuk menciptakan, memelihara, dan meningkatkan hubungan yang saling menguntungkan dengan masyarakat umum. Selain memiliki spesialisasi dalam kegiatan yang berkaitan dengan media, Praxis juga menyediakan berbagai layanan komunikasi seperti Public Affairs, Government Relations, Communication Research, Executive Training, Digital Activation, dan Media Monitoring

Kontak Media:

Irene Subrata 

Irene@praxis.co.id

Kutipan

Vice President Teknologi & Inkubasi Produk Niaga PT PLN (Persero), Nuraida Puspitasari, “PLN telah menyediakan lebih dari 4.000 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh Indonesia sesuai amanat Peraturan Presiden (Perpres) No. 55 Tahun 2019, termasuk SPKLU tiang yang dikembangkan secara mandiri. Untuk mengatasi keterbatasan lahan, PLN bermitra dengan berbagai pihak melalui skema bagi hasil (revenue sharing), sementara di wilayah pelosok dengan penetrasi kendaraan listrik rendah, SPKLU tersedia di seluruh kantor PLN, baik tipe standard charging maupun fast charging. Di daerah padat, tantangan utama adalah ketersediaan lahan, sehingga kerja sama dengan mitra swasta menjadi penting. Saat ini, rasio SPKLU terhadap jumlah kendaraan listrik di Indonesia berada di kisaran 1:25, dan PLN menargetkan peningkatan menjadi 1:17. Untuk mencapainya, PLN terus mencari metode paling efektif dalam memperluas jaringan, meningkatkan keamanan, dan mempercepat pembangunan melalui kolaborasi dengan pihak swasta.”

Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Otomotif, Hasstriansyah, “Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi hub supply chain kendaraan listrik, sehingga idealnya produksi dari hulu hingga hilir dilakukan di dalam negeri. Saat ini, Indonesia sudah mampu memproduksi baterai, namun sebagian besar komponen masih diimpor meski perakitannya sudah dilakukan di Indonesia. Berdasarkan data Kemenko Perekonomian, kapasitas produksi sekitar 25 ribu unit, sedangkan penjualan mencapai 43–60 ribu unit. Ini menunjukkan peluang besar bagi pengusaha untuk masuk dalam rantai pasok, termasuk memenuhi kewajiban TKDN 40%. Peluang tersebut tidak hanya pada produksi mobil listrik, tetapi juga sektor pendukung seperti komponen SPKLU, aplikasi, hingga aksesoris.”


Director of Public Relations Praxis, Stephanie Sicilia, “Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, industri, praktisi komunikasi, serta para early adopter untuk memberikan edukasi kepada pengguna dan calon pengguna, sehingga adopsi mobil listrik dapat berlangsung lebih cepat dan luas. Edukasi ini tidak hanya soal manfaat, tetapi juga risiko yang mungkin terjadi, karena setiap teknologi dan kendaraan memiliki potensi insiden meski tidak diharapkan. Dengan sosialisasi yang memadai, masyarakat dapat memahami langkah preventif maupun penanganan yang tepat. Mengingat adanya target pemerintah seperti net zero emission, seluruh pelaku dalam ekosistem kendaraan listrik harus saling mendukung untuk mempercepat transisi.”

Content Creator & Car Enthusiast, Malvin Nathaniel (Bestindocars), “Di kalangan pengguna maupun calon pengguna, masih banyak miskonsepsi tentang mobil listrik. Misalnya soal baterai, di mana banyak yang mengira jika rusak harus diganti seluruhnya dengan biaya ratusan juta rupiah. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Setelah saya memahami fakta sebenarnya, keyakinan saya untuk beralih ke mobil listrik semakin mantap. Hal-hal seperti ini penting diketahui oleh kita sebagai pengguna.”

Kind Regards,Audrey Manuputty
Account Coordinator, Praxis

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Kerugian Publik Rp 63 Triliun,Kuota Internet Hangus Diduga Dijual Ulang

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Praktik kuota internet hangus bukan sekadar merugikan konsumen secara individual tetapi berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi masyarakat dalam skala masif...

Berita Terkait