Foto udara suasana salah satu lokasi industri di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Pemerintah menargetkan nilai investasi di KEK Industropolis Batang sebesar Rp75,8 triliun dalam lima tahun ke depan dengan ta(ANTARA/Harviyan Perdana Putra)
KORANBOGOR.com,BATANG-Kinerja sektor manufaktur nasional mengalami kontraksi pada April 2025, tercermin dari Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia di level 46,7, di bawah ambang ekspansi 50, menurut laporan S&P Global.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyebutkan, pelemahan ini dipicu oleh tekanan eksternal dan domestik yang kompleks, dengan potensi berlanjut hingga akhir tahun jika tidak ada intervensi cepat dari pemerintah.
Tekanan Eksternal dan Domestik
Shinta menjelaskan, kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) memengaruhi nilai tukar, memicu cost push inflation pada impor bahan baku, dan menurunkan kepercayaan konsumsi di pasar global. “Kontraksi kinerja manufaktur secara tidak langsung dikontribusikan oleh kebijakan tarif AS,” ujarnya saat dihubungi, Minggu (4/5).
Selain itu, penurunan permintaan domestik pasca-Ramadan dan Lebaran turut memperparah situasi. “Adanya normalisasi demand pasar domestik setelah Ramadan-Lebaran memberikan pengaruh besar, ditambah inflasi Maret yang hanya 1,03% (yoy), di bawah target nasional,” ungkap Shinta. Kondisi ini membuat pelaku usaha manufaktur kehilangan kepercayaan untuk ekspansi, dengan beban produksi meningkat dan permintaan pasar yang lesu baik di dalam maupun luar negeri.
Proyeksi dan Risiko
Shinta memprediksi kontraksi PMI bisa berlangsung hingga akhir triwulan II 2025, bahkan hingga akhir tahun, tergantung pada dinamika global dan respons pemerintah. “Tanpa perbaikan signifikan dalam penguatan nilai tukar, efisiensi beban usaha, dan stimulasi investasi yang mendorong daya beli, PMI sulit kembali ke zona ekspansif,” tegasnya.
Data lain yang sejalan adalah Indeks Kepercayaan Industri (IKI) April 2025 di level 51,90. Meski masih ekspansif, nilai ini melambat 1,08 poin dari Maret 2025 (52,98) dan turun 0,40 poin dibandingkan April 2024.
Desakan pada Pemerintah
Shinta mendesak pemerintah untuk segera menerapkan deregulasi, debirokratisasi, dan stimulus ekonomi secara konsisten. Meski rencana stimulus untuk merespons kebijakan tarif AS dinilai tepat, implementasinya sering lamban dan tidak konsisten. “Berkaca pada UU Cipta Kerja, deregulasi di Indonesia kerap tidak konsisten, bahkan ada yang mundur. Masih terlalu dini untuk menilai dampaknya,” katanya.
Ia menegaskan, Indonesia tidak boleh menunggu hasil perundingan dengan AS untuk bertindak. “The damage has been done dan sudah kita rasakan. Reformasi struktural di sektor usaha dan investasi harus dipercepat untuk menahan perlambatan ekonomi,” ujar Shinta.
Target Investasi dan Harapan
Pemerintah menargetkan investasi Rp75,8 triliun dalam lima tahun di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah, sebagai salah satu upaya mendorong industri. Namun, tanpa langkah konkret untuk mengatasi tekanan eksternal dan domestik, pelaku usaha khawatir target ini sulit tercapai.
Shinta menutup dengan seruan, “Semakin cepat dan konsisten reformasi dilakukan, semakin besar peluang Indonesia menahan laju perlambatan ekonomi nasional.”