KORANBOGOR.com,JAKARTA – Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai vonis 3,5 tahun penjara terhadap Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam kasus suap pengurusan pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR periode 2019-2024 tidak akan memengaruhi perolehan suara PDIP.
Menurutnya, kekuatan PDIP terletak pada militansi kader yang berpusat pada Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, bukan pada Hasto.”Militansi kader PDIP hanya pada Megawati. Ia adalah panutan utama bagi kader dan simpatisan.
Selama Megawati masih memimpin, suara PDIP tidak akan terpengaruh,” ujar Jamiluddin saat dihubungi, Sabtu (26/7). Ia menegaskan bahwa Megawati sebagai tokoh sentral membuat kehilangan Hasto tidak berdampak signifikan pada eksistensi partai.
“Mau 1000 Hasto masuk penjara, PDIP tetap kuat karena pengaruh Hasto tidak sebanding dengan Megawati,” tambahnya.Vonis terhadap Hasto dijatuhkan oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat pada Jumat (25/7).
Majelis hakim, yang diketuai Rios Rahmanto, menyatakan Hasto bersalah dalam kasus suap terkait PAW anggota DPR untuk Harun Masiku. “Terdakwa Hasto Kristiyanto dijatuhi pidana penjara selama tiga tahun enam bulan,” ujar Rios.
Hukuman penjara dihitung sejak masa penahanan Hasto pada tahap penyidikan.Selain hukuman penjara, Hasto juga didenda Rp250 juta, yang harus dibayar dalam waktu satu bulan setelah vonis berkekuatan hukum tetap.
Jika tidak, hukuman penjaranya akan ditambah. Namun, tuduhan perintangan penyidikan yang diajukan jaksa tidak terbukti di pengadilan karena kurangnya bukti.
Jamiluddin menegaskan bahwa loyalitas kader dan simpatisan PDIP tetap terjaga selama Megawati masih menjadi figur sentral partai. “Hasto tanpa Megawati bukanlah siapa-siapa di PDIP,” pungkasnya.