KORANBOGOR.com,JAKARTA-Akuisisi Kapal Induk ITS Giuseppe Garibaldi dari Italia memunculkan pro dan kontradi kalangan pemerhati militer Indonesia, apakah ini merupakan langkah strategis atau pemborosan. Satu isu yang kurang dibahas (karena kapal tersebut menjelang akhir tahun 2026 sudah akan tiba di Indonesia) adalah pentingnya refurbishment (pembaruan dan modernisasi) agar kapal ini dapat berfungsi maksimal sesuai kebutuhan dan bagaimana memanfaatkannya secara maksimal. Pemerintah sendiri konon menyiapkan anggaran hingga sekitar 7,2 hingga 7,5 trilyun rupiah untuk dapat membuat kapal berusia 43 tahun ini menjadi kekuatan kapal induk yang dapat beroperasi optimal mendukung kekuatan militer Indonesia.
Marapi Consulting & Advisory menggelar Podcast untuk membahas hal tersebut
dengan menghadirkan Gerry Soejatman (pengamat militer) dan Alman Hevas Ali (Konsultan Marapi Consulting & Advisory), yang dirilis pada 8 Juni 2026.
Gerry menyatakan kita perlu membagi dua kategori Kapal Induk, yaitu yang dapat beroperasi sebagai kekuatan utama sepenuhnya dengan kemampuan Air wings yang mumpuni, untuk gelar operasi dari atas kapal (air to air, air patrol, air screen, land attack) dan ada jenis light aircraft carrier seperti yang dipakai di Ingggris, lalu semakin mengecil ke helicopter carrier, dimana ITS Giuseppe Garibaldi masuk dalam kelas ini. Kita harus hati-hati memahami ini sehingga kita tahu kapal induk yang ada bisa dimanfaatkan untuk tujuan operasi yang tepat seperti apa. Kapal induk yang kita punya termasuk kategori kapal induk
ringan, bukan untuk sebuah gelar operasi skala massif seperti punya Amerika Serikat. Kita bisa menggunakannya untuk helicopter carrier, untuk kebutuhan operasi perairan dalam Indonesia, bukan untuk tujuan blue water navy (sesuai dengan kelasnya). Kapal ITS
Giuseppe Garibaldi didesain sesuai doktrin militer Italia untuk bisa melakukan operasi cepat di perairan mereka, yang karakternya tidak berbeda jauh dengan perairan Indonesia. Kita bisa menggunakan kesamaan ini menurut Gerry, sebagai dasar untuk menentukan tujuan penggunaan kapal ini.
Sementara menurut Alman, Angkatan Laut (AL) adalah instrumen politik pemerintah, dimana gelar kekuatannya tergantung pada kebijakan politik. Alman mencontohkan Amerika Serikat dan Inggris memiliki kepentingan nasional di luar wilayah mereka, sehingga membangun kekuatan AL yang bisa beroperasi global secara penuh dan parsial. Pernyataannya apakah kita memiliki proyeksi untuk gelar kekuatan di luar wilayah kita. Gagasan tentang Blue Water Navy harus disesuaikan dengan kebijakan luar negeri kita, apakah kita perlu deployment militer ke luar wilayah kita. Kepentingan kita di luar negeri
adalah mengamankan jalur Slog, khususnya minyak. Kedua kita harus memiliki kemampuan bertempur di wilayah ZEE.
Gerry menyatakan bukan berarti kita tidak bisa menggunakan kapal induk kita untuk tujuan gelar operasi di luar wilayah, tetapi kembali pada tujuan negara untuk apa memiliki kapal tersebut. Dengan kemampuannya yang terbatas, maka perlu dipikirkan dukungan lainnya jika ingin dilakukan hal yang demikian. Kapal ini juga bisa digunakan untuk misalnya evakuasi WNI di negara-negara krisis (diplomatic mission) karena mampu bergerak cepat. Namun semua kembali pada doktrin pertahanan kita, akan seberapa jauh melakukan gelar
kapal tersebut. Menurut Gerry, kebutuhan untuk refurbishment adalah sesuatu yang wajar, selama bukan perubahan struktur. Misalnya, sebagai kapal pengangkut helikopter, masih bisa dilakukan penyesuaian, karena sejak awal diluncurkan perkembangan ‘ukuran’ helikopter tidak banyak berubah. Untuk angkutan halikopter kapal ini sudah siap operasi. Dengan alokasi anggaran yang ada, refurbishment menjadi penting menurut Alman, karena ‘perawatan’ terakhir oleh Italia adalah di tahun 2014. Dengan anggaran yang dimaksimalkan untuk ini, bisa menambah usia pakai hingga 2040. Yang penting bagi sebuah
kapal adalah sampai berapa lama ia akan bisa berfungsi dengan baik, yang dalam rangka mewujudkannya perlu dilakukan refurbishment. Dengan anggaran yang ada sebenarnya sudah cukup. Perihal apa saja yang perlu dilengkapi, Gerry mengingatkan agar kita kembali pada tujuan penggunaan kapal tersebut.
Alman mengingatkan agar proses refurbishment ITS Giuseppe Garibaldi dilakukan oleh Fincantieri, karena selama berdinas di AL Italia untuk MRO kapal tersebut dilakukanoleh mereka. Secara logis mereka yang paling kompeten, karena memiliki catatan riwayatkapal tersebut dari tahun 1985 hingga 2024. Kita perlu mempelajari juga untuk kemampuan MRO, dimana ada galangan nasional yang bisa melakukan perbaikan kedepan. Namun untuk awal dilakukan oleh Fincantieri.
Video Ngopi de’Pocast: https://www.youtube.com/watch?v=4Gq-9pZ-4bk
Benny Junito