KORANBOGOR.com,BOGOR-The Jansen being The Jansen. Anda harus membaca rilis ini sampai selesai untuk memahami kalimat barusan. Perjalanan The Jansen tidak dimulai kemarin. Pada Agustus 2016, mereka merilis debut EP bertajuk From Bogor to Japan. Tajuk debut yang mulanya seperti ramalan siang bolong menjadi kenyataan mengingat mereka benar-benar melanglang ke beberapa tempat di Asia bertahun-tahun kemudian.
Disusul album penuh perdana Present Continuous pada 23 April 2017, lalu album penuh kedua Say Say Say pada 6 Juli 2019. Dua album penuh dan satu EP itu menjadi fondasi awal sebelum akhirnya Banal Semakin Binal (2022) meledak dan membuat
nama The Jansen dikenal mulai dari anak SD di Pontianak hingga bapak-bapak tua di Kota Padang.

Dua tahun lalu, saat dunia masih sibuk mendendangkan lagu-lagu dari di album Banal, Durja Bersahaja (2024) dirilis ke publik. Semula, banyak yang berspekulasi band asal Bogor ini bakal mengulang pola sukses Banal. Tapi bak Messi di atas lapangan, The Jansen punya caranya sendiri “menggocek” pendengar.
Alih-alih mengulangi pop punk manis dengan reff yang mudah lekat, mereka memilih jalan yang menurut banyak orang dianggap “menyimpang”. Sound lo-fi, vokal Tata yang tenggelam, lapisan fuzz yang kawin dengan chorus dan reverb yang basah terasa betul di album Durja Bersahaja.
Kini keisengan dan ketidakterdugaan itu berlanjut. Di pangkal April ini, The Jansen—yang kini tinggal Cintarama Bani Satria (Tata) dan Adji Pamungkas—mengumumkan ke publik album kelima mereka sekaligus penutup dari sebuah trilogi: Romantisasi Impulsif siap dilepas ke publik.
Sebuah karya berisi dua belas nomor yang melengkapi tiga babak yang dimulai oleh Banal Semakin Binal (2022) dan dilanjutkan oleh Durja Bersahaja (2024). Romantisasi Impulsif dibangun di atas sebuah tiga kata kecil yang ternyata amat besar maknanya: jika, bila dan andai.
Jika hidup hanya sekedar berjalan. Jika hidup bagai rumah makan sederhana. Jika hidup mengharapkan jadi jutawan. Jika hidup penuh dengan glamor. Bila cinta adalah sebuah kenakalan remaja. Bila cinta adalah sebuah propaganda. Andai kita tumbuh besar nanti. Andai kita punya rumah nanti. Andai kita masih bersama sampai akhir.
Di album ini The Jansen seakan mengajak kita merenungi dan tetap pada kesimpulan: hidup ini memang penuh sansai. Kita semua hidup di era melarat, era ketika kepastian adalah kemewahan yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang.
Bagi sebagian besar lain, hidup dijalani dengan penuh tanda tanya dan harapan yang digantungkan pada kata “jika” dan “andai”. Pada akhirnya, kata-kata itu tidak lagi sekadar pengandaian, tapi menjadi ruang terakhir tempat mimpi-mimpi bermukim. Mimpi-mimpi yang terus dimiskinkan oleh situasi bikinin negara.
The Jansen dalam album ini bertindak seperti pembawa berita. Bukan berita dari stasiun televisi atau koran, tapi berita dari pinggir rel, pasar yang becek, rumah petakan kaum miskin kota, sekolah kecil di daerah terpencil dan yang terpenting dari hati Johan dan Marni. Ya, perkenalkan Johan dan Marni, tokoh utama di album ini.

Romantisasi Impulsif tidak hanya ingin didengar. Album ini ingin dilihat. The Jansen membangun pendekatan naratif seperti sebuah film: ada babak, ada klimaks, ada adegan hening, dan ada kredit penutup.
Seluruh album mengisahkan Johan dan Marni. Johan adalah anak orang kaya yang jatuh miskin. Marni adalah orang miskin sejak lama. Keduanya menjalin cinta di tengah keadaan yang tidak pernah berpihak. Bukan Romeo-Juliet yang dramatis, bukan pula kisah cinta ala sinetron. Ini tentang dua anak manusia yang saling mengikat cinta meski dunia tak berpihak dan kemiskininan mengintai di depan mata.
Tapi yang paling menyakitkan dari kisah mereka bukanlah kemiskinan itu sendiri. Melainkan kenyataan bahwa negara hadir untuk memiskinkan dan memisahkan mereka. Kebijakan yang tidak ramah orang miskin, birokrasi yang menghancurkan, ruang hidup yang terus menyempit—semua itu menjadi dinding antara Johan dan Marni.
Pada akhirnya, kisah Johan dan Marni tak semata cerita saling menguatkan saat dihimpit kekurangan, lebih dari itu, mereka menolak diam, mereka melawan sistem. Cinta mereka tak pernah masuk dalam pidato kepresidenan atau tercatat di buku-buku sekolah.
Adji Pamungkas melempar gagasan yang mungkin terdengar gila. “Kami pengin ngasih penawaran lain atas pembacaan album,” ujarnya. “Kalau album ini bisa kok dijadikan film.” Menurut Adji, dua belas lagu di Romantisasi Impulsif sudah punya alur, karakter, konflik, dan resolusi.
Tinggal ada yang berani mengemasnya ke dalam gambar bergerak. Apalagi dengan latar sosial-politik yang sudah begitu kental di cerita Johan dan Marni, bahan untuk sebuah film sudah lengkap. “Iya. Pola adaptasi film dari novel kan udah banyak, dan seru-seru. Kayaknya album musik juga bisa kok,” tambah Tata.
Obsesi The Jansen terhadap film bukanlah kebetulan. Tata membuka latar belakang keluarganya. “Kami sejak kecil dekat dengan dunia film. Orang tua kami orang film.
Mungkin itu secara tidak langsung mempengaruhi cara kami berkarya.” Darah sinema mengalir dalam keseharian The Jansen. Cara mereka menyusun dinamika lagu—dari sunyi ke ramai, dari jernih ke fuzz—seringkali terasa seperti pergantian adegan.
Bukan sekadar teknik bermusik, tapi soal ritme emosional yang biasa ditemukan dalam narasi visual. Maka wajar jika Romantisasi Impulsif terasa seperti sebuah film yang belum mendapat gambarnya. Film tentang dua orang yang dicerai-beraikan bukan oleh takdir, tapi oleh situasi sosial, politik dan ekonomi yang melingkupinya.
Yang paling mengejutkan dari album ini adalah warna suaranya. Jika Durja Bersahaja terasa seperti tersesat di lorong gelap, maka Romantisasi Impulsif seperti berjalan di pasar lama yang eklektik. Pasar-pasar di era jalur perdagangan Nusantara baru dibuka. Maka tak heran jika The Jansen mengambil mood sound dari berbagai musik dunia.
Ada tangga nada dan ornamentasi khas musik Arab yang meliuk-liuk. Ada sentuhan gitar Spanyol yang flamenco dan dramatis. Ada pula nuansa scale gitar Tionghoa yang pentatonik dan menusuk perlahan. Semuanya dikawinkan dengan DNA The Jansen
yang sudah dikenal: fuzz, reverb basah, vokal Tata yang terasa dari balik tirai, dan petikan-petikan penuh chorus. Hasilnya adalah sebuah album yang terdengar asing tapi akrab.
Seperti film asing tanpa subtitle—pendengar tidak selalu paham bahasanya, tapi merasakannya. “Kami selalu senang membuat sesuatu dengan pendekatan yang baru,” kata Tata.
“Kami suka bereksplorasi, mengerjakan sesuatu yang dimulai dari keisengan.” Proses penulisan lirik untuk Romantisasi Impulsif sebenarnya sudah dimulai sejak album Banal Semakin Binal dirilis 2022 silam. Adji Pamungkas sejak awal memegang
peran sebagai penulis lirik, sementara Tata yang bertugas menciptakan komposisi musiknya.
Seluruh musik diaransemen oleh mereka berdua, sebuah kerja panjang yang berlangsung bertahun-tahun sebelum akhirnya masuk ke tahap rekaman. Rekaman sendiri baru benar-benar dimulai pada tahun 2025 dan dilakukan di tempat yang paling mungkin bagi The Jansen: Jansen HQ, rumah kontrakan yang mereka sewa dan jadikan markas sekaligus studio.
Di rumah kontrakan itulah hampir seluruh elemen dasar album ini direkam, dengan proses pengerjaan yang terbilang jauh lebih lama dibandingkan album-album sebelumnya. Meski Tata dan Adji masih menjadi motor utama di balik pengerjaan Romantisasi Impulsif, namun album ini juga melibatkan sejumlah musisi lain yang turut memperkaya warnanya.
Di belakang drum, ada Daryl Gema yang mengisi rekaman drum. Gitar kedua dimainkan oleh S Yonatan, sementara gitar akustik diisi oleh Andreas Yendra. Sentuhan tambahan hadir dari Ayu Muthia Zahra yang tidak hanya memainkan tambourine tetapi juga mengisi backing vokal. Semua elemen itu kemudian diracik menjadi satu kesatuan yang utuh.
Di sisi produksi, Nabil Hatomi bertindak sebagai vocal director sekaligus recording engineer bersama Muhamad Nurdin. Proses mixing dilakukan oleh Muhamad Nurdin di Dune Audio, sementara mastering dipercayakan kepada Daniel Husayn di North London Bomb Factory Mastering. The Jansen sendiri bertindak sebagai executive producer untuk album mereka. Sebuah kerja mandiri yang sepenuhnya dikendalikan dari rumah kontrakan.
Sebagai pintu masuk menuju Romantisasi Impulsif, The Jansen akan merilis single bila cinta adalah sebuah propaganda (wo ai ni) pada Selasa, 29 April 2026. Lagu ini menjadi pengantar bagi pendengar untuk mulai mengenal dunia Johan dan Marni sebelum album penuhnya hadir.
Sementara itu, album Romantisasi Impulsif sendiri akan tersedia di semua platform digital streaming mulai Rabu, 22 Juli 2026. Untuk edisi fisik, The Jansen bekerja sama dengan dua label dari dua negara berbeda. CD dan vinyl akan dirilis oleh P-Vine Records, label legendaris asal Jepang yang dikenal sebagai rumah bagi berbagai musisi indie dan alternatif.
Sementara itu, edisi kaset akan dirilis oleh Miles Records, label asal Malaysia yang aktif merilis musik-musik underground dan
eksperimental di wilayah Asia Tenggara. Ketiga format fisik ini akan menyusul kemudian setelah perilisan digital.
Romantiasi Impulsif menegaskan posisi mereka bukan sekadar musisi, melainkan pembawa berita Johan dan Marni.
Dan kita semua yang mendengarkan adalah saksi dari kisah yang terus berlangsung ini, di era yang penuh dengan kata “jika” dan “andai”. Maka alangkah berbahagianya kita jika kelak album ini bisa diadaptasi menjadi film dan membawa Johan dan Marni ke gedung bioskop, sebuah tempat yang mungkin mewah di mata mereka?
Banal, Durja, Romantisasi—trilogi ini kini tuntas. Setelah album ini, babak trilogi The Jansen akan ditutup. Untuk sementara. Ke depannya, mereka sendiri belum tahu mau ke mana. Dan bagi The Jansen, justru di situlah letak kesenangan itu.
“Kami senang memulai dari sesuatu yang belum kami tahu akan ke mana,” ujar Tata. The Jansen being The Jansen. Sekarang Anda paham kalimat itu, bukan?
Media Relations
Aditya Hernanto