Offset PPA Italia Harus Menghasilkan Kemampuan Teknologi, Bukan Sekadar Memenuhi Kewajiban Kontrak

Harus Baca

KORANBOGOR.com,JAKARTA-Program offset dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) perlu diarahkan untuk menghasilkan kemampuan teknologi dan produk pertahanan yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan oleh industri dalam negeri.

Offset tidak semestinya berhenti pada pemenuhan persyaratan administratif, tetapi harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pemasok asing.

Hal tersebut mengemuka dalam podcast “Ngopi” (Ngobrol Pertahanan Indonesia) yang diselenggarakan Marapi Consulting & Advisory dengan tema “Peluang dan Tantangan Offset dalam Program Akuisisi Kapal Perang”.

Diskusi menghadirkan Dr. Ir. Yono Reksoprodjo, Kepala Bidang Ahli Teknologi dan Offset KKIP, dan Alman Helvas Ali, konsultan PTMarapi Tujuh Indonesia (Marapi) yang diluncurkan pada 21 September 2026 melalui channel youtube Marapi.

Yono menegaskan bahwa offset merupakan sarana, bukan tujuan akhir dalam penguasaan teknologi. Menurutnya, keberhasilan offset harus diukur dari kemampuan Indonesia menghasilkan sesuatu setelah proses transfer teknologi selesai.

“Offset itu vehicle, bukan tujuan akhir. Kalau offset adalah tujuan akhir, selesai offset, selesai sudah permasalahannya. Pertanyaannya, kita dapat apa?” ujar Yono.

Karena itu, setiap program offset harus memiliki blueprint yang jelas sejak awal mengenai kemampuan atau produk apa yang ingin dihasilkan. Untuk pengadaan kapal perang, menurut Yono, proses tersebut tidak cukup hanya dengan kemampuan fabrikasi atau pengelasan badan kapal.

Indonesia perlu mempelajari keseluruhan proses engineering, mulai dari desain, manajemen produksi, sistem integrasi hingga teknologi yang berada di balik platform kapal.

Terkait pengadaan PPA (Pattugliatore Polivalente d’Altura) Italia, Yono melihat adanya keterbatasan karena kapal yang dibeli merupakan produk yang sudah jadi. Karena itu, peluang offset perlu diarahkan pada area yang masih memberikan ruang bagi peningkatan kemampuan industri Indonesia, termasuk simulator dan terutama penguasaan teknologi serta integrasi sistem.

Alman Helvas Ali menilai offset hanya merupakan salah satu tahapandalam proses panjang penguasaan teknologi.Menurutnya, pengalaman Indonesia pada masa lalu menunjukkan bahwa manfaat offset dapat menjadi signifikan apabila teknologi yang diperoleh kemudian digunakan untuk mengembangkan produk baru.

“Offset hanyalah salah satu tahapan dalam penguasaan teknologi maju. Teknologi yang didapatkan dari offset harus digunakan untuk mengembangkan suatu produk baru yang buatan kita sendiri,” kata Alman.

Alman juga mengingatkan bahwa hasil offset tidak akan optimal apabila industri dalam negeri tidak memperoleh kesempatan untuk menggunakan teknologi yang telah diserap. Dalam konteks PPA, ia mencontohkan peluang pengembangan simulator.

Transfer teknologi akan lebih bermakna apabila perusahaan Indonesia yang menerima teknologi kemudian dipercaya mengembangkan simulator atau produk sejenis untuk kebutuhan pertahanan nasional.

“Bagaimana perusahaan bisa membuktikan mereka telah menyerap teknologi simulator apabila mereka tidak diberikesempatan mengembangkan produk berdasarkan ilmu yang mereka dapatkan dari offset?” ujar Alman.

Keduanya juga menyoroti pentingnya mengurangi ketergantungan pada indirect offset dan memberikan porsi lebih besar pada direct offset yang berkaitan langsung dengan produk pertahanan yang dibeli.

Yono menilai indirect offset tidak sepenuhnya salah, tetapi apabila terlalu dominan,manfaat teknologi yang seharusnya diperoleh dari produk alutsista yang dibeli dapat berkurang.

Dalam pengadaan kapal perang, peluang direct offset dinilai dapatdiarahkan pada desain kapal,sistem elektronika pertahanan, combat management system (CMS),integrasi berbagai subsistem,serta kemampuan engineering dan produksi.

Menurut Alman, penguasaan elektronika pertahanan menjadi salah satu pekerjaan rumah penting karena sistem tersebut merupakan bagian penting dari kemampuan tempur kapal perang modern. Yono menambahkan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki kemampuan yang cukup untuk membangun platform kapal.

Tantangan yang lebih besar berada pada aspek “what’s inside”, yakni teknologi dan sistem yang membuat kapal tersebut menjadi kapal perang dengan kemampuan tempur.

Karena itu, program offset PPA maupun pengadaan kapal perang berikutnya perlu ditempatkan dalam peta jalan jangka panjang industri pertahanan. Penguasaan teknologi tidak dapat dipaksakan selesai dalam satu periode pemerintahan.

Pengalaman pengembangan industri pesawat terbang menunjukkan bahwa pembangunan kemampuan teknologimembutuhkan konsistensi,investasi SDM,laboratorium,sertifikasi,serta kesempatan untuk menghasilkan produk secara berkelanjutan.

Dengan demikian, pembelian PPA Italia perlu dilihat bukan hanya sebagai penambahan jumlah kapal perang TNI AL, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun kemampuan industri pertahanan Indonesia.

Offset akan memberikan nilai strategis apabila teknologi yang diperoleh hari ini dapat menjadi dasar bagi lahirnya kemampuan dan produk pertahanan nasional pada masa mendatang.***

Marapi Podcast Episode 4:

Benny Junito

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Kalsel dalam Rapat Evaluasi

KORANBOGOR.com,BANJARBARU-Komandan Lanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, M.M.S., menghadiri Rapat Evaluasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)...

Berita Terkait