KORANBOGOR.com,JAKARTA-Rilisan keempat dari EP Garis Tegak mempertemukan keresahan tentang ritme hidup dengan proses bermusik yang saling memberi ruang. Desakan untuk terus berlari mempertemukan Lafa Pratomo, Ari Lesmana, dan White Chorus dalam “Juara Dua”. Single keempat dari EP Garis Tegak ini membicarakan pilihan untuk hidup lebih bahagia tanpa kewajiban selalu menjadi yang pertama.
Bagi Lafa, “Juara Dua” adalah pilihan yang sah ketika posisi tersebut justru membuat seseorang lebih nyaman menjalani hidupnya. Resiliensi, payung yang ia tetapkan sejak awal proyek, menemukan bentuknya melalui keresahan bersama para kolaborator.
Ari datang dengan pengalaman menjalani ritme kerja yang cepat hingga mempertanyakan apa yang sebenarnya dikejar. Yang ia cari kemudian adalah ketenangan dan kehidupan secukupnya.
“Gak perlu validasi juga, gak perlu apa-apa gitu,” ujar Ari. White Chorus menemukan keresahan serupa ketika melihat orang terburu-buru membuat dan merilis lagu. Bagi mereka, tetap ada tujuan yang ingin dicapai, tetapi, “kita tuh gak lomba sama orang lain,” tambah mereka.
Kesamaan itu tumbuh melalui percakapan, sementara musiknya berangkat dari stok beat White Chorus. Mereka membawa enam pilihan; draft nomor enam menjadi embrio “Juara Dua”.
Materinya baru beberapa bar dengan drum break dan gitar akustik, sempat disimpan karena tidak sesuai arah EP yang ketika itu ingin mereka buat lebih elektronik dan menghentak.
Ari menyukai nada serta rasa mentahnya, dan setelah memutar beberapa opsi berulang kali, mereka sepakat mengembangkan draft tersebut.
Pengembangan bersama membuka kemungkinan yang tidak dibayangkan White Chorus, yakni bagian yang lebih tenang dengan gitar akustik dan perubahan nada di tengah pola awal yang repetitif.
Ari mengingat bagian itu sebagai titik ketika karakter ketiga pihak melebur, sekaligus memberi penekanan pada gagasan memiliki hak atas diri sendiri.
Menurut Emir, karakter drum break tetap bertahan, meski sampel drum pada versi awal kemudian berkembang menjadi drum yang direkam ulang.
Lafa menjelaskan bahwa proses berlangsung dalam dua pertemuan utama. Sesi pertama berfokus pada musik dan melodi melalui pertukaran referensi, sesi berikutnya mengembangkan lirik dari potongan percakapan yang ia catat di notes.
Cara ini menempatkan pengalaman bersama sebagai bahan penulisan. Lafa memposisikan diri sebagai inisiator dan penjahit ide yang memaksimalkan karakter para kolaborator.
Sikap saling memberi ruang juga membentuk vokalnya. Setelah mendengar rekaman Friska yang dibuat lebih dulu, Ari memilih mengambil suara di bawahnya dan menemukan kecocokan warna.
Friska merasa mendapat kesempatan untuk menonjol, sementara karakter Ari tetap hadir kuat bahkan pada nada rendah. Mereka bergantian berbagi register dan suara kedua, dalam pendekatan Lafa, keduanya membawa satu konteks cerita.
“Juara Dua” lahir dari pertemuan tersebut, bukan tahap emosional yang sengaja diplot dalam urutan rilisan. Lafa tetap membebaskan pendengar menemukan maknanya sendiri. Bagi Ari, memilih menjadi “Juara Dua” terasa dekat ketika pilihan itu membawa kebahagiaan. “Seperlunya, secukupnya itu sih,” tutupnya.
“Juara Dua” dirilis pada Okt 6, 2026 di seluruh platform musik digital bersamaan dengan official lyric video. Music video menyusul satu minggu setelahnya melalui kanal YouTube KithLabo.
Audio Credit:
Song title : Juara Dua
Vocals : Clara Friska Adinda, Ari Lesmana
Songwriter : Lafa Pratomo, Ari Lesmana, Clara Friska Adinda, Emir Agung Mahendra
Producer & Arranger by Lafa Pratomo
Co-Produced by Refo Alpha Ramadhan
Vocal Director by Lafa Pratomo
Guitar by Lafa Pratomo
Synth by Emir Agung Mahendra, Refo Alpha Ramadhan
Sample Programming by Refo Alpha Ramadhan
Bass by Iskandar
Drums by Rama Harto
Vocal Recording Engineer by Refo Alpha Ramadhan
Editing Engineer by Refo Alpha Ramadhan
Mixing Engineer by Rama Harto at Rekamkamar
Mastering Engineer Dimas Pradipta at Sum It! Studio