KORANBOGOR.com,JAKARTA-Peneliti media dan politik Buni Yani menanggapi langkah Kejaksaan Agung (Kejagung) yang mencekal mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim untuk bepergian ke luar negeri.
Dalam unggahan di akun Facebook-nya, Buni menyatakan bahwa cekal ini memicu persepsi publik bahwa Nadiem akan segera ditetapkan sebagai tersangka.
“Nadiem Makarim sudah dicekal keluar negeri menjelang pemeriksaannya,yang dibaca publik bahwa Nadiem sudah pasti akan segera jadi tersangka,” ujarnya, Minggu (29/6/2025).
Namun, Buni menegaskan bahwa penegakan hukum tidak boleh hanya berhenti pada Nadiem. Ia mengkritik Presiden Prabowo Subianto yang masih memberikan ruang bagi kelompok yang ia sebut “Geng Solo” dalam Kabinet Merah Putih. Menurutnya, sejumlah menteri bermasalah seharusnya sudah diproses hukum.
Buni menyoroti Menteri Koperasi dan UKM Budi Arie Setiadi, yang menurutnya seharusnya menjadi tersangka dalam kasus judi online. Ia juga menyebut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, yang diduga mengubah gelar akademik dari Drs menjadi Ir.
Selain itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) disebut terlibat dalam perbuatan tidak terpuji terkait gelar doktor dari Universitas Indonesia (UI). Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga dikritik karena memicu kontroversi dengan memindahkan empat pulau di Aceh ke Sumatra Utara.
Buni turut menyinggung Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan, yang ia anggap harus segera diberhentikan karena dianggap sebagai representasi kuat dari era Joko Widodo.
“Luhut Binsar Pandjaitan sudah barang tentu harus segera out karena menjadi representasi Jokowi par excellence in all senses,” tegasnya.
Menurut Buni, Presiden Prabowo memiliki peran penting untuk mewujudkan visi “Indonesia Emas”. Ia mengibaratkan situasi saat ini sebagai hutan belukar penuh pohon beracun yang perlu ditebang.
“Ibarat masuk hutan belukar yang ditumbuhi banyak pohon beracun, Prabowo sudah harus mulai menebang pohon-pohon itu untuk membuat jalan setapak,” ujarnya.
Buni memperingatkan bahwa keraguan Prabowo dalam mengambil tindakan tegas akan membuat Indonesia terjebak dalam ketidakpastian. “Mulai sekarang sampai 2045 nanti, bukan Indonesia emas yang didapatkan, malah sebaliknya, Indonesia cemas menghantui di mana-mana,” pungkasnya.