KORANBOGOR.com,BOGOR-Suasana hangat dan penuh inspirasi mewarnai proses tapping video BesTeam (Bestie-an Sama Yatim) yang berlangsung pada Senin (6/7).Kegiatan tersebut mempertemukan Prof. Zulys, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia,dengan Arwan,siswa SMART Ekselensia Indonesia sekaligus penerima manfaat beasiswa Dompet Dhuafa.
Program BesTeam menjadi ruang berbagi kisah, pengalaman, dan motivasi antara tokoh- tokoh inspiratif dengan anak-anak yatim binaan Dompet Dhuafa.Melalui pertemuan ini,diharapkan lahir semangat baru bagi generasi muda untuk terus belajar, memperluas wawasan, berani bermimpi, serta percaya bahwa setiap keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita.
Dalam sesi tersebut, Prof. Zulys membagikan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan.Sejak kecil, ia harus tumbuh tanpa sosok ayah. Namun, kehilangan itu tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, menurut Prof. Zulys, Allah tidak pernah memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Keyakinan itu menjadi pegangan yang menguatkannya dalam menempuh perjalanan pendidikan hingga berhasil meraih gelar profesor.
“Kalau Allah mentakdirkan saya tumbuh tanpa ayah, berarti Allah tahu saya mampu menjalaninya. Pasti ada rencana besar di balik setiap ujian,” ungkap Prof. Zulys. Perjalanan akademiknya pun tidak selalu mudah. Saat menempuh pendidikan sarjana, Prof. Zulys menjadi salah satu penerima manfaat pendidikan Dompet Dhuafa. Dalam sebuah pelatihan yang pernah diikutinya, ia memberanikan diri menyampaikan cita-cita setelah lulus S1.
“Sepuluh tahun yang akan datang saya akan lulus doktor dari Jerman.”Kalimat yang saat itu mungkin terdengar sebagai mimpi, akhirnya benar-benar menjadi kenyataan. Berkat kerja keras, ketekunan, dan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan—bahkan pada bidang kimia yang awalnya tidak begitu ia sukai—Prof. Zulys berhasil menyelesaikan studi doktoralnya di Jerman dan kini mengabdikan diri sebagai Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia.
Tak hanya aktif di dunia akademik, Prof. Zulys juga konsisten berdakwah melalui jalur keilmuan. Baginya, ilmu pengetahuan dan agama bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama.
Kisah perjuangan Prof. Zulys begitu dekat dengan pengalaman Arwan. Siswa SMART Ekselensia Indonesia itu juga harus menghadapi kehilangan ayah pada tahun pertamanya menempuh pendidikan di sekolah berasrama tersebut. Peristiwa itu menjadi ujian besar dalam hidupnya, namun tidak memadamkan semangatnya untuk terus belajar.
Pertemuan dengan Prof. Zulys memberikan harapan baru bagi Arwan. Ia melihat secara langsung bahwa seorang anak yatim mampu tumbuh menjadi sosok yang berprestasi,memberikan kontribusi bagi bangsa, bahkan menginspirasi banyak orang melalui ilmu pengetahuan.Dalam sesi berbagi inspirasi tersebut, Prof. Zulys juga menyampaikan sebuah perumpamaan
yang sederhana namun sarat makna. Menurutnya, arang dan intan pada dasarnya berasal dari unsur yang sama, yaitu karbon murni. Perbedaan keduanya bukan terletak pada bahan dasarnya, melainkan pada proses yang dilalui.
“Arang mudah ditemukan, bermanfaat, dan memiliki nilai tersendiri. Namun karbon yang berada jauh di dalam perut bumi, menghadapi suhu dan tekanan yang sangat tinggi selama jutaan tahun, akan berubah menjadi intan yang sangat kuat dan bernilai tinggi,” tutur Prof. Zulys.
Melalui analogi tersebut, ia mengajak Arwan dan generasi muda untuk tidak takut menghadapi ujian kehidupan. Menurutnya, semakin besar ujian yang dilewati dengan kesabaran, ikhtiar, dan keimanan, semakin besar pula potensi seseorang untuk tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan memberikan manfaat bagi banyak orang.Pesan itu terasa begitu relevan bagi Arwan yang juga harus menjalani masa remajanya tanpa kehadiran seorang ayah.
Kisah hidup Prof. Zulys menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Sebaliknya, setiap ujian dapat menjadi jalan menuju pencapaian yang lebih besar, sebagaimana karbon yang berubah menjadi intan karena
mampu bertahan dalam tekanan yang luar biasa.
Melalui program BesTeam, Dompet Dhuafa terus menghadirkan ruang berbagi yang mempertemukan para penerima manfaat dengan sosok-sosok inspiratif. Diharapkan, kisah- kisah seperti yang dibagikan Prof. Zulys dapat menjadi penyemangat bagi anak-anak yatim dan generasi muda untuk terus belajar, berani bermimpi, serta meyakini bahwa setiap ujian kehidupan dapat menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Sincerly,
Strategic Partnership GREAT Edunesia
please visit our website:www.greatedunesia.id