KORANBOGOR.com-Setelah memperkenalkan sisi romantis melalui single “Bunga”, mengeksplorasi kehilangan dalam “Seperti Mati”, dan menggambarkan perpisahan di “September”, Zhafari kembali melanjutkan perjalanan menuju album perdananya dengan single keempat berjudul “Batas Waktu”.
Masih mengusung nuansa pop-rock Indonesia era 2000-an yang jadi identitasnya, kali ini Zhafari mengangkat kisah tentang seseorang yang memilih bertahan dalam penantian meski tahu dirinya mungkin tidak akan pernah jadi pilihan.
Belakangan kisah ini akrab disebut sebagai backburner, ketika seseorang menyimpan harapan pada orang yang belum benar-benar bisa membalas perasaannya. Namun, bagi Zhafari “Batas Waktu” bukan hanya tentang kisah cinta bertepuk sebelah tangan, melainkan tentang penantian yang tidak pernah memiliki kepastian kapan harus diakhiri.

“Meski begitu ku akan selalu ada hingga batas waktu.”
Melalui lirik tersebut, Zhafari ingin menggambarkan perasaan seseorang yang memilih untuk tetap hadir, meskipun ia sendiri tidak pernah tahu kapan batas dari penantiannya akan tiba.
Berbeda dari tiga single sebelumnya yang lahir dari pengalaman pribadi, “Batas Waktu” menjadi kali pertama Zhafari menulis lagu yang bukan berdasarkan kisah pribadinya. Ia mengaku banyak melakukan riset dan berdiskusi dengan sesama musisi tentang bagaimana menyampaikan emosi yang tidak ia alami sendiri. Tantangan itulah yang membawanya menemukan cara baru dalam bercerita.
“Sejujurnya, ‘Batas Waktu‘ mungkin jadi lagu yang liriknya paling nggak ‘aku’. Biasanya aku selalu nulis dari pengalaman pribadi, sedangkan lagu ini datang dari cerita orang-orang di sekitar aku. Sebelum nulis, aku banyak riset gimana caranya bikin lagu yang bukan berangkat dari pengalaman sendiri.”
Meski mengangkat kisah orang lain, proses kreatif tersebut justru membuat Zhafari semakin mengenal dirinya sendiri sebagai seorang penulis lagu. “Sebenernya selama nulis ‘Batas Waktu’ sampai album yang akan datang, aku malah jadi banyak mengenal diri sendiri,” ungkap Zhafari.
Menariknya, meski melalui proses yang cukup menantang secara emosional, “Batas Waktu” justru jadi salah satu lagu yang paling cepat ia selesaikan. Setelah berbulan-bulan menulis ratusan ide lagu untuk proyek solonya, lagu ini lahir dalam satu kali proses menulis dan langsung terasa utuh sejak awal.
Seperti karya-karya Zhafari sebelumnya, “Batas Waktu” lahir dari suasana yang dekat dengan proyek solonya: malam hari. Bukan sekadar latar waktu, tetapi sebagai gambaran ruang ketika pikiran jadi lebih bising, perasaan yang selama ini dipendam mulai mencari jalan keluar, dan kata-kata yang sulit diungkapkan perlahan menemukan bentuknya.
Lewat single “Batas Waktu”, Zhafari ingin menjadi jembatan untuk mereka yang kesulitan mengungkapkan isi hatinya. Menurutnya, ada perasaan yang terkadang lebih mudah disampaikan melalui lagu daripada lewat kata-kata sendiri.
Secara musikal, “Batas Waktu” masih mempertahankan warna pop-rock Indonesia era 2000-an yang sudah menjadi identitas proyek solo Zhafari. Bukan tanpa alasan, warna tersebut dipilih karena menjadi musik yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Baginya, era itu menghadirkan musik dan lirik yang sederhana, tetapi mampu menyampaikan emosi yang mendalam.
Bersamaan dengan perilisan lagu pada 22 Juli 2026, Zhafari juga menghadirkan sebuah video lirik dengan konsep yang sederhana, tetapi sarat makna. Menampilkan proses merebus telur selama sekitar delapan menit, visual tersebut menjadi metafora tentang menunggu. Aktivitas yang tampak singkat, tetapi terasa panjang ketika yang dinantikan adalah seseorang yang mungkin tidak akan pernah benar-benar datang.
Dirilis oleh Dotts Records, single terbaru Zhafari yang berjudul “Batas Waktu” sudah dapat didengarkan di seluruh digital streaming platform mulai 22 Juli 2026, bersamaan dengan perilisan video lirik resminya. Melalui lagu ini, Zhafari kembali mengajak pendengarnya menemani malam-malam yang penuh renungan, sekaligus menjadi suara bagi mereka yang masih menyimpan perasaan yang belum sempat terucap.
Tentang Zhafari:
Zhafari adalah solois asal Jakarta yang juga dikenal sebagai vokalis Voxxes. Melalui proyek solonya, ia menghadirkan karya-karya khas pop rock 2000-an, musik yang tumbuh bersamanya dan membentuk cara ia memandang melodi dan lirik hingga kini.
Terinspirasi oleh pemikir seperti Seneca dan Kahlil Gibran, Zhafari banyak mengeksplorasi tema-tema seperti cinta, kehilangan, penyesalan, dan harapan. Lagunya lahir dari ruang-ruang kontemplasi yang hadir di penghujung malam, ketika pikiran jadi lebih jujur dan perasaan yang sulit diungkapkan perlahan menemukan bentuknya.
Untuk Zhafari, musik bukan sekedar medium bercerita, tetapi juga jembatan bagi orang-orang yang kesulitan mengungkapkan isi hatinya. Melalui lirik yang sederhana dan dibalut karakter pop-rock yang familiar di telinga pendengar Indonesia, ia berharap lagunya bisa menemani mereka yang menemukan sebagian kisah hidupnya melalui lagu.
Setelah merilis “Bunga”, “Seperti Mati”, “September”, dan “Batas Waktu”, Zhafari bersiap memperkenalkan album perdananya, Sisa Malam, sebuah perjalanan musikal yang merangkum berbagai kegelisahan, renungan, dan cerita yang lahir dari malam-malam yang panjang.
Credits:
Executive Producer dotts records
Artist Management tap projects
Performer Zhafari
Author & Composer Qashmal Zhafari
Arranger & Producer Rayhan Rizki Ramadhan
Mixing Engineer Rama Harto
Mastering Engineer Rhesa Aditya
Background Vocals Qashmal Zhafari & Rayhan Rizki Ramadhan
Drums Agi Gumilar
Guitars Rayhan Rizki Ramadhan
Keys Rayhan Rizki Ramadhan
Bass Rhesa Aditya
Creative Director Rukmunal Hakim
Graphic Design Irpan Alfian
Photo Artwork Salma Asti
Instagram https://www.instagram.com/_zhafari/
Youtube https://www.youtube.com/@zhafari
TikTok https://www.tiktok.com/@_zhafari
Contact:
Salma Asti (Label Manager) (dotts records)