KORANBOGOR.com,NTT-Gempa bumi tektonik dengan magnitudo pembaruan M5,9 mengguncang wilayah Pantai Barat Daya Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Minggu (4/10) pukul 05.55.52 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Plh Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa episenter gempa terletak di laut pada koordinat 9,84° LS dan 118,90° BT. Lokasi tersebut berjarak sekitar 59 kilometer arah barat daya Kodi, Sumba Barat Daya, dengan kedalaman 30 kilometer.
“Berdasarkan hasil analisis mekanisme sumber mengindikasikan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault),” ujar Ardhasena, Minggu (4/10).
BMKG mengategorikan peristiwa ini sebagai gempa bumi dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Dugaan awal menunjukkan aktivitas tersebut berasosiasi dengan Sesar Waikabubak.
Dampak Kerusakan dan Korban
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, melaporkan bahwa berdasarkan data sementara hingga pukul 08.40, satu orang mengalami luka ringan. Selain korban luka, gempa juga menyebabkan kerusakan bangunan dengan kategori sedang di beberapa titik.
Kerusakan dilaporkan terjadi pada sejumlah rumah warga dan fasilitas sekolah di Desa Perokonda, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menambahkan bahwa guncangan terkuat dirasakan di wilayah Kodi Balaghar, Kodi Bangedo, dan Kodi dengan skala intensitas VI MMI. Pada skala ini, getaran dirasakan oleh semua penduduk dan kebanyakan warga terkejut hingga berlari keluar rumah.
Wilayah lain seperti Tambolaka, Waikabubak, Waibakul, dan Raba merasakan guncangan pada skala IV MMI. Sementara itu, Kota Bima merasakan getaran pada skala III MMI.
Puluhan Gempa Susulan
Hingga pukul 08.05.00 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas tektonik yang masih berlanjut. “Tercatat setidaknya 62 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan rentang kekuatan antara M1,5 hingga M4,3,” jelas Wijayanto.
BMKG melalui Stasiun Geofisika Sumba Timur akan terus memantau perkembangan aktivitas seismik dan melakukan survei lapangan guna mendata dampak gempa secara lebih komprehensif.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa serta selalu mengikuti informasi resmi dari kanal komunikasi BMKG. (I-2)