
KORANBOGOR.com,JAKARTA-Urgensi modernisasi armada kapal selam sebagai tulang punggung kedaulatan maritim negara kepulauan masih jarang dibicarakan. Padahal, di tengah dinamika keamanan kawasan yang semakin kompleks, Indonesia memerlukan langkah taktis untuk menutup celah kesiapan operasional (gap) terkait kebutuhan unit-unit kapal selam sampai dengan adanya kemampuan beroperasi penuh di masa depan.
Marapi Consulting & Advisory menggelar diskusi dengan tagline “Ngobrolin Pertahanan Indonesia (Ngopi) de’Talkshow Episode ke-4” untuk membahas masa depan pertahanan Indonesia dengan fokus pada peningkatan kemampuan kapal selam dalam memperkuat matra laut.
Talkshow ini menghadirkan Laksda TNI (Purn) Iwan Isnurwanto, mantan Asrena Kasal yang memiliki latar belakang dinas panjang di satuan kapal selam, yang dalam diskusi ini memberikan perspektif operasional dan strategis mengenai kesiapan armada kapal selam.
Narasumber kedua adalah Dr. Ir. Yono Reksoprodjo, Kabid Alih Teknologi dan Offset di KKIP. Beliau sangat menekankan pentingnya kemandirian industri pertahanan melalui mekanisme offset dan penguasaan teknologi.
Dan narasumber ketiga adalah Alman Helvas Ali, konsultan Marapi Consulting & Advisory, yang memberikan analisis mengenai perkembangan teknologi kapal selam global dan langkah strategis yang harus diambil Indonesia terkait akuisisi alutsista.
Dalam diskusi ini Iwan Isnurwanto menyatakan, “Kapal selam itu mempunyai strategic deterrence karena dia tidak diketahui di mana keberadaannya, berapa yang mampu beroperasi dan kapan menyerangnya,ini adalah kemampuan-kemampuan yang menjadikan kapal selam itu mempunyai strategic deterrence.
Kedua kapal selam memiliki sea denial capabilities, kalau kita punya kapal selam yang banyak, kita mampu mengendalikan laut yang kita miliki.”
Di awal Iwan menjelaskan bahwa saat ini Indonesia memiliki empat kapal selam dengan tantangan usia dan design maturity. Secara teknis,Iwan menegaskan bahwa kapal selam memerlukan konsep operational availability,maintenance cycle,dan crew rotation yang matang, sehingga tidak mudah mengawal kesiap-siagaan kapal selam untuk bisa menjalankan operasi berkelanjutan, regenerasi personilnya.
Tantangan teknologi saat ini, seperti drone bawah laut (UUV) dan AI, menurutnya menuntut kesiapan personil dan kapal selam yang sangat tinggi.
Terkait kapal selam yang dimiliki Indonesia,Yono Reksoprodjo dalam diskusi ini menyatakan,dalam membangun rencana operasi kita perlu tahu ancaman yang dihadapi seperti apa,apa yang harus dimiliki dan disiapkan,dan bagaimana mengoperasikannya.
Indonesia memiliki ancaman geografis yang natural,seperti choke point dan ALKI,sehingga harus memiliki fasilitas seperti kapal selam. Kita punya beberapa kapal selam yang memang perlu diperbaharui,sehingga TNI AL memerlukan perencanaan transisi dan readiness dari teknologi.
Ia juga menekankan bahwa kecuali unit kecil, kapal selam besar sering dikategorikan sebagai prototype, sehingga kemampuan engineering, manufacturing, dan MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul)nya sangat krusial.
Selanjutnya, Alman Helvas Ali menyatakan, kita menghadapi tantangan sejak lama berupa jumlah kapal selam yang terbatas sementara wilayah laut yang harus diamankan sangat luas.
Tantangan kita dalam bagaimana membangun kekuatan kapal selam saat ini dan kedepan. Semua harus dituntaskan oleh Kementerian Pertahanan.
Alman menganalisis tantangan pengadaan kapal selam sejak tahun 1980-an hingga saat ini dan menekankan,”Tanpa ada kebijakan keberpihakan pengadaan kapal selam dari Kementerian Pertahanan,sulit kita mengharapkan angkatan laut bisa meningkatkan kemampuan peperangan kapal selam”
Alman menyoroti pentingnya merespon dinamika lingkungan strategis di mana perairan Indonesia,khususnya ALKI 2,menjadi lintasan kapal selam negara besar. Alman mengusulkan pengadaan kapal selam baru U212 NFS dari Fincantieri, karena mereka bisa menyediakan cepat.
Iwan Isnurwanto memberikan beberapa pandangan strategis mengenai urgensi pengadaan kapal selam baru bagi Indonesia dalam diskusi tersebut, seiring dengan perkembangan lingkungan strategis Indonesia, ancaman dan perkembangan teknologi.
Intinya Iwan berharap Indonesia membangun kekuatan dengan fokus pada satu platform yang dikuasai secara penuh, sehingga di masa depan Indonesia bisa benar-benar mandiri dalam peperangan kapal selam dan mendukung pengamanan perairan Indonesia.
Sementara Yono Reksoprodjo selain menekankan bahwa pemerintah harus memiliki roadmap teknologi pertahanan yang jelas agar industri dalam negeri bisa mengikuti dan terarah, ia juga meminta pemerintah memperhatikan kesiapan Sumber Daya Manusia.
Terkait kebutuhan kapal selam, beliau menyoroti pentingnya pelatihan yang memadai agar kualitas sumber daya manusia meningkat,karena nilai strategis kapal selam sangat bergantung pada operatornya.
Bagi Yono, ekosistem industri jaul lebih penting, bukan sekadar membangun pabrik, sebab membangun kemandirian berarti membangun ekosistem industri yang melibatkan pemasok komponen (tier 1, 2, dan 3), bukan hanya sekadar pabrik perakitan akhir.
Terkait strategi Offset,Yono menjelaskan bahwa saat membeli kapal selam,Indonesia tetap bisa mendapatkan manfaat melalui offset baik direct (pelibatan langsung dalam proyek) maupun indirect (seperti pengadaan simulator atau laboratorium) untuk mendukung kemandirian teknologi.
Di sisi lain Yono mengkritik adanya jeda waktu yang terlalu lama antara kontrak pengadaan alutsista, yang dapat menyebabkan hilangnya skill atau pengetahuan yang telah diperoleh tim sebelumnya.
Diskusi ini menjelaskan bahwa Indonesia saat ini mengoperasikan 4 unit kapal selam (1 unit Tipe 209 KRI Cakra 401 dan 3 unit DSME 209 Nagapasa-class).
Tantangan utama dari kapal-kapal ini mencakup kelelahan material usia tua (Cakra-class) serta design maturity & isu teknis (Nagapasa-class), yang berdampak langsung pada siklus kesiapan operasi (operational availability, maintenance cycle, dan rotasi awak).
Diskusi ini juga menegaskan bahwa pengadaan kapal selam mendesak dilakukan akibat eskalasi rivalitas kekuatan maritim global di kawasan, status perairan ALKI I, II, dan III yang menjadi jalur perlintasan selam internasional, serta percepatan modernisasi armada bawah air negara tetangga (Singapura dengan Type 218SG, Vietnam dengan Kilo-class, dan rencana kapal selam bertenaga nuklir Australia melalui AUKUS).
Mengingat pembangunan kapal selam Scorpène Evolved Full Li-ion di PT PAL diperkirakan baru operasional pada 2031-2032 (siklus bangun galangan normal 5-6 tahun), dalam diskusi ini disepakati perlunya pengadaan kapal selam baru sebagai jembatan (stopgap) dalam kurun 1–2 tahun, salah satunya tawaran Fincantieri U212 NFS, dengan syarat unit baru dan menyertakan paket offset alih teknologi penuh.
Alih teknologi kapal selam tidak boleh berhenti pada tahap assembling (merakit potongan lambung).Fokus utama KKIP dan inhan nasional ke depan adalah penguasaan desain dasar/filosofi desain, integrasi sistem tempur (Combat Management System/CMS),riset material lambung baja khusus (HY-80/HY-100) dan anti-korosi/radar-acoustic coating,serta pembentukan ekosistem tier 1, tier 2, tier 3 untuk suku cadang dan pemeliharaan (MRO) mandiri.
Para narasumber menekankan pentingnya disiplin konsistensi armada guna mencegah malapetaka logistik, pembengkakan biaya pemeliharaan, serta komplikasi rotasi dan standarisasi pelatihan awak kapal selam.
Diskusi ini menyimpulkan bahwa kolaborasi strategis dengan Fincantieri tidak hanya sekadar transaksi pengadaan alutsista, melainkan langkah terukur untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan maritim yang disegani di kawasan.
Kapal selam U212 NFS (Near Future Submarine) merupakan evolusi mutakhir dari kelas U212A yang dirancang oleh Fincantieri dengan berbagai keunggulan teknologi untuk kebutuhan peperangan bawah air modern.
Sistem AIP (Air-Independent Propulsion)nya misalnya,membuat kapal ini mampu menyelam dan beroperasi secara senyap dalam waktu yang lebih lama tanpa perlu sering muncul ke permukaan (snorkeling), sehingga meningkatkan kemampuan stealth atau daya silumannya.
Kapal ini juga dirancang untuk mengintegrasikan sistem manajemen tempur (combat management system) yang canggih, serta dukungan untuk persenjataan modern seperti rudal jelajah jarak jauh (long-range cruise missiles).
Sebagai kontraktor utama, Fincantieri memastikan kedaulatan desain dan integrasi sistem yang memungkinkan kapal untuk terus diperbarui sesuai dengan kebutuhan strategis di masa depan.
Jakarta, 6 Oktober 202